
“Kamu tinggalin aku? Jadi, kita LDR?” Raut wajah Nara berubah, kedua matanya sudah mengembun. Reka meraih kedua tangan Nara dan menggenggamnya. “Bukan begitu sayang. Aku nggak ada niat tinggalkan kamu. Tapi permintaan Papih sulit untuk aku tolak,” jawab Reka.
Dalam hati Nara sebenarnya setuju dengan rencana Papih Kevin. Melibatkan Reka di perusahaan, membuat suaminya itu lebih peduli dan tanggung jawab. Karena dia melihat Reka yang sekarang masih santai menjalani hidup. Belum paham benar jika tanggung jawab Nara dan anak mereka nanti itu harus dipikirkan. Meskipun Reka berada di tengah keluarga yang cukup sukses, Nara ingin Reka bisa bertanggung jawab hasil keringatnya sendiri.
Tetapi emosi Nara bermain di sini. Belum apa-apa malah cengeng membayangkan akan ditinggal Reka. “Kamu kok nangis, Ra. Sumpah Ra, aku bukannya ingin ninggalin kamu. Apalagi kamu sedang hamil begini,” ujar Reka lalu meraih tubuh Nara dan merengkuhnya.
“Nggak tau, kenapa kali aku jadi cengeng begini. Sebenarnya logika aku nggak masalah kamu ikut Papih. Belajar bisnis atau meneruskan usaha keluarga, yang penting kamu sudah mulai memikirkan masa depan. Tapi ini nggak bisa dibendung, aku kesal dan ....” Nara terisak sampai tubuhnya bergetar.
Reka kembali merengkuh Nara dan mengusap punggungnya. “Aku pasti pulang. Walaupun kuliah aku sudah selesai tapi skripsi juga harus diberesin. Jadi jangan khawatir aku nggak pulang, sayang.”
Cukup lama Reka menenangkan Nara. Setelah Nara sudah selesai dengan tangisnya dia pun mengajak Nara pulang. Sepanjang perjalanan Nara menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata. Efek menangis membuat kepalanya pening.
Reka dan Nara memasuki kediaman Kevin. Meera yang melihat anak dan menantunya pulang segera menghampiri. “Nara, kamu kenapa sayang. Seperti habis nangis, Reka kamu apakan Nara?” tanya Meera sambil menatap tajam pada putranya.
“Bunda jangan salahkan aku. Nara menangis bukan karena kami bertengkar tapi karena dia sayang aku, tidak ingin terpisahkan,” sahut Reka.
“Maksudnya?”
“Nanti saja ceritanya. Ayo Ra.” Reka menggenggam tangan Nara dan mengajaknya ke kamar. “Reka, itu Bunda kenapa di ....”
“Halahhh, paling juga mau bahas hal yang tadi. yang ada kamu mellow lagi.” Reka membuka pintu kamarnya dan membiarkan Nara lebih dulu masuk dan langsung menuju kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi, Nara yang hanya mengenakan bathrobe melihat Reka yang sudah menyiapkan kopernya. “Biar aku bantu,” ujar Nara.
“Nggak usah, nanti aja. Aku mau mandi dulu, tungguin ya sayang,” ucap Reka sambil mengerlingkan matanya lalu berbalik dan menuju kamar mandi.
“Tungguin apa? Memang aku mau kemana, orang dia yang mau pergi,” sahut Nara. Nara menuju lemari mengeluarkan perlengkapan-perlengkapan sederhana tapi penting dan dibutuhkan Reka. Seperti perlengkapan mandi, kaos kaki, minyak rambut dan parfum Reka. Untuk pakaian, Nara menunggu arahan dari Reka.
“Ra, itu nanti aja,” usul Reka. Nara menoleh, suaminya sudah ada di sampingnya. Wangi sabun mandi tercium oleh hidungnya, bahkan saat ini Reka hanya mengenakan handuk terlilit di pinggangnya. Menampilkan dada bidang dan otot perutnya juga titik-titik air yang masih menetes dari rambut Reka membasahi bahunya. Nara melepaskan handuk kecil yang terlilit di kepalanya lalu mengajak Reka duduk di pinggir ranjang dan mengeringkan rambut Reka dengan handuk di tangannya.
Reka refleks mengalungkan tangan di pinggang Nara. “Aku nggak tau, seminggu atau per dua minggu sekali aku bisa pulang. Karena belum bahas hal itu dengan Papih. Jadi, aku ingin malam ini bahagia dan jadi kenangan juga stok semangat untuk aku,” ujar Reka dengan tangan yang mahir melepaskan ikatan bathrobe yang dikenakan Nara.
“Lakukan! Lakukan sepuas kamu. Jangan sampai perpisahan kita yang sementara ini membuat hati dan diri kamu kosong dan mencari yang lain untuk mengisinya,” jawab Nara sambil menangkup wajah Reka. Reka tersenyum, lalu mengarahkan Nara untuk berbaring setelah melepaskan bathrobe yang dikenakan istrinya.
Nara hanya pasrah, saat Reka menelusuri tubuhnya. Malam panjang yang begitu hangat. Pasangan yang memadu kasih, berbagi saliva dan kehangatan tubuh lewat penyatuan diri dengan begitu saling menginginkan. Reka menyentuh Nara dengan penuh perasaan dan kelembutan. Berharap apa yang malam ini mereka lewati menjadi kenangan manis untuk beberapa hari ke depan. Akan terpisah karena jarak dan waktu membuat Reka seakan tidak ingin melepaskan Nara.
“istirahat sayang, terima kasih atas malam yang luar biasa,” ucap Reka sambil mencium kening Nara. Nara sendiri hanya mengatur deru nafasnya lalu memejamkan kedua mata. Reka melepaskan tubuhnya lalu merebah disamping Nara. Menarik selimut dengan kakinya dan menutupi tubuh mereka yang polos.
Tubuh dengan peluh dan terasa lengket malah semakin menempel seakan mereka tidak akan terpisahkan. Nara membiarkan hal itu, karena bisa jadi pelukan Reka saat ini akan sangat dia rindukan malam-malam berikutnya. Akhirnya mereka pun terlelap.
Esok pagi, Nara membantu Reka packing kebutuhannya. “Tujuannya kemana?” tanya Nara sambil menyerahkan kemeja terakhir yang sudah dilipat pada Reka. “Jogya, dekat kok. Naik pesawat hanya satu jam lebih dikit,” ujar Reka yang terlihat tidak bersemangat dan lebih lesu. Sedangkan Nara, meskipun merasakan pegal dan tidak nyaman di bagian intinya karena ulah Reka semalam. Tetap bersemangat membantu suaminya menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan. Bahkan raut wajah yang terlihat tersenyum malah membuat Reka berat untuk meninggalkan Nara.
“Kamu kenapa sih?” tanya Nara. Sambil menjawil pipi Reka. Reka berdecak, “Kamu mau ditinggal sepertinya bahagia banget sih.”
Nara menghela nafasnya, pria dihadapannya ini benar-benar memperlihatkan kekanakannya. “Kamu mau pergi masa aku pasang wajah siap perang. Yang ada malah bikin kamu tambah bete. Di sana nanti bukannya kangen sama aku malah senang hidup jauh dari aku,” ujar Nara.
Reka berdiri berhadapan dengan Nara, memegang pinggang istrinya. “Nggak mungkinlah aku senang jauh dari kamu. Aku akan sangat kangen banget pastinya.” Lalu mendekatkan wajahnya dan pagutan bibir itu tidak terelakan. Kedua tangan Nara yang berada di dada Reka hanya bisa mencengkram kemeja yang dikenakan Reka.
Nara dan Reka turun ke bawah, koper dan tas yang akan dibawa sudah lebih dulu dibawa salah satu asisten rumah tangga dan dimasukan ke dalam bagasi mobil yang akan mengantarkan Reka dan Kevin ke Bandara.
Kevin dan Meera sedang terlibat pembicaraan, dengan tangan Kevin merangkul bahu Meera. Sedangkan Reka memeluk erat Nara, “Jangan dekat-dekat dengan teman kamu itu,” nasihat Reka. Nara tersenyum, dari sekian banyak kata yang bisa diucapkan saat perpisahan, Reka memilih melarang Nara dekat dengan Ardi.
“Kamu juga jangan dekat-dekat dengan perempuan lain di sana. Sebab kamu diam aja udah bikin cewek-cewek caper apalagi kamu tebar pesona,” ujar Nara sambil cemberut.
“Nggak sayang, nggak ada niat aku tebar pesona. Cuma kalau mereka yang memang terpesona, itu bukan salah aku ya. Bawaan lahir,” tutur Reka. Nara memukul pelan lengan Reka.
Nara dan Meera melepas kepergian para suami. Kevin sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil, Reka menunduk akan masuk malah kembali berbalik lalu menghampiri Nara dan memeluk tubuh kurus istrinya juga mencium bibir Nara singkat.
“Reka, nanti kamu ketinggalan pesawat.” Nara hanya melambaikan tangan saat Reka sudah berada di dalam mobil yang membawa kedua pria itu meninggalkan kediaman Kevin.
“Permisi Bu Nara.” Nara dan Meera yang akan melangkah masuk pun menoleh.
\=\=\=\=\=
Hmmm, bagaimana kisah bucin dan kangen mereka? Tungguin kelanjutannya, oke 😊