Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Bab 26


Alisha pulang dengan perasaan yang tak menentu. Sang dokter mengatakan bahwa kandungannya sedang dalam kondisi yang lemah. Ia terlalu banyak stres karena memikirkan hal-hal berat yang menimpa keluarganya.


Dan lebih menyedihkannya lagi, Alisha berusaha menelepon untuk mengabarkan kondisi kehamilannya, akan tetapi pria itu tidak mengangkat teleponnya dan malah me-reject panggilannya.


Entah karena Alisha lebih tua dari Bian, dia masih berbaik sangka meski hatinya merasa pilu. Perbedaan usia dua tahun harusnya tidak terlalu berbeda dari sisi kedewasaan seseorang. Namun kedewasaan Bian dan Alisha tidak hanya muncul dan tumbuh karena usia mereka, tapi juga karena kehidupan mereka yang berbeda.


Alisha meyakinkan dirinya bahwa Bian memang memiliki kesibukan yang luar biasa. Dia juga tahu bahwa perusahaan milik suaminya tengah dalam kondisi krisis dan mengkhawatirkan. Meski ia masih berharap menjalani masa kehamilannya bersama sosok suami di sampingnya, namun Alisha tetap menelan keinginannya dan berusaha memahami Bian.


Akan tetapi tidak demikian dengan Bian. Saat Alisha berusaha bisa memahami posisinya, Bian justru sedikit melupakan Alisha. Dia berubah menjadi sosok yang melupakan keluarga dan menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan.


Setelah bertemu dengan gadis bernama Berlian untuk pertama kali, intensitas pertemuan mereka mulai bertambah. Ditambah lagi David yang biasanya menemui klien bersama dengannya, kini mulai ia alihkan untuk mengerjakan pekerjaan lain. Ia menjadi terlalu sering meninggalkan rumah di pagi hari dan pulang ketika waktu sudah sangat larut.


Seperti hari itu, mereka akhirnya terlibat dalam satu pertengkaran terbesar pertam kali dalam kehidupan rumah tangga mereka. Seperti biasa Alisha menyiapkan sarapan untuk suaminya yang akan melakukan banyak jadwal pertemuan. Sembari menunggu Bian yang tengah mandi, Alisha menyiapkan baju dan semua keperluan yang suaminya butuhkan.


Ketika dia menata berkas-berkas dan memasukkannya ke dalam tas kerja Bian, ponsel Bian berbunyi. Melihat ada pesan masuk dan dikira berasal dari ponselnya, Alisha justru membuka ponsel Bian yang memang memiliki model dan warna yang sama dengan miliknya.


Alisha cukup kaget karena dia tak bisa membuka ponsel yang ia ambil. Ia baru menyadari bahwa itu bukan ponsel miliknya setelah beberapa kali salah memasukkan kode yang menurutnya sudah benar. Setelah menyadari bahwa itu adalah ponsel Bian, Alisha ingin meletakkannya kembali di atas tas milik Bian. Akan tetapi dia mengurungkan niatnya setelah melihat sebuah pesan masuk yang menarik perhatiannya.


Mas Bian, nanti ketemunya di hotel biasanya aja yaa


Alisha tercengang setelah membaca pesan yang muncul di pop up layar depan ponsel itu. Pikiran bahwa suaminya telah berselingkuh dengan wanita lain pun merasuki dirinya. Bagaimana tidak, ada seorang wanita yang menghubungi suaminya dengan bahasa yang sangat mencurigakan. Kata “mas” dan “hotel” saja sudah membuatnya bergidik. Ia tak menyangka Bian yang selama ini mencintainya bisa berbuat hal seperti itu, terlebih disaat dia tengah mengandung anaknya.


Begitu Bian keluar dari kamar mandi, Alisha langsung menghampiri suaminya dan mencoba mengonfirmasi hal tersebut padanya secara langsung.


“Sayang, ini pesan dari siapa?" tanya Alisha pelan.


Bian terkejut melihat Alisha membuka ponselnya tanpa ijin darinya. Tanpa diduga reaksi pertama yang muncul adalah kekesalan yang ditunjukkan dengan mengambil ponsel itu dari tangan Alisha.


“Apa-apaan kamu ini! Kenapa kamu membuka ponselku seenaknya?” teriak Bian.


Alisha tidak langsung menjawab. Yang ia lakukan hanyalah memegang perutnya dengan wajah sedih dan bingung.


“Maaf..” ucap Alisha.


Dia langsung berbalik meninggalkan Bian yang terpaku. Alisha mencoba mengalihkan pikirannya dengan membersihkan dapur. Sementara Bian hanya berteriak dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang besar.


Mereka tetap tidak berbicara sampai Bian menyalakan mobilnya. Bersamaan dengan Alisha yang akan keluar berbelanja keperluan dapurnya, tiba-tiba dia merasakan perutnya sakit luar biasa. Rasa sakitnya begitu tak tertahankan hingga dia berteriak dan mulai terjatuh.


Melihat istrinya berteriak kesakitan hingga tersungkur ke lantai, Bian langsung berlari menghampirinya.


“Kau kenapa? Apa perutmu sakit?” tanya Bian ikut panik.


Alisha hanya berteriak kesakitan dan tak bisa menjawab pertanyaan Bian. Tanpa menunggu lama Bian langsung menggendong Alisha dan membawanya ke dalam mobil untuk segera menuju ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, hati Bian mendadak remuk. Ia merasa bersalah karena telah membuat sang istri mengalami hal seperti itu. Bian memacu mobilnya dengan cepat karena sudah tidak tega melihat istrinya semakin kesakitan.


Ketika Alisha diperiksa, Bian terlihat sangat gugup. Dia terus bergerak kesana kemari sebelum akhirnya sang dokter memanggilnya ke dalam.


Bian melihat wajah Alisha yang semakin pucat dan tampak sedih. Ia mengampirinya dan memapahnya dari ranjang menuju tempat duduk di depan meja dokter.


“Apa Anda suami dari Ibu Alisha?” tanya dokter itu.


“Iya, Dok. Apa istri saya baik-baik saja?” tanya Bian.


“Apa saya boleh tahu apa pekerjaan Anda?”


Bian nampak bingung karena dokter itu justru menanyakan pekerjaannya daripada membahas kesehatan istrinya.


Sang dokter menghela napas dan menatap Alisha yang hanya menunduk dan tak berkata apapun.


“Bapak harus lebih memperhatikan kandungan istri Bapak. Kehamilan pertama biasanya masih rawan apalagi kalau ibunya stres” ucap dokter itu.


Bian bagai tertampar oleh kenyataan. Dia menyesali dirinya yang tak pernah mempedulikan istrinya lagi. Ia menyesali sikap dan tindakannya yang selalu berteriak pada Alisha hingga membuat dia semakin stres. Bian menyesali perbuatannya yang mengabaikan keberadaan istrinya demi pekerjaannya. Dan yang paling ia sesali adalah dirinya yang hampir membahayakan nyawa anaknya.


Setelah Bian membawa Alisha pulang, dia membatalkan semua janji penting bersama klien dan partner bisnisnya. Bian membawa Alisha ke kamar tidur dan menyuruhnya beristirahat. Namun ketika Bian hendak keluar dari kamar, Alisha menarik tangan Bian hingga dia menghentikan langkahnya.


“Ada apa? Apa kamu mau sesuatu?” tanya Bian.


Alisha mulai menitikkan air matanya. Dengan suara yang bergetar ia memberanikan diri bertanya kembali pada suaminya.


“Apa aku boleh bertanya siapa gadis itu?” tanya Alisha lirih.


Bian juga terdiam. Ia terlihat bingung bagaimana memulai pembicaraan yang sensitif ini. Akhirnya dia berjongkok duduk di depan Alisha. Bian memegang tangan Alisha dan menatap wajah sang istri yang mulai sayu dan penuh kecemasan.


"Aku minta maaf” ucap Bian.


Tangis Alisha mulai pecah saat Bian mengeluarkan kalimat maafnya. Di pikiran Alisha saat itu, suaminya sedang ingin mengakui sesuatu yang tak ingin dia dengar.


“Jangan minta maaf!” balas Alisha.


“Aku minta maaf, karena udah nyakitin kamu” kata Bian lembut.


“Dia Berlian. Orang yang bersedia menjadi investor di perusahaanku” jawab Bian.


Ia melanjutkan cerita tentang Berlian setelah meyakinkan Alisha bahwa dia sudah siap mendengarnya. Berkali-kali Bian bertanya padanya apakah cerita ini tidak akan membuatnya stres dan mengganggu kehamilannya. Akhirnya setelah Alisha yakin, Bian melanjutkan cerita dirinya bersama Berlian.


Berlian memang satu-satunya orang yang bersedia menjadi investor di saat semua orang yang ia tawari menolaknya. Berlian menanamkan uang puluhan milyar untuk membantu perusahaan Bian bangkit kembali. Hanya saja Berlian memang tidak mau memanggil Bian dengan sebutan Bapak. Menurutnya itu terlalu norak dan kaku. Makanya mereka sepakat untuk saling memanggil nama dan Berlian memanggilnya dengan kata “mas”.


Dan mengenai bertemu di hotel, itu semata-mata karena memang Berlian tengah tinggal di sebuah hotel saat ini. Bian berani meyakinkan Alisha bahwa kesalahannya hanyalah terlalu sibuk hingga dia terasa diabaikan olehnya. Bian berani menjamin bahwa tak pernah terbersit di pikirannya bahwa dia akan menyelingkuhi Alisha.


Mendengar cerita dan ucapan Bian, pipi Alisha semakin banjir dengan air bening yang mengalir dari ujung matanya. Ia memeluk Bian dengan erat hingga suaminya tertawa karena merasa sesak.


“Awas jangan erat-erat nanti dedek bayinya kegencet” ucap Bian sambil tertawa kecil.


Setelah mendengar suara tawa lirih Alisha, Bian melepaskan pelukan istrinya. Dipandangnya wajah Alisha yang dirasanya semakin kurus. Diusapnya air mata yang masih tersisa di wajah sang istri.


“Aku minta maaf” ucap Bian lagi.


“Ada satu lagi..” kata Alisha.


“Hm?”


“Jangan bentak aku lagi!” ucap Alisha lirih.


Bian terkejut namun segera ia tutupi dengan tawanya, karena dia tahu kalimat apa yang selanjutnya akan keluar dari mulut istrinya.


“Iya, kamu lebih tua..” balas Bian disusul tawa mereka berdua.


Bian kembali memeluk Alisha. Di dalam dekapan yang hangat suaminya, Alisha meminta Bian untuk tidak meninggalkannya.


“Maafkan aku, Sayang..”