
Reka bergegas bangun karena mendengar Nara mengeluarkan isi perutnya. Memijat tengkuk istrinya dan menahan surai Nara agar tidak kena muntahan. Setelah kumur-kumur dan mencuci mukanya, Nara kembali ke ranjang. "Kamu rebahan lagi deh, aku ambilkan air hangat dulu," ujar Reka.
"Reka," panggil Nara. Reka yang sudah sampai pintu menoleh. "Pakai baju dulu," titah Nara.
Reka menyadari jika saat ini dia hanya mengenakan boxer. Mengambil pakaiannya yang ada di atas sofa kamar, bergegas memakainya lalu keluar kamar. Tidak lama kemudian Reka kembali membawa gelas berisi teh hangat "Minum dulu Ra," pinta Reka sambil membantu Nara bangun dan meminum teh hangat yang dibawanya.
"Kamu rebahan lagi, aku ambil makanan dulu. Perut kamu kosong, muntah pun tidak ada yang keluar malah bikin sakit.”
Nara yang sudah kembali berbaring menarik selimut, “Kamu jangan kemana-mana, temani aku di sini,” ucap Nara. Reka ikut berbaring menghadap Nara, mendekatkan wajahnya lalu menempelkan dahinya pada dahi Nara.
“Bu Dosen ngegemesin banget sih, apalagi kalau lagi ... aduh Ra, kok nyubit sih,” keluh Reka sambil mengusap perutnya.
“Belum selesai ngomong. Emang kamu tau aku mau bilang apa?”
“Sudah kebaca, pasti mau bilang masalah permesuman,” sahut Nara. Reka terkekeh, “Memang kenyataannya begitu.”
“Aku ngantuk, jangan berisik,” ucap Nara lalu mendusel di dada Reka, tidak lama kemudian Nara benar-benar tertidur. Reka membiarkan sampai Nara terlelap baru dia akan bangun. Menyadari selama istrinya diketahui sedang hamil, Nara kerap mengeluh mengantuk dan mudah sekali tertidur selain keluhan morning sicknessnya.
Reka mengusap punggung Nara agar tidurnya semakin lelap. Terdengar suara nafas teratur Nara menandakan sudah benar-benar terlelap. Reka perlahan beranjak bangun, membetulkan letak selimut yang menghangatkan tubuh Nara lalu keluar dari kamar.
Reka tidak menemukan siapapun. Baik di dapur, halaman belakang juga ruangan lainnya. “Pada kemana sih? Bukannya Bunda minta mereka temani aku, malah pada kabur,” tukas Reka. Menanyakan pada penjaga villa, kemana saudaranya pergi. Apalagi mobil mereka masih berada di halaman villa.
“Dari mana sih?” tanya Reka melihat Elang dan Kayla datang.
“Jalan-jalan dong. Udaranya masih sejuk, nggak kayak di Jakarta,” jawab Kayla.
“Aku mandi dulu,” ujar Elang sambil berlalu menuju kamarnya. “Kak, Nara muntah-muntah lagi. Aku khawatir, mana nggak mau makan.” Reka mengekor Kayla yang berjalan menuju dapur dan mengambil air minum. “Hamil muda ya memang begitu, harus sabar. Karena yang mengalaminya lebih tersiksa,” sahut Kayla setelah meneguk isi gelasnya.
“Aku sabar, hanya kasihan aja. Terus gimana dong, aku harus siapkan sarapan apa biar Nara mau makan?” tanya Reka.
“Minta Bibi buatkan sup ayam rempah. Aroma rempahnya nggak akan buat mual,” usul Kayla sambil menyimpan gelas pada wastafel. “Kenapa nggak Kak Kayla aja yang buat,” cetus Reka.
“Aku juga ngantuk, nanti siang harus balik ke Jakarta. Memanfaatkan benar-benar waktu berdua dengan Mas Elang,” sahut Kayla sambil terkekeh lalu meninggalkan Reka menuju kamarnya.
“Benerkan, malah mereka yang menikmati liburannya. Aku malah ....”
“Reka,” panggil Nara memotong keluhan yang diucapkan Reka.
“Loh, kok sudah bangun.”
Nara merangsek mendekat pada Reka lalu memeluk tubuh tegap suaminya. “Aku bilang temani tidur, kenapa ditinggal,” keluh Nara. Reka mengajak Nara kembali ke kamar, tidak ingin ada yang menyaksikan kebucinan mereka. Mengingat pernikahan mereka awalnya karena perjodohan, siapa sangka saat ini keduanya saling mencintai.
“Aku hanya tanya Kak Kayla makanan yang bisa kamu konsumsi tapi tidak bikin mual.”
“Makannya nanti aja, aku mau tidur dipeluk sama kamu. Kalau udah di Jakarta pasti sama-sama sibuk,” rengek Nara. Reka tidak menyangka jika Nara bisa semanja itu, berbeda dengan saat pertama kali bertemu dan ketika berada di kelas. Nara akan terlihat lebih dewasa, serius dan galak ketika menjalankan profesinya.
Reka akhirnya menuruti kemauan Nara, memeluk Nara dan membiarkan istrinya mendusel wajahnya pada dada dan leher Reka. Kadang Reka tertawa kegelian karena tingkah Nara. “Ra, kamu aneh banget sih. Nggak biasanya manja begini.”
“Anak kamu yang bikin aku begini,” jawab Nara.
“Tau ah,” sahut Nara sambil membenamkan wajahnya di lengan Reka.
Nara tidak bisa memejamkan kembali matanya. Dia dan Reka malah bercanda dan saling menggoda. Reka bahkan sesekali terbahak karena berhasil mengerjai Nara. Terdengar pintu kamar diketuk, “Reka, kata Kak Kay sup ayamnya sudah matang. Bu Nara diminta ke bawah. Istri lagi hamil bukannya diurusin malah dikerjain terus,” teriak Rika dari luar kamar dimana Reka dan Nara berada.
“Heh, mulutnya nggak usah usil. Kamu juga dulu senang aku kerjain terus,” ledek Eltan lalu mengajak Rika turun. Jika dibiarkan Rika pasti akan terus mengoceh mengejek Reka. “Nggak usah bilang dulu, dari semalam juga Bang El ngerjain aku terus,” ucap Rika. Eltan menutup mulut Rika dengan telapak tangannya saat mulut istrinya akan kembali bicara.
“Nggak usah berisik, malulah.”
Nara dan Reka sudah bergabung di meja makan. “Dihabiskan ya,” titah Kayla sambil meletakan mangkuk berisi sup ayam rempah. “Semoga nggak bikin kamu mual lagi.”
“Lo kemana sih? Tadi gue cariin nggak pada ada,” tanya Reka dan Rika.
“Nggak kemana-mana. Orang aku baru bangun,” jawab Rika.
“Dasar rese, ngejek gue ngerjain Nara. Lo sendiri habis ngapain?” Reka menoyor kening Rika. Kayla hanya menggelengkan kepala melihat kelakukan adik kembarnya. “Sudah Kay, duduk dan makan. Tak usah kamu urus mereka berdua, cukup Eltan dan Nara yang sabar menghadapi kelakuan kakak beradik yang aneh itu,” gerutu Elang.
Kayla terbahak, “Memang mereka aneh. Reka, aku dan mas Elang setelah ini langsung berangkat.”
“Pulang?” tanya Reka.
“Ya iyalah, memang dipikir mau kemana lagi,” sahut Kayla. “Udah kangen anak-anak, lagi pula Mas Elang ada acara nanti sore.”
“Lo kapan pulang?” tanya Reka pada Rika sambil menuangkan air untuk Nara.
“Dih, ngusir. Kita mau nginap lagi juga nggak masalah, ya ‘kan Bang,” tutur Rika berharap dukungan dari Eltan. Belum juga Eltan menjawab Elang menyela, “Jangan aneh-aneh, teleconference persiapan audit seluruh cabang dilaksanakan besok pagi. Kamu nggak hadir, siap-siap aku mutasi ke Singapur.”
“Kak Elang nggak asyik,” ejek Rika.
Nara tersenyum melihat interaksi keluarga Reka. “Dia memang nggak asyik, kamu bilang yang asyik cuma aku doang,” sahut Eltan.
“Emang kalian jodoh ya, Bang Eltan segitu macho dan berwibawa bisa ikutan aneh kayak Rika.” Nara memukul lengan Reka, agar berhenti mengejek keluarganya.
“Aku sudah selesai, ayo sayang kita pulang. Pusing aku dengar mereka berdebat terus,” ajak Elang pada Kayla.
“Ra, kamu rehat aja dulu. Pulang agak sorean kalau mualnya sudah hilang. Habis makan jangan langsung naik mobil, bisa-bisa langsung keluar lagi makanannya.”
“Iya Kak,” jawab Nara.
“Kita pulang kapan, Bang?” tanya Rika.
“Loh, katanya tadi nggak mau pulang,” jawab Eltan. Rika menatap tajam pada Eltan, “Maksudnya kamu senang kalau Kak Elang mutasi kamu ke Two Season Singapur. Kangen ya sama mantan kamu itu,” ucap Rika.
“Hahh.”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ayo, ada yang masih ingat siapa mantannya Eltan? 😀