Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Drama Keluarga Kevin


“Kamu nggak ada niat mau hadir ‘kan?” tanya Reka.


Pertanyaan Reka sukses membuat Nara memicingkan matanya menatap Reka. “Untuk apa aku harus hadir, kalau hanya akan menambah luka dan membuat aku tidak nyaman. Sudah bisa terbayang Ibuku akan mengatakan dan berpihak kepada siapa dan jelas-jelas bukan padaku. Belum lagi harus menyaksikan wajah sombong Abimana dan Reno,” tutur Nara. “Atau jangan-jangan kamu sendiri yang penasaran ingin menyaksikan pernikahan fans kamu,” ejek Nara.


“Jangan mulai Ra, bisa-bisa aku berhenti di bahu jalan dan aku buat kamu keenakan biar percaya aku ada karena kau ada,” sahut Reka sambil masih fokus pada jalan dan kemudi. Nara bergidik membayangkan hal yang Reka ucapkan, bahkan dia harus menggelengkan kepala mengusir bayangan adegan nakal yang terjadi diantara mereka.


“Kenapa?” tanya Reka saat mendengar Nara menghela nafas.


“Gak apa-apa, kamu cukup fokus sama jalan. Pastikan kita selamat sampai tujuan,” pinta Nara yang disambut Reka dengan senyum, bahkan pria itu sempat mengelus kepala Nara sekilas.


Akhirnya mobil yang dikendarai oleh Reka pun tiba di rumah, sudah ada beberapa mobil terparkir di sana. Reka mengenalinya milik Elang, Eltan juga milik Papih dan Bundanya.


“Akhirnya penerus keluarga Kevin lulus juga kuliahnya,” ucap Kayla lalu memeluk Reka. “Reka gituloh.” Sambil memukul dadanya menunjukan seakan dirinya hebat. “Lebay,” ejek Rika. “Aku juga lulus, tapi biasa aja. Iya nggak Bang,” ucap Rika memohon dukungan Eltan.


“Iya, sayang.” Rika duduk bersandar di bahu Eltan masih mengenakan pakaian sidangnya. “Setelah wisuda, langsung start ikut Papih.” Reka hanya bisa mengiyakan kemauan Papihnya tentu saja semua dilakukan bukan karena terpaksa tapi karena tanggung jawab sebagai seorang putra Kevin Daud dan Meera Chandra.


“Udah rame aja, ada apa sih? Nggak mungkin kalian kumpul hanya karena mau ucapkan selamat untuk aku dan Rika.” Reka dan Nara ikut duduk pada sofa ruang keluarga. Elang dan Kevin yang memang sudah duduk anteng sejak tadi, menoleh saat Bunda datang diikuti pengasuh dan ketiga cucunya.


“Hm, bagus bener. Bunda sibuk sama cucu, Ibunya pada asyik sendiri.”


“Duduk sini, Nak,” ujar Kayla pada kedua anaknya. “Nggak usah ngeledek, sebentar lagi Bunda juga jadi tempat penitipan anak kamu,” sambung Kayla.


“Kamu sudah pasti lulus, nggak usah Bunda tanya lagi deh,” tukas Meera. Reka menghampiri Bundanya dan memeluk wanita itu erat, “Makasih Bun, sudah mendidik aku sampai seperti ini. Maaf kalau masih mengecewakan Bunda,” ungkap Reka. Meera mengusap punggung Reka. “Saat ini Bunda sudah tenang, semua anak Bunda sudah berkeluarga. Paling masih mikirin kamu saja karena belum ada pekerjaan yang jelas.”


“Bunda gimana, jelas-jelas nanti Reka yang gantikan posisi Papih. Masa dibilang belum jelas pekerjaannya,” tutur Kayla.


“Aku dan Nara akan merayakan kelulusan aku. Sudah siap Bang?” tanya Reka pada Eltan yang dijawab dengan mengangkat jempol. “Ya sudah, Papih juga tidak akan memaksa. Itu hak kalian dan utamakan kenyaman dari pada di sana hanya dapat malu.”


“Aku akan pastikan Nara tidak akan mendapatkan hal yang buruk lagi, baik dari Reno atau ayahnya. Tapi kalau dari keluarga Radit, aku angkat tangan,” ungkap Elang. Hati Nara menghangat mendengar kepedulian keluarga besar Reka.


“Abang menyiapkan apa untuk Reka?” tanya Rika penasaran setelah mengangkat putrinya naik ke pangkuan Eltan.


“Candle Light Dinner.”


“Bang El siapkan candle light dinner untuk Reka dan Nara tapi nggak siapkan apa-apa untuk aku,” ucap Rika mulai merajuk. “Ayo Ra, kita ke kamar. Nggak ikutan drama mereka,” ajak Reka.


“Aku juga sudah siapkan khusus untuk kamu kok.”


“Apa?”


Eltan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Layanan spesial sampai pagi,” bisiknya lirih. Rika mendelik lalu mencubit pinggang Eltan. 


\=\=\=\=\=


Promo punya teman