
Terdengar deru mobil di halaman depan Villa, membuat Reka dan Nara saling pandang. Reka beranjak melihat siapa yang datang diikuti oleh Nara yang berjalan di belakangnya. Dua mobil beriringan masuk dan parkir tepat di sebelah mobil Nara. “Ngapain mereka pada kesini sih,” keluh Reka.
Reka dengan tangan dilipat di dada menatap mobil yang sudah terparkir sempurna dan menunggu para penumpangnya turun. Nara yang belum mengetahui siapa yang datang berada di belakang tubuh Reka.
“Haiii!” Rika yang turun dari salah satu mobil berteriak menyapa Reka dan Nara.
Reka menjawab dengan decakan. Eltan turun lalu memeriksa ban mobil yang entah kenapa. Elang yang baru saja turun menghampiri Eltan sambil mengecek ban yang dimaksud Eltan. Kayla bergegas menghampiri Reka, menyapa Nara dan duduk di salah satu kursi yang ada di beranda tidak jauh dari Reka berdiri. Nara pun ikut duduk dengan Kayla.
“Sebentar lagi mereka pasti berdebat,” ucap Kayla pada Nara menunjuk Reka dan Rika.
“Ngapain pada ke sini sih?” tanya Reka dengan raut wajah kesal.
“Hai Bu Nara,” sapa Rika mengabaikan pertanyaan Reka lalu duduk di samping Kayla.
“Hai.” Nara menjawab sambil menyunggingkan senyum di wajahnya. Nara gembira dengan kedatangan saudara dan ipar Reka. Elang masih berdiri tidak jauh dari mobilnya karena sedang merokok, begitu pun Eltan.
“Enggak usah jutek gitu ya. Kita diminta Bunda nyusul kalian ke sini,” tutur Rika.
“Masa sih, orang jelas-jelas aku bilang ke Bunda mau ajak Nara liburan. Kedatangan kamu malah mengganggu tau,” sahut Reka.
“Ish, Bu Nara ‘kan sedang hamil. Kalau kita nggak datang yang ada kamu kerjain dia terus. Tenang aja Bu, pokoknya ada kita Bu Nara aman dari ... eh Reka turunin aku,” teriak Rika karena Reka menggendong Rika ala bridal berniat menceburkan Rike ke kolam renang.
“Bang Eltan, tolong aku,” teriak Rika.
“Ka, turunin Rika,” ujar Eltan sambil mengejar Reka.
Nara hanya menggelengkan kepalanya melihat suami dan iparnya. “Gimana, kita ganggu liburan kamu dan Reka ya?” tanya Kayla.
“Owh, nggak kok. Aku malah senang, jadi makin ramai. Aku memang kemarin ajak Reka liburan sebenarnya hanya ingin menghindar dari Ibu yang minta aku cabut tuntutan untuk Reno,” jelas Nara. Kayla melihat raut kecewa pada wajah Nara.
Kayla menghela nafasnya, “Sepertinya Bunda minta Mas Elang kesini untuk bahas hal itu dengan Reka.”
Nara mengangguk. Terdengar Reka terbahak dan jeritan Rika. Tidak lama kemudian Reka kembali ke beranda sambil terkekeh. “Reka, kamu apain Rika? Nggak enak sama Bang Eltan,” ujar Kayla.
“Aku lempar ke kolam,” jawab Reka.
“Ya ampun Reka, kamu jahil banget sih.” Nara memukul lengan Reka yang duduk disampingnya.
“Ka, nanti malam kita barbeque. Minta si bibi belanja bahannya,” titah Elang.
“Iya ya, enak kayaknya. Boleh juga kalau ditambah minuman yang buat hangat,” seru Reka.
Kayla menyandarkan tubuhnya pada Elang yang baru saja duduk. “Jangan macam-macam kamu, cukup beli bahan barbeque. Jangan ada minuman yang aneh-aneh.”
“Sedikit mah bolehlah, boleh ya Ra?” ijin Reka pada Nara.
Nara menoleh pada Reka, “Maksudnya minuman keras ya?” Reka hanya tersenyum.
“Nggak usah Ka, ada hal yang mau kita bicarakan. Kalau kamu mabuk malah nggak bisa serius,” ujar Elang.
Eltan muncul dari dalam, berjalan menuju mobilnya dan mengeluarkan koper. “Aku pakai kamar di atas ya,” ucap Eltan sambil melewati Reka dan yang lain.
“Yang dekat tangga, kamar aku,” teriak Reka. “Keponakan aku dimana Kak?” tanya Reka pada Kayla.
“Sama Bunda, beliau yang suruh kita nyusul dan minta jangan bawa anak-anak.”
“Hmm, bisa aja. Emang dasar pada nggak mau diganggu bocah,” sahut Reka.
Menjelang malam, Reka juga penghuni villa lainnya sudah berada di halaman belakang tempat mereka mengadakan barbeque. Eltan dan Reka yang bertugas membakar menu barbeque, sedangkan Kayla dan Nara menyiapkan peralatan untuk makan. “Aku bagian mencicipi ya,” ujar Rika.
“Untuk Nara harus yang matang sempurna,” ucap Kayla.
“Ra, mau makan yang mana aja biar aku bakar sampai matang,” ujar Reka. Nara menunjuk yang ingin dia nikmati.
Ketiga pasangan suami istri itu sedang menikmati barbeque. Sesekali Reka menyuapkan makanannya pada Nara, Rika iri saat menyaksikan hal itu. “Bang El, aku juga mau disuapi dong,” rengek Rika.
“Rika, Nara sedang hamil. Kamu nggak iri juga?” tanya Kayla.
“Loh, iya mut, lihat Reka sayang banget sama Nara. Nggak mau gitu hamil lagi?” tanya Eltan.
“Nggak ada ya, Bang El nggak ngerasain perjuangan aku hamil dan melahirkan. Tau enak bikinnya doang,” ketus Rika.
“Kalau proses bikinnya ‘kan sama-sama enak mut,” sahut Eltan.
“Cocok emang, pasangan koplak,” ejek Reka sambil meletakan piring makan yang sudah kosong.
“Kita pindah ke dalam, biar ini dibersihkan si bibi. Lagian sudah mulai dingin udaranya,” ucap Kayla. “Dingin ya, mau dihangatkan nggak?” tanya Elang sambil mengerlingkan matanya pada Kayla.
“Tau ah, ayo Nara kita masuk. Nanti kamu masuk angin kelamaan di luar,” ajak Kayla.
“Kak, aku nggak diajak masuk. Nanti aku masuk angin kak,” canda Rika lalu mengekor Kayla dan Nara.
Nara, Kayla dan Rika bercengkrama di ruang keluarga. Elang mengajak Reka bicara di luar sambil merokok, Eltan sudah pasti ikut. Terdengar tawa dari para wanita di dalam. Reka sempat menoleh ke dalam karena pintu setengah terbuka.
“Jadi keputusan kalian apa?” tanya Elang.
Reka terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Elang. “Sepertinya Nara akan putuskan setelah kembali ke Jakarta. Tapi menurut aku, Nara tidak ingin ada masalah dengan keluarganya.”
“Jadi kalian akan cabut laporannya?”
“Kalau analisa aku tidak salah, sepertinya begitu. Nggak mungkin aku paksakan kehendak aku agar Reno dihukum."
“Kalian jangan kembali ke apartemen. Eltan, siapkan orang untuk mengawasi Reno dan Nara.”
“Oke,” jawab Eltan.
Reka menghela nafasnya, “Nggak habis pikir dengan Ibunya Nara. Bukannya khawatir dengan kondisi putrinya malah bersikukuh bahwa semua terjadi karena ulah Nara.”
“Eh, Bunda bilang saudara tirinya Nara mantan kamu ya?” tanya Eltan sambil tertawa.
“Seriusan Ka?” tanya Elang.
“Enak aja, nggak lah. Ngaku-ngaku, tapi dia bukan pacar aku,” sahut Reka. “Nggak mungkin juga aku pacari perempuan yang aku kenal di club. Begini-begini aku masih waraslah.” Reka membela dirinya karena tidak ingin keluarganya percaya jika Cindy adalah mantan kekasihnya.
“Kamu masih ke tempat begituan?” tanya Elang penasaran.
“Nggak, udah lama nggak pernah ke sana.”
“Ke sana kemana?” tanya Nara.
Reka menoleh, entah sejak kapan Nara berdiri di sampingnya.
“Mampus,” ujar Rika lalu menarik tangan Eltan agar ikut dengannya.
“Gue nggak ikutan.” Elang meninggalkan Reka sambil merangkul bahu Kayla. “Ayo kita masuk, kamu kedinginan ‘kan?”