
“Shitt,” maki Reka saat menatap cermin di toilet ruang kerjanya. “Gila, itu perempuan agresif banget. Nggak beres dah, mending kalau wah tapi biasa aja,” ujar Reka bermonolog. Reka dan sekretaris Kris baru saja kembali dari luar kantor setelah bertemu klien. Tapi selama perjalanan Reka merasa tidak nyaman karena ulah perempuan yang ternyata masuk list sebagai wanita yang perlu dihindari.
Reka dan Kris kembali melanjutkan pembahasan project yang akan diusung oleh kantor cabang, tentu saja ada Selly di sana. Selly adalah sekretaris Kris dan selama Reka di Yogya akan banyak berinteraksi dengan perempuan itu. Reka berusaha tetap fokus dan profesional untuk tidak terganggu dengan keberadaan dan keagresifan Selly.
Hari sudah cukup malam saat Reka melangkah meninggalkan lobi dan menuju mobil yang disiapkan untuk dipakai selama dia berada di Yogya. Memijat tengkuknya yang terasa pegal sebelum membuka pintu mobil.
“Pak Reka.”
Reka menoleh lalu menghela nafas melihat Selly berjalan ke arahnya. “Baru pulang juga Pak, aku pikir sudah dari tadi,” ucap Selly. Reka tidak menjawab hanya mengangkat lengan kiri dan melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. “Aku duluan,” ucap Reka.
“Eh, tunggu dulu Pak. Boleh saya ikut bareng, udah cukup malam saya takut kalau naik kendaraan umum.”
Reka menatap heran pada wanita di hadapannya. “Kamu nggak bawa kendaraan?”
Selly menggelengkan kepala. “Kenapa? Kamu termasuk karyawan senior dan punya peran penting. Sudah pasti tahu jika jam kerja kamu akan lebih dari yang lain, masa tidak prepare untuk bagaimana berangkat dan pulang. Jangan jawab kamu tidak ada kendaraan, penghasilan kamu mendukung untuk memiliki kendaraan sendiri.”
“Untuk malam ini aja, Pak. Mobil saya sedang di bengkel,” sahut Selly.
Reka bingung untuk menolak bagaimana lagi, padahal dia sudah cukup tegas menyinggung Selly yang artinya menolak jika wanita itu ikut pulang bersamanya.
“Masuklah!” Selama perjalanan Reka hanya diam, dia bertanya dimana Selly akan turun saat mobilnya siap melaju.
“Pak, tawaran saya masih berlaku ya kalau Bapak berubah pikiran mau diantar ke tempat-tempat hiburan malam.”
“Tidak akan berubah pikiran, karena saya tidak tertarik.” Reka mempercepat laju mobilnya agar segera tiba di titik dimana Selly akan turun.
“Terima kasih Pak,” ucap Selly tidak bersemangat.
“Hm.” Reka bergegas melajukan kembali mobilnya setelah Selly turun dan mengucapkan terima kasih.
Hari-hari berlalu, sudah hampir dua bulan Reka berada di Yogya dengan semakin padatnya kegiatan yang harus diikuti sambil dia belajar menjadi seorang pemimpin. Papihnya mulai memantau kerja Reka dari Jakarta dan weekend ini Reka kembali tidak bisa pulang ke Jakarta.
Komunikasinya dengan Nara semalam kurang kondusif karena Nara yang ngambek mendengar Reka kembali tidak bisa pulang ke Jakarta.
“Aku bukannya tidak mengerti posisi kamu, tapi aku kangen. Biasanya setiap minggu kamu pulang ini sudah dua minggu nggak ada datang,” tutur Nara. Reka mengusap wajahnya kasar, mengingat ucapan Nara semalam yang akhirnya diakhiri secara sepihak.
"Pak Reka, di bawah ada yang menunggu Bapak," ucap salah seorang OB saat Reka dan beberapa orang petinggi di kantor cabang baru saja menyelesaikan rapat dan bersiap pulang.
"Menunggu saya? Siapa?" tanya Reka.
"Wah, saya kurang tau. Perempuan Pak, cantik pula."
Selly yang mendengar informasi tersebut penasaran siapa wanita yang berani menghampiri Reka ke perusahaan. Sedangkan dia yang setiap hari bersama saja tidak ada kesempatan dari Reka untuk bisa mendekat.
"Oke, saya ke bawah."
Setibanya di lobbi, Reka menatap sekeliling mencari orang yang mencarinya. Selly yang mengekor karena penasaran menghampiri Reka. "Pak, saya ikut bareng ya. Mobil saya bermasalah lagi," pinta Selly.
"Reka."
Reka yang belum menjawab permintaan Selly menoleh karena seseorang memanggilnya.
\=\=\=\=\=