Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Ngarep Sama Pasangan Orang


Nara menghela nafasnya, mencoba tenang. Karena jika dia panik atau marah, Reka pasti akan lebih emosi dan sudah bisa dipastikan Reka akan bergelut dengan pria di hadapan mereka. Reno, ya Reno dan Cindy ternyata ada di cafe tersebut. Cindy beranjak bangun dan menghampiri Reka dan Nara yang masih diam mematung.


“Reka, kamu kemana aja?” tanya Cindy sambil memegang lengan Reka yang terbebas dari cengkraman Nara. Reka tidak menjawab, dia menoleh pada Nara seakan meminta Nara untuk menjauhkan Cindy darinya.


Tanpa dititah Reka, Nara memang tidak suka melihat Cindy yang terlihat merayu manja pada suaminya. Nara melepaskan tangan Cindy dari lengan Reka, “Nggak usah pegang-pegang, urus calon suami kamu itu.”


Cindy berdecak, “Yang benar itu, kamu sama Reno aku dengan Reka. Bukan begitu Reka?” tanya Cindy dengan mengerlingkan matanya.


“Bukan,” jawab Reka. “Lo tetap di tempat atau gue pastiin lo nggak bisa berjalan normal lagi,” ancam Reka pada Reno. “Kamu mau tetap di sini atau pergi?” tanya Reka pada Nara. Nara menatap sendu pada Reka, dilema dengan keadaan. Dia ingin pergi menghindari Reno dan Cindy, pasangan lakn*t itu kedepannya sudah pasti akan mengganggu stabilitas hati dan perasaan.


“Aku ingin di sini,” ujar Nara. Sepertinya Reno dan Cindy harus menyaksikan siaran langsung kemesraan Reka dan Nara. Reka menunjuk meja dengan sofa agar Nara bisa duduk dengan nyaman. “Mau pesan apa?” tanya Reka sambil membuka buku menu yang diberikan oleh pelayan.


“Hm. Terserah kamu, aku ngikut,” ujar Nara sambil bersandar pada sofa dan memainkan ponselnya. Reka langsung spaning mendengar kata terserah dari mulut Nara. Emosi dan amarah bertemu dengan Reno mendadak lenyap berganti khawatir.


“Minum juice saja ya, bagus untuk kesehatan. Apalagi kamu sedang hamil .”


“Hmm.”


“Juice mangga aja, kayaknya seger.”


“Jangan, rasanya memicu mual.”


“Alpukat aja ya, bagus untuk ....”


“Mengandung lemak, aku nggak mau tambah gendut.” Reka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Jadi kamu mau minum apa? Jangan jawab terserah, aku bingung Ra,” ujar Reka lirih.


Wajah Nara berubah cemberut, lalu meraih buku menu dari tangan Reka. Menunjuk salah satu jenis minuman dan cemilan kemudian menyerahkan kembali buku menu ke tangan Reka. “Sama istri sendiri nggak ngerti maunya apa,” tutur Nara.


“Bukan nggak ngerti, tapi takut salah dan ternyata bener ‘kan jadi salah.” Nara lalu bersandar di bahu Reka dan melihat foto-foto kegiatan Reka selama di Jogja. Reno dan Cindy yang menyaksikan kemesraan kedua orang itu hanya bisa pasrah karena jalan untuk memisahkan keduanya akan sangat sulit dan bahkan tidak mungkin.


Reno menoleh pada Cindy, menatap wajah yang terlihat sedang merengut memandang ke arah Reka dan Nara. “Umur Nara boleh lebih tua dari Reka dan kamu, tapi penampilan dia nggak kalah muda dengan kamu. Bahkan tanpa dandan macam wajah kamu ini, Nara tetap terlihat cantik.”


Cindy menatap sinis pada Reno, “Kamu dan Reka seleranya sama. Perempuan biasa aja, nggak cetar kayak gue,” sahut Cindy sambil melipat kedua tangan di dada.


“Bagi laki-laki bukan penampilan tapi hati yang utama.”


“Halah, basi. Kamu pikir kalau bercinta bakal nafsu lihat wajah perempuan yang bopengan. Nggak ‘kan, jadi tetep aja penampilan itu paling utama. Perlu kamu tahu, Reka itu bukan laki-laki alim tapi dia playboy. Percuma juga ngomong sama kamu, nyesel gue harus ikuti arahan Ibu untuk kencan sama lo,” tutur Cindy kemudian beranjak berdiri dan menghampiri meja dimana Reka dan Nara berada.


Hanya Nara yang menatap Cindy, Reka asyik memainkan rambut Nara bahkan sesekali mengendus rambut Nara. “Kamu pakai shampo apa sih, wangi banget.”


“Reka, kamu serius nggak ada niat untuk ....”


“Nggak ada, buang jauh-jauh ide gila atau pertanyaan bodoh kamu,” sela Nara.


“Aku tanya Reka bukan kamu.”


“Jawaban aku sama seperti yang disampaikan Nara. Lagi pula, bukannya kamu dan laki-laki pengecut itu akan menikah. Kalian cocok cenderung serasi, sama-sama ... aduh,” pekik Reka karena Nara mencubit pinggangnya.


“Jangan mengejek orang, aku sedang hamil anak kamu loh,” cakap Nara mengingatkan Reka agar tidak asal bicara.


“Ya memang anak aku Ra.”


Pelayan datang mengantarkan pesanan Reka dan Nara. “Lo masih mau nonton gue mesra-mesraan?” tanya Reka pada Cindy. “Mending ke sana tuh, ke calon suami lo. Temenin, takut frustasi karena masih ngarep sama pasangan orang.”