
Hari kedua Alisha hidup sebagai Nyonya Bian, ia masih kesulitan menyesuaikan dirinya dengan keadaan rumah Bian yang seperti istana. Tsabina sudah mengatakan padanya bahwa dirinya tak perlu melakukan pekerjaan rumah apapun karena semua sudah dikerjakan oleh asisten rumah tangga.
Mendengar hal sekonyol itu tentu saja Alisha menanggapinya dengan candaan. Tentu saja dia tidak bisa diam saja ketika dia sudah menjadi seorang menantu di rumah itu. Entah apapun itu, dia harus melakukan sesuatu agar tidak menimbulkan rumor yang membuatnya dalam posisi yang sulit.
“Apa maksudmu? Tentu saja aku harus tetap mengerjakan pekerjaan rumah” jawab Alisha pada Bina.
“Hmm, kak Bian benar-benar dapet istri yang pas” kata Tsabina sambil memeluk kakak iparnya.
Tidak butuh waktu lama untuk mereka bercanda dan tertawa, sebab begitu ibu mertuanya muncul dari kamarnya, Alisha langsung terdiam. Dia menyapanya dengan sopan dan halus tapi ibu mertuanya malah membalasnya dengan pandangan tajam dan mengabaikannya.
Ia pun menawari ibu mertuanya untuk dibuatkan sarapan, tapi dia malah berteriak pada salah satu asisten rumah tangganya yang bertugas memasak hidangan sarapan.
“Hei kamu! Kenapa meja masih kosong, apa kalian masih tidur?”
Alisha kembali diabaikan. Ia mencoba menahannya dan tetap melayani ibu mertuanya dengan baik. Syukurnya sang ibu mertua tetap diam setelahnya.
Namun begitu ia selesai melahap semua sarapannya, ia kembali berteriak pada asisten rumah tangganya yang lain. Ia meminta mereka menyiapkan beberapa menu makanan untuk tamunya nanti.
Alisha menawarkan diri untuk membantu menyiapkan makanan itu, tapi sang ibu mertua memintanya agar dia tidak mencampuri tugas yang ia berikan pada asisten rumah tangganya.
“Kamu nggak usah ikut-ikutan! kamu diam aja dan nikmati peran barumu sebagai Nyonya Bian..” serunya.
“Katanya kamu ini menantu, kenapa sok ikut urusan dapur? Apa kamu mau mempermalukan keluarga ini? Punya menantu seperti asisten rumah tangga?” lanjutnya sambil teriak.
Alisha sedikit terkejut mendengar ucapan ibu mertuanya, terlebih ia mengucapkannya di depan seluruh staf dapur. Tapi Alisha tetap bersikap sopan dan meminta ijin untuk meninggalkan dapur karena harus bersiap mengemas barang-barangnya.
Bian dan Alisha akan berangkat untuk honeymoon ke Bali. Sebenarnya Bian mengajaknya ke luar negeri, tapi Alisha menolak. Ia masih menjaga situasi yang belum bersahabat dengannya.
Sebenarnya tidak hanya mama mertuanya yang terlihat menolak dirinya. Ada sepupu jauh dan beberapa keluarga lainnya yang tampaknya belum bisa menerima keberadaan dirinya.
Untungnya Bian dengan senang hati menerima pendapatnya. mereka berencana berangkat sore ini dan pergi selama tiga hari dua malam. Alisha tidak bisa meninggalkan pekerjaannya lebih dari itu karena ada beberapa pekerjaan yang harus dia lakukan.
“Sayang, kok kamu sudah selesai packing?” tanya Bian pada istrinya.
“Kenapa, sayang? Emang dikit barang-barangku, jadi ya cepet deh” jawab Alisha.
Bian hanya mengangguk dengan bibirnya yang membentuk huruf O. Dia mengambil cuti selama satu minggu untuk berbulan madu. Dia ingin melakukan banyak hal berdua bersama istrinya mendengar omelan mamanya.
Ketika mereka turun untuk membeli sesuatu, Mama Liana memanggil Bian dan memintanya mendekat. Ternyata Diandra sudah duduk bersama mamanya. Meski Bian dan Alisha sudah menyelesaikan perdebatan manis mereka mengenai mantan, tapi Bian tetap menjaga perasaan istrinya dengan meminta ijinnya terlebih dahulu.
“Boleh, Yang?” tanya Bian.
Alisha yang sudah mengerti maksud Bian pun mengangguk setuju. Sebab mereka memang tahu arah dari sikap mamanya yang seperti ini.
“Bian, kamu udah lama nggak ketemu Diandra, kan?” celetuk mamanya.
“Baru kemarin ketemu di nikahan” jawab Bian datar.
Sementara itu ketika Alisha hendak melipir keluar, ia malah dipanggil mama mertuanya.
“Iya, Ma” jawabnya sambil mendekati mertuanya.
“Kenalin, dia Diandra. Dia mantan pacar Bian”
Alisha tetap menyambut tangan Diandra meski dia sudah tahu bahwa dia adalah mantan pacar suaminya.
“Hai, saya Alisha” ucapnya.
Diandra hanya membalasnya dengan senyum. Setelah penyambutan itu, Alisha kembali diabaikan. Bahkan dia berdiri di sebelah tempat duduk mereka dan tidak ada yang mengajaknya bicara. Bian yang memahaminya, langsung berdiri dan mengajak istrinya keluar. Namun baru saja ia berjalan dua langkah, ibunya meneriakkan sesuatu yang membuat mereka langsung berhenti.
“Bi, besok kamu ada meeting dengan ayahnya Diandra. Kamu harus datang karena ini menyangkut perusahaan”
Bian langsung menoleh ke arah Diandra dan mamanya. Dengan tatapan tak percaya, Bian memprotesnya dengan keras.
“Ma, aku sudah mengajukan cuti selama seminggu untuk bulan madu. Kenapa Mama seperti ini?” teriaknya.
Perusahaan Bian memang akan melakukan kerjasama bisnis dengan perusahaan milik ayah Diandra. Dan nilai kontrak mereka pun juga tidak main-main, senilai satu trilyun rupiah. Tapi sepengetahuan Bian, pembicaraan tentang itu sudah hampir selesai dan tidak terlalu membutuhkan dirinya dalam waktu dekat.
Bian dan Alisha saling berpandangan. Sepertinya mereka tahu bahwa mamanya ingin merusak rencana bulan madu mereka, bahkan mungkin berniat menggagalkannya.
“Apa sebaiknya kamu pergi saja, Yang?” tanya Alisha.
“Trus bulan madu kita gimana?”
“Bisa kita tunda kan setelah pertemuan kamu selesai” jawab Alisha tersenyum.
Bian merasa tidak enak hati pada istrinya. Tetapi mengingat nilai kontrak itu juga sangat besar, dan bisa jadi kehadirannya memang diperlukan, ia menjadi galau.
“Hh..”
Bian menghela napasnya panjang.
***
Keputusan Alisha dan Bian menunda bulan madu mereka, mungkin akan mereka sesali, karena pertemuan yang dijadikan alasan oleh ibu mertuanya Alisha, ternyata hanya sebuah pengaturannya untuk mempertemukan Bian dengan Diandra, berdua.
“Kenapa kamu di sini? Dimana yang lain?” tanya Bian bingung.
“Mereka nggak akan datang, Bi. Ini rencana Mama Liana untuk bikin kita ketemu berdua saja” jawab Diandra.
“Hh, jadi begitu? Mending sekarang kamu pulang!” kata Bian tegas.
Bian beranjak dan melangkah pergi, namun Diandra menarik tangan Bian hingga dia terhuyung dan hampir terjungkal. Namun Bian dengan sigap menangkapnya dan posisi mereka menjadi seperti dua orang yang hampir berpelukan.
“Hati-hati!” kata Bian gentle.
“Kamu masih perhatian sama aku ya, Bi?” ucap Diandra sambil menggoda Bian.
Dan saat Bian melepaskan tubuh Diandra dengan membantunya berdiri, pada saat yang sama Bian melihat ke arah pintu dan dia melihat Alisha berdiri tertegun dengan berkas di tangannya.
Bian sedikit terkejut melihat istrinya tiba-tiba muncul di situ. Tetapi dengan segera ia meninggalkan Diandra yang juga melihat Alisha, dan segera menghampiri istrinya.
“Sayang, kamu kok di sini?” tanya Bian.
Alisha berusaha menyadarkan dirinya agar tidak membuat Bian merasa bersalah dan canggung.
“Mama minta aku antar ini” jawabnya sambil menyodorkan berkas-berkas.
Bian mengambil berkas itu dan memeriksanya. Semenit kemudian Bian terlihat emosi dan frustasi. Alisha bahkan tak berani bertanya apa yang terjadi padanya, kenapa dia emosi.
“Sayang, maafin aku ya..” ucap Bian.
“Kenapa, Yang?”
“Pertama, aku hanya membantu Diandra karena dia mau jatuh..”
“..kedua, Mama menyuruhmu mengantar ini dengan alasan ini penting, kan? Mama bohong. Aku pun di sini juga dibohongi” pungkasnya.
Alisha mencoba mendengarkan penjelasan sang suami. Sebenarnya tanpa dijelaskan olehnya, Alisha lebih dulu tahu soal Bian yang membantu Diandra karena dia akan terjatuh. Dan dia terharu karena Bian langsung mengonfirmasinya dengan jujur, bahkan meminta maaf padanya.
Mengenai masalah berkas, ia justru memasang senyum karena merasa konyol. Dia selalu melihat adegan ini di drama korea atau sinetron, ternyata dia mengalaminya sendiri.
“Kenapa kamu senyum?” tanya Bian heran.
“Nggak apa-apa sayang, aku tahu semuanya. Kamu nggak usah khawatir”
Melihat kemesraan suami istri itu, Diandra mendengus kesal. Rencananya menggagalkan bulan madu mereka hampir saja berhasil jika Bian bisa tergoda dengannya. Tapi mental laki-laki itu sungguh kuat. Rencana remeh seperti ini tidak akan mempan baginya. Diandra mulai memikirkan cara lain yang lebih keras dan kuat untuk mendapatkan hati Bian dan memisahkannya dengan Alisha.