Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Cemburu Boleh, Ngambek Jangan


Reno melangkah dengan percaya diri dan senyum terpatri di wajahnya. Didampingi pengacara keluarganya, akhirnya dia keluar dari jeruji besi karena ditarik kembali laporan dari pihak Nara. 


Nara, aku tau kamu nggak akan tega membiarkan aku menerima hukuman, batin Reno. 


"Ayah anda sudah menunggu, mari," ajak pengacara pada Reno. 


Mobil membawa mereka menuju kediaman Abimana. Reno menunggu kedatangan ayahnya di ruang keluarga. Tidak lama kemudian terdengar deru mesin kendaraan dan langkah kaki yang semakin dekat. Reno yang duduk membelakangi pintu masuk tahu jika ayahnya yang datang.


Sang Ayah dengan wajah datar berdiri di hadapan Reno, membuat pria itu perlahan berdiri.


Plak!


Plak!


Reno mendapatkan dua kali tamparan di wajahnya. Dia masih memalingkan wajah karena tangan ayahnya berhasil mendarat di pipinya dan menyisakan telinganya yang berdengung.


“Apa isi kepalamu, hah,” teriak Abimana pada putranya. “Bocah tengik, tidak tahu kau berurusan dengan siapa? Wanita itu menantu Kevin Daud, adik ipar dari Elang Sanjaya. Mereka pasti sudah merencanakan sesuatu karena dengan mudahnya menarik kembali laporan kejahatan kamu. Dasar bodoh, apa tidak ada lagi wanita di dunia ini sampai istri orang kau bawa kabur,” hardik Abimana.


Reno hanya bisa diam. Apa yang dikatakan ayahnya benar, dia tidak hati-hati dan memikirkan siapa Nara dan Reka. Di dunia ini jabatan dan kuasa sangat berpengaruh. Ayahnya pasti sedang khawatir jika para penguasa di dunia bisnis itu mempengaruhi bisnisnya juga.


“Seharusnya aku mengirim kamu ke Timbuktu atau ke Antartika biar mati sekalian kau di sana,” ujar Abimana lagi.


Reno berdecak mendengar ucapan Abimana. “Masih berani kau berdecak di depanku. Apa kau tahu, syarat yang diajukan keluarga Sanjaya untuk menarik laporan dan membebaskanmu?”


Reno menggelengkan kepalanya. “Bacakan” titah Abimana pada pengacaranya. Reno hanya bisa menelan salivanya mendengar persyaratan yang disampaikan oleh pihak Nara. Bahkan Reno menandatanganinya. Dalam enam bulan ke depan, dia harus menikah dan tidak mengganggu Nara dalam bentuk apapun. Termasuk juga menghindari Nara jika sewaktu-waktu mereka harus bertemu. Masih ada beberapa poin persyaratan lainnya, tapi kedua syarat pertama, membuat Reno merasa sangat keberatan.


Aku harus menikah, dengan siapa? Jelas-jelas aku masih menyukai Nara, batin Reno.


“Kau sudah dengar apa yang menjadi syarat mereka? Bisnisku dipertaruhkan di sini, kau macam-macam maka bersiaplah hidup miskin.” Abimana meninggalkan Reno yang masih terpaku.


Salah seorang asisten rumah tangga menghampiri Reno. “Den Reno, kamarnya sudah siap. Mari saya antar.” Reno mengikuti asisten rumah tangga menuju kamarnya. “Kalau butuh sesuatu panggil saya saja. Nama saya Bejo.” Sambil membuka pintu kamar mempersilahkan Reno masuk.


“Hmm.”


Reno berbaring di atas ranjangnya. Menatap langit-langit kamar dengan pikiran menerawang. Nara, apa sudah tidak ada lagi tempat di hatimu? Sampai kamu meminta aku untuk menikah dengan wanita lain, batin Reno.


“Aaahhhh,” teriak Reno. Tidak lama dia pun terlelap, ternyata ranjangnya sungguh melenakan tubuhnya yang akhir-akhir ini hanya tidur beralaskan tikar.


Sementara di kampus. Reka baru saja bertemu dosen pembimbingnya, meskipun banyak yang harus direvisi tapi langkah menuju wisuda sudah semakin dekat. Saat ini Reka sedang membaca informasi di mading terkait pengumuman yang detailnya sudah release di Web kampus.


“Kira-kira kita bisa wisuda bareng nggak?” tanya Yasa yang berdiri di belakang Reka.


“Tergantung usaha lo, bro,” sahut Dewa.


“Berisik kalian, cepat beresin skripsi kalau mau foto wisuda bareng gue.” Reka meninggalkan Yasa dan Dewa.


“Halah. Dia sih enak dibantuin Bu Nara, besok juga beres,” ejek Yasa sambil berjalan di samping Reka. “Enak aja, justru dia nggak ada campur tangan. Cuma baca-baca aja, komentar tapi nggak dibenerin. Bentar-bentar tanya kapan bimbingan, kapan selesai,” keluh Reka.


Kini ketiga pria itu sudah berada di kantin kampus. Reka yang memang belum sarapan, memesan menu makan pagi sekaligus makan siang begitu juga Yasa dan Dewa. Reka sedang menghisap rokoknya, sambil sesekali terbahak karena lelucon yang diucapkan oleh Yasa. “Reka,” panggil seseorang.


Atensi ketiga pria itu beralih ke asal suara. “Hmm, ulat bulu apa ulat keket,” ujar Dewa.


Reka kembali menikmati hisapan rokoknya, mengabaikan seorang gadis yang memanggilnya bahkan saat ini gadis itu menghampiri Reka. “Reka, kontak kamu sekarang nggak aktif. Ganti nomor?” tanya gadis itu. Reka membuang untung rokok pada asbak yang tersedia, lalu menoleh ke arah gadis yang bersikap seolah memiliki kedekatan dengan Reka.


“Aku berkali-kali hubungi kamu tapi nggak aktif. Coba sebutkan nomor kamu, apa aku salah simpan ya.” Gadis itu membuka ponselnya.


“Perasaan gue nggak pernah kasih nomor ponsel ke sembarang orang. Apalagi yang nggak gue kenal,” ujar Reka.


“Sakittt,” ledek Yasa. Dewa hanya terkekeh.


“Kamu kok gitu. Kita saling kenal, aku sering sapa kamu saat lewat kelas aku,” ujar gadis itu. Dewa dan Yasa tidak tahan untuk terbahak. “Gue kiraan korban buaya darat taunya obsesi sesaat,” ledek Dewa.


“Percuma, walaupun gue kasih nomor gue. Pasti nggak akan nyambung,” ujar Reka.


“Kenapa begitu?”


“Karena ponselnya sedang ditahan sama istri tercinta gue.” Gadis itu bergegas duduk di kursi tidak jauh dari Reka. “Kamu sudah menikah?”


Reka mengangguk. “Serius? Pasti bukan karena cinta.” Reka menatap gadis itu dengan wajah tidak suka. “Perempuan itu hamil duluan ya,” tutur gadis itu dengan lirih tapi bisa didengar oleh mereka.


“Nara memang sedang hamil. Tapi dia hamil setelah pernikahan, nggak pernah gue sentuh dia sebelum menikah,” ungkap Reka.


“Aku nggak yakin kalian akan langgeng.”


“Mau langgeng atau nggak, itu bukan urusan kamu.” Reka menoleh ke belakang, ada Nara di sana. Yasa dan Dewa hanya berdehem menetralkan keadaan. “Bu Nara,” sapa gadis itu.


“Aku ada perlu ke suatu tempat. Mana kunci mobilku?” tanya Nara.


Reka berdiri, “Mau kemana?”


“Survey lokasi,” jawab Nara singkat.


“Aku temani,” sahut Reka. “Nggak usah, kamu lagi sibuk. Ada fans kamu yang baru tuh, kasihan kalau dianggurin.”


Reka berdecak, “Bayarin makanan gue dan urus ini bocah,” titah Reka pada kedua temannya.


“Reka, mau kemana. Aku belum selesai bicara.”


Reka sudah berjalan lebih dulu meninggalkan area kantin. Nara mengekor sambil meminta kunci dan mengejek agar Reka kembali menghampiri gadis itu. “Masuk,” ujar Reka lalu berjalan memutar setelah Nara sudah duduk manis di kursi samping kemudi. Reka bahkan memasangkan seatbelt karena Nara yang diam dengan wajah cemberut.


Mengambil kesempatan saat harus mencondongkan tubuhnya menarik seatbelt, Reka mendaratkan bibirnya di pipi Nara. “Masih ngambek aku telanj*ngi kamu di sini,” ancam Reka.


Nara menoleh lalu kembali menatap ke depan. “Cepat jalan, sudah siang.”


“Cemburu boleh, ngambek jangan. Ngambek kamu bikin aku bergairah.”


“Dasar mesum.”


 


\=\=\=\=\=\=\=\=


Reka nakal ya, cubit nihhh.