
Satu jam lamanya Berlian mengobrol dengan Mama Liana. Bian sampai harus menegur mereka agar segera mengakhiri percakapan itu dan memulai meeting mereka. Dan sesuai dugaan Bian, sang ibu langsung memberinya ‘serangan’ pertama. Saat Berlian berjalan di depannya, Mama Liana membisikkan sesuatu yang membuat Bian mulai merasa malas meladeninya.
“Bi, cari istri tuh kayak Berlian. Masih muda, udah sukses, cantik. Dia itu paket lengkap” kata Mama Liana.
“Udahlah, Ma. Jangan mulai lagi! Aku mau meeting” jawab Bian dengan nada kesal.
Mama Liana hanya mencibir sikap Bian yang menurutnya susah diatur. Dia bahkan melarang sang mama mengikuti rapat bersama dengan Berlian.
Bian sudah hafal dengan sikap mamanya. Ia tak pernah bisa menghargai keputusan Bian menikahi Alisha. Hatinya sudah terlalu keras sampai kehadiran anak diantara mereka juga tidak berhasil meluluhkan hati sang mama.
Tidak beda dengan sikap Berlian. Gadis yang sepantaran dengan Bian itu mulai menunjukkan ketertarikannya pada pria beristri yang menurutnya sangat masuk tipe idealnya. Ditambah di awal pertemuan mereka, Bian juga terlihat memberi lampu hijau pada kedekatan mereka. Apalagi Bian juga belum pernah mengatakan bahwa dirinya sudah beristri. Berlian pun juga tidak pernah bertanya, karena tidak mungkin ada pria beristri yang akan sedekat itu dengan wanita lain sekalipun dia adalah investor di perusahaannya.
Setelah meeting berakhir, Bian pun langsung merapihkan mejanya dan bersiap meninggalkan kantor untuk menuju ke jadwal pertemuan berikutnya. Tapi ia justru dicegat oleh Berlian yang sudah menunggunya di depan ruang meeting.
“Mas Bian!” sapa Berlian.
Mendengar Berlian memanggilnya seperti itu, Bian mulai merasa tak nyaman. Ia sampai memeriksa sekeliling dengan menolehkan kepalanya, seakan takut orang lain mendengar dan salah paham dengan panggilan tersebut.
“Ibu Berlian, kita masih di kantor!” kata Bian mengingatkan.
Berlian memasang wajah sedikit protes namun ia susul dengan wajah tersenyumnya. Berlian malah semakin gemas dan mengagumi sikap tegas Bian yang bisa memisahkan urusan pribadi dengan bisnis. Ia pun langsung meminta maaf dan meninggalkan Bian yang juga mulai acuh padanya.
“Berlian!” panggil Mama Liana.
Berlian langsung menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Begitu mengetahui bahwa ibu dari pria idamannya memanggil dirinya, Berlian langsung sigap menghampiri Mama Liana.
“Iya, Tante.”
“Kamu udah makan? Kalau belum, yuk makan sama Tante!” ajak Mama Liana dengan antusias.
“Oh, boleh Tante? Kebetulan saya belum makan” jawab Berlian.
Basa-basi yang mereka ucapkan sama-sama mengandung satu tujuan, Bian. Tentu saja Berlian menganggap kesempatan ini adalah hal yang harus ia manfaatkan. Sementara Mama Liana juga menggunakan Berlian sebagai jalan untuk menyingkirkan Alisha dari dalam kehidupan keluarga Herdianto.
Mereka memilih makan siang di kantin perusahaan agar menghemat waktu. Namun ada niat lain dibalik itu. Mama Liana menelepon Alisha dengan alasan untuk menemaninya makan siang di kantor. Ia juga menelepon Bian dan mengatakan bahwa Alisha akan makan bersamanya. Mama Liana berniat mempertemukan Alisha, Bian, dan juga Berlian.
Sesuai dugaannya, Bian dan Alisha bersedia menemui Mama Liana. Orang yang lebih dulu sampai adalah Alisha. Dia pun tidak sempat mengabari Bian bahwa dia berada di kantor saat itu. Setelah melihat ibu mertuanya bersama seorang wanita muda, Alisha bisa merasakan ada rencana baru yang tengah disiapkan ibu mertuanya. Tapi ia sudah bisa menahan diri dengan tersenyum dan menyapa sang mama.
“Ma!” sapa Alisha.
“Oh ya, kenalin ini Berlian, partner baru Bian. Berlian, ini Alisha..” ucapan Mama Liana terhenti sejenak.
“Saya istri Mas Bian” sahut Alisha.
Meski pandangan Alisha berada di arah Berlian, namun ia tahu mama mertuanya sedang menahan amarah karena dia menyerobot ucapannya. Berlian lah yang paling terkejut dari semua itu. Dia tak pernah membayangkan kalau Bian sudah menikah, apalagi istrinya kini tengah hamil. Raut wajahnya mulai berubah menjadi lesu. Ia merasa sudah kehilangan kesempatannya untuk mendapatkan Bian.
Namun kekesalan Bian melebihi kekesalan Berlian. Saat dia memasuki kantin kantor, dan melihat mamanya tengah duduk bersama Berlian dan juga Alisha, Bian otomatis tak bisa menyembunyikan emosinya yang mulai tersulut.
“Ma, apa-apaan ini?” tanya Bian dengan nada kesal.
“Ada apa memangnya? Mama cuma ngajak kalian makan siang kok!” jawab Mama Liana santai.
Bian membuka mulut ingin membalas ucapan sang mama, tapi Alisha langsung memegang dan menarik tangan Bian untuk duduk di sampingnya. Alisha pun menatap ke arah sang suami sambil menggelengkan kepalanya. Lalu ia mengetik sesuatu di ponselnya.
“Kita ikuti aja permainan Mama!”
Alisha mengirimkan pesan tersebut ke nomor Bian yang langsung dibaca oleh suaminya.
“Awas cemburu allert!”
Balasan Bian membuat mereka tersenyum-senyum sendiri hingga mendapat sindiran dari Mama Liana.
Berlian yang sedari tadi melihat aksi mesra dari pasangan suami istri itu, mulai memasang wajah pura-puranya. Dengan lantang dan yakin, Berlian mengucapkan selamat pada Bian dan Alisha atas kehamilan pertama Alisha.
“Selamat ya, Pak Bian! Semoga nanti persalinannya lancar” kata Berlian.
“Terimakasih” jawab Bian pendek.
“Oya, Berlian! Apa kamu udah punya pasangan?” tanya Mama Liana tiba-tiba.
Semua orang selain Mama Liana terdiam mendengar pertanyaan itu, terlebih Bian dan Alisha yang sudah tahu kemana arah pembicaraan itu.
“Belum, Tante” jawab Berlian dengan diiringi tawanya yang terdengar santai.
“Sayangnya Bian udah nikah ya, kalau belum Tante pasti jodohin kamu sama Bian.”
Setelah sang mama mengatakan hal konyol seperti itu, Bian lagi-lagi tak bisa mengontrol emosinya. Bahkan dia hampir berdiri dan menggebrak meja andai Alisha tak menghentikannya lagi.
Karena reaksi Bian terlihat tak suka, Berlian mengakhiri percakapan itu dengan tawa dan segera berpamitan.
“Maaf, Tante! Sepertinya saya harus pergi sekarang. Ada janji dengan teman saya” kata Berlian.
“Begitukah? Baiklah, kapan-kapan kita makan siang bareng lagi ya” jawab Mama Liana.
Berlian juga menyapa Bian dan Alisha sebelum meninggalkan tempat itu. Dalam hati ia mengutuk Alisha yang mengumbar aksi mesra di depannya. Ia merasa jauh lebih segalanya dibandingkan Alisha. Muncul sebuah perasaan tersaingi yang semakin membuatnya ingin memiliki Bian.
“Lihat saja! Aku akan merebut Bian dari kamu, Alisha.”
Sementara itu, Bian mulai berani mempertanyakan sikap dan perlakuan mamanya pada Alisha.
“Kenapa sih, Ma? Apa mama nggak kapok sama kasus Diandra?” protes Bian.
“Apa maksudmu? Mama cuma bilang andai, kok kamu malah marahin mama?” balas Mama Liana.
“Lagian istrimu diam aja kok!” lanjutnya lagi.
Bian kehabisan kata-kata. Ia berada pada puncak kesabarannya yang mulai tipis seperti kertas tisu. Tanpa berlama-lama, dia mengajak Alisha meninggalkan tempat itu sebelum ia merasa semakin stres dan frustasi.
Akan tetapi, baru saja mereka berjalan dua langkah, Mama Liana mengatakan sesuatu yang membuat mereka berdua berhenti.
“Kalian harus pulang! Ajak Alisha tinggal di rumah mama!” kata Mama Liana sambil mengiris daging steak dan menyuapnya dengan anggun.
Alisha dan Bian tidak menjawab dan langsung meninggalkan Mama Liana yang kini sendirian. Setibanya mereka di ruangan Bian, Alisha tiba-tiba memeluk Bian.
“Kenapa? Kamu sakit?” tanya Bian yang merasa aneh dengan sikap istrinya yang tiba-tiba memeluknya.
“Aku tahu mungkin ini aneh, tapi gimana kalau kita pulang ke rumah kamu?” tanya Alisha.
Bian langsung mendorong tubuh Alisha agar dia bisa memandangnya. Lagi-lagi istrinya bersikap aneh.
“Kamu kenapa sih, yang? Kok tiba-tiba bilang gitu?” tanya Bian.
Alisha mengatakan bahwa dirinya mungkin akan lebih terjaga jika tinggal di rumah keluarga Bian. Ada banyak orang di sana, setidaknya ada ART yang bisa membantunya. Alisha tahu Bian akan melarangnya karena sikap mamanya masih belum berubah, tapi Alisha langsung meyakinkan suaminya bahwa dia akan baik-baik saja. Siapa tahu dengan keberadaannya di sana hingga anak mereka lahir, hati Mama Liana bisa luluh.
“Kan ada kamu juga yang bisa mantau, Mas” ucap Alisha.
“Tapi, yang..”
Alisha mengecup pipi Bian hingga berjinjit. Dia berusaha meluluhkan hati sang suami yang masih meragukan mamanya. Sebenarnya Alisha pun masih takut dan ragu, tapi ia ingin mencoba. Ia juga memiliki niat lain, yaitu mencari tahu kebenaran mengenai ucapan terakhir Diandra yang mengatakan bahwa mamanya adalah dalang dari ppenculikannya. Alisha juga ingin melindungi Bian dari rencana sang mama yang ingin mendekatkan anaknya dengan Berlian. Seperti kata pepatah, akan lebih mudah menghancurkan musuh jika kita mengawasinya dari dekat.