Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Bab 10


Mama Liana sedang memikirkan suatu rencana yang bisa membuat Alisha merasa menderita. Setelah gagal ‘menghajar’ menantunya saat kembali dari bulan madu karena terhalang keberadaan Bian, kali ini ibu tunggal itu akan mencoba memisahkan mereka terlebih dahulu.


Jika Bian terus bersama Alisha, dia akan membela istrinya dan bisa jadi boomerang untuk Liana sendiri. Pikirnya ia harus bermain lebih santai dan cantik kali ini.


Untuk itu ia mencoba meminta bantuan Diandra kembali. Namun sebisa mungkin keterlibatan Diandra harus disembunyikan dari Bian, karena dia sudah terlanjur emosi saat ditipu tempo hari. Mereka pun bertemu untuk membahas rencana awal dari pembalasan itu.


“Tante, aku pengen jadi istri Bian lho. Kenapa sih Tante ijinin mereka menikah?” tanya Diandra sewot.


“Kamu kira Tante mengijinkannya karena mau? Tante hanya nggak mau Bian melepas posisinya dari keluarga Herdianto”


Diandra mulai berpikir tentang hal itu juga. Jika Bian mengurungkan niatnya untuk menjadi pewaris keluarga Herdianto, ia akan menjadi orang biasa yang tidak menarik. Tentu saja Diandra tidak mau hal itu terjadi, karena dia mengincar posisi sebagai istri Bian agar bisa menikmati hartanya yang melimpah.


“Terus gimana dong, Tante? Aku dah eneg banget liat si Alisha yang sok nyonya itu” gerutu Diandra.


“Sama! Tante juga gedeg banget sama anak itu, gadis miskin aja sok-sok an ngelawan Tante” jawab Mama Liana geram.


“Ngelawan gimana, Tan?”


“Kemarin pas mereka ke Bali, bisa-bisanya di nyuekin pesan Tante” kata Mama Liana.


Diandra mulai mempertanyakan soal background keluarga Alisha beserta data dirinya. Ia mengatakan akan mudah melakukan rencananya jika mengetahui kelemahan Alisha. Dan wanita paruh baya itu pun langsung mengirim semua informasi yang telah ia kumpulkan sebelumnya melalui surat elektronik.


Setelah membaca semuanya, ekspresi wajah Diandra langsung berubah licik. Akhirnya ia menemukan cara untuk memisahkan Bian dari Alisha. Ia juga yakin bisa menghancurkan hidup Alisha hanya dengan membaca datanya sekilas.


“Tante, sepertinya aku tahu rencana pertama kita” ucap Diandra penuh percaya diri.


Mama Liana tersenyum dan langsung tertawa keras setelah mendengar rencana yang Diandra sebutkan.


“Bagus sekali, sayang. Biar tau rasa si ****** itu” katanya sembari tertawa kembali.


Sementara kedua wanita itu tengah menyusun rencana mereka, Bian telah kembali bekerja di kantornya. Bian mulai memeriksa seluruh persiapan mega proyek yang ia pegang dan bekerja sama dengan perusahaan milik keluarga Diandra. Dia memang kecewa dengan mamanya dan Diandra, tapi Bian adalah lelaki yang bertanggung jawab dan bisa memisahkan antara urusan pribadi dengan urusan pekerjaan.


Bian meminta David mengirimkan semua berkas yang harus ia teliti ulang. Mega proyek ini adalah awal dari rencana merger kedua perusahaan itu. Perusahaan milik Bian memang sangat besar, namun dalam perjalanannya menuju perusahaan global, ia membutuhkan bantuan dari perusahaan milik keluarga Diandra. Tapi bukan berarti dia akan bangkrut jika tidak berhasil mewujudkan rencana merger atau penggabungan kedua perusahaan itu.


Sayangnya, hal itu justru dijadikan senjata oleh Diandra. Ia mencari tahu apakah ada celah bagi dirinya untuk menjadikan ini sebagai kelemahan Bian. Dan beruntungnya, ia menemukan celah itu. Ia melihat satu titik lemah dalam surat perjanjian atau MOU kedua perusahaan itu.


“Aha, kena kamu Bian!” ucapnya sambil tersenyum nakal.


“Kupastikan kali ini kamu nggak bisa menolakku lagi”


Alisha juga kembali mengurus usahanya yang telah lama libur semenjak ia menikah. Meski ia telah menjadi seorang nyonya, tidak serta merta membuat Alisha menggulung usahanya dan menengadahkan tangannya pada sang suami.


Mungkin karena dia sudah semakin dewasa, ditambah menjadi tulang punggung keluarganya, Alisha menjadi orang yang berbeda.


Dia memang bersikap lembut dan manis manja saat bersama Bian, tapi begitu berada di dapurnya, Alisha menjadi sangat tegas dan keras.


Hari itu dia mendapatkan satu pesanan katering nasi tumpeng dan kue untuk sebuah acara peresmian sebuah kantor cabang baru. Alisha sangat antusias karena ini adalah jalan barunya untuk masuk ke kantor-kantor. Setelah sepi pelanggan dan bangkrut, Alisha mencoba bangkit dan mencari pelanggan baru. Pertemuannya dengan Bian saat itu adalah salah satu hasil yang ia dapatkan untuk menghidupkan lagi usahanya.


Pesanan dari kantor baru ini sebenarnya cukup mendadak, hanya ada waktu sekitar empat jam saja untuk persiapan dan memasaknya. Namun karena sayang melepas kesempatan itu, akhirnya ia tetap menerimanya.


Alisha mulai belanja dan memasaknya sendiri bersama sang ibu dan sahabatnya, Nadia. Syukurnya mereka bisa menyelesaikan pesanan itu tepat waktu dan segera mengantarnya ke tempat tujuan.


Begitu sampai di kantor yang dituju, Alisha melihat sudah banyak karyawan yang berkumpul dan menunggu acara dimulai. Ia langsung berjalan membawa tumpeng sementara Nadia membawa nampan berisi kue-kue tradisional.


Dan betapa terkejutnya Alisha saat melihat seseorang yang ia kenal berdiri di depannya. Alisha melihat ibu mertuanya di tempat itu, sedang berdiri dan berbincang dengan anggun bersama seseorang yang terlihat seperti pimpinan kantor tersebut.


Ia berusaha menghindari mertuanya, tapi ia malah tertangkap olehya. Dia melambaikan tangan pada Alisha, disertai dengan senyumnya yang sama sekali tidak ramah.


Sudah dipastikan oleh Alisha bahwa ini akan jadi ‘sesuatu’. Dan benar, mama mertuanya meminta Alisha untuk mendekat. Ia mengenalkan Alisha pada pimpinan kantor itu sebagai menantunya.


Ia cukup terkejut melihat ibunda suaminya itu berani melakukan hal itu, karena dia di sana sedang bekerja sebagai penjual makanan, bukan sebagai Nyonya Bian.


Namun ternyata dugaannya salah. Ia mengira mertuanya bisa mengakuinya di depan partner bisnisnya meski hanya terpaksa. Ternyata ia memiliki maksud lain dari perkenalan itu.


Mama Liana mengatakan pada seluruh karyawan dan semua orang yang ada di sana, bahwa usahanya ini telah bangkrut dan telah diselamatkan oleh Bian dengan menikahinya.


“Jadi begitulah, menantu saya ini membuka usahanya atas bantuan dari anak saya. Tapi karena masih kecil-kecilan, jadi harap maklum kalau rasa dan penampilannya kurang memuaskan. Dia masih belajar” jelasnya.


Alisha merasa mamanya sedang berusaha mempermalukan dirinya di depan banyak orang. Apa karena dia merasa malu punya menantu yang bekerja seperti ini? Alisha menjadi overthinking saat itu. Ditambah melihat reaksi dan respon dari orang-orang yang ada di sana yang saling melempar tawa dan canda, Alisha menjadi semakin tertekan.


Akhirnya dia memilih diam dan memasang senyumnya yang dipaksakan. Ia ingin sesegera mungkin mendapat pembayaran dan meninggalkan tempat itu. NAmun mertuanya malah memegang tangannya dan berbisik di telinganya.


“Kamu siap-siap, sebentar lagi akan ada kejutan buat kamu”


Alisha membelalak dan menelan ludahnya. Kejutan apa lagi yang wanita ini siapkan untuknya. Hal apa lagi yang akan dia lakukan untuk mempermalukan dirinya. Saat itu, detik itu, untuk pertama kalinya, Alisha mulai merasa muak dengan sikap ibu mertuanya.