Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Makin Dewasa


Nara belum bisa memejamkan matanya, setelah olaraga ranjang yang dilakukan bersama Reka. Membuka ponselnya membaca beberapa pesan masuk.


Reka sudah terlelap dengan berbaring menghadap Nara, bahkan salah satu tangannya berada di atas perut Nara.


Nara mengernyitkan dahinya membaca pesan dari Rika. "Rika kenapa ya, kok tanya kapan aku pulang," ujar Nara lalu menoleh ke arah suaminya. "Reka," panggil Nara sambil menggoyangkan lengan yang masih berada di atas perutnya.


Reka bergeming, "Reka," panggilnya lagi.


"Hm." Reka malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Reka, Rika kenapa?"


"Hm," jawab Reka.


"Ini Rika tanya kapan aku pulang, emang ada apa sih," tanya Nara penasaran.


"Tidur Ra, atau aku tiduri," sahut Reka dengan mata masih terpejam.


"Tapi ...."


Reka berdecak lalu mengerjapkan matanya. "Kamu sedang hamil, jangan sampai kurang tidur," nasihat Reka.


"Kamu sih ganggu aja, udah jelas tadi ngantuk malah dikerjain. Jadi seger lagi, hilang ngantuknya."


"Ya udah kita ehem ehem lagi ya," ajak Reka dengan penuh semangat. Padahal tadi dia sudah lelap tapi melihat dan mendengar Nara yang masih terjaga mau tidak mau dia pun terpaksa ikut terjaga.


“Ish, Rika kenapa?” Nara mengulang pertanyaannya.


Reka mendengus, “Bingung sama skripsinya, banyak revisian dia nggak paham. Pengen ikut wisuda bareng aku, padahal udah aku bilang nggak usah lanjut suruh urus anak sama suaminya aja. Nggak mau dia,” tutur Reka.


“Kamu kenapa nggak bantu, kalian ‘kan kembar masa nggak kasihan dia sedang kesusahan begitu.”


“Nanti kalau udah di Jakarta,” sahut Reka.


“Yang kamu bilang Rika nangis itu karena masalah ini?”


...***...


Sudah seminggu berlalu, Nara menemani Reka di Jogja. Dia pun harus segera kembali ke Jakarta karena masa cutinya yang sudah habis. Sedangkan Reka masih tetap stay karena tinggal dua minggu lagi dia akan pulang ke Jakarta untuk kembali belajar memimpin perusahaan bersama Papihnya.


“Ini sudah semua ya?” tanya Reka menyeret koper Nara dan satu buah tas.  Nara hanya diam berjalan mengekor Reka dengan wajah tidak bersahabat.


“Jangan cemberut begitu dong, aku jadi nggak semangat nih.”


Nara membayangkan dua minggu kedepan dia akan terpisah lagi dengan Reka. “Kamu kenapa nggak pulang bareng aku aja?” tanya Nara saat mereka sudah berada di mobil menuju bandara.


Reka sudah menghidupkan mesin mobil tapi belum melaju, “Sabar ya sayang, dua minggu lagi demi masa depan kita. Kalau aku memaksa pulang, khawatir Papih kecewa. Padahal aku juga belum ada basic yang kuat masalah perusahaan.” Reka menjelaskan sambil mengusap puncak kepala Nara yang hanya direspon dengan anggukan kepala.


“Ingat, jangan aneh-aneh kamu. Apalagi sama si Selly yang hmpp...."


Reka memilih membungkam mulut Nara dengan bibirnya dari pada menjelaskan dan mengatakan jika dia benar-benar tidak tergoda dengan Selly.


"Jangan bikin aku ajak kamu balik ke kamar. Kamu tau sendiri kalau kamu ngambek bikin aku makin bergair*h," ujar Reka sambil tersenyum.


"Aku serius, perasaan aku nggak enak ninggalin kamu," tutur Nara dengan nada khawatir.


Reka meraih telapak tangan Nara dan mencium punggung tangan yang tersemat cincin pernikahan mereka dijari manis Nara.


"Sayang, kita sama-sama berdoa agar selalu terjaga. Aku lebih khawatir dengan kondisi kamu. Meskipun ada Leo yang memastikan keselamatan dan keamanan kamu tapi tidak bisa berada di samping kamu itu lebih menyiksa," ungkap Reka.


Nara tertawa dan menjawil pipi Reka. "Suaminya siapa sih, makin dewasa aja."


\=\=\=\=\=


Hmm, ada apa gerangan. Kenapa Nara berat meninggalkan Rika. 🤔