
Reka mengajak Nara berkeliling, menjelang sore akhirnya mereka kembali menuju kediaman Reka. "Reka, aku mau ke situ," tunjuk Nara pada taman jajan yang terlihat agak ramai.
"Kamu lapar lagi?"
"Nggak juga tapi aku mau kulineran, cari yang seger dan enak. Apalagi yang nggak bakal ditemukan di Jakarta," sahut Nara.
Reka tidak masalah dengan nafsu makan Nara yang berubah, dia hanya khawatir jika Nara harus makan dari tempat sembarang atau kurang higienis karena sedang hamil.
"Tapi makanannya sehat nggak? Kamu sedang hamil sayang," ujar Reka tapi sudah memarkirkan kendaraannya di area parkir.
"Pasti bersih, kalau nggak sehat mana mungkin dia masih ramai pembeli."
Reka hanya menggelengkan kepalanya ketika meja dihadapannya menampung banyak makanan yang dibeli Nara. Tapi Nara hanya menikmati sedikit, "Kamu habiskan ya," pinta Nara pada Reka. Setelah drama siapa yang menghabiskan makanan, akhirnya Reka dan Nara kembali ke rumah.
Menjelang tengah malam, Reka merangkak ke atas ranjang di mana Nara berada. "Reka, kakiku pegal. Punggungku juga sakit," rengek Nara.
Reka dengan sabar memijat kaki Istrinya lqlu berpindah mengusap punggung Nara yang berbaring miring. Tidak lama terdengar dengkuran halus, ternyata Nara sudah terlelap.
Reka memeluk Nara dari belakang dan mencium tengkuk wanita yang amat dicintainya. "Terima kasih istriku, kamu sudah buat hidupku lebih berwarna." Tidak lama akhirnya Reka tertidur sambil memeluk Nara.
Hampir seminggu Nara berada di Jogya menemani Reka. Menjelang sore, dia akan menyusul ke perusahaan dan menunggunya di lobi atau berkunjung saat jam makan siang. Nara bersikap dewasa dengan membiarkan Reka dengan kesibukannya, karena semua itu demi masa depannya juga.
Seperti siang ini, Nara sudah tiba di perusahaan dan menunggu lift menuju lantai tempat ruang kerja Reka. Menjelang waktu makan siang, lift ramai dengan karyawan yang turun. Nara harus bersabar hingga lift kosong.
Akhirnya dia pun sampai di lantai yang dituju. Melewati ruang kerja Kris dan meja Selly yang kosong, Nara melangkah menuju ruang kerja suaminya. Pintu ruangan Reka tidak tertutup sepenuhnya, “Nggak berangkat sekarang aja, Pak sekalian makan siang.” Terdengar suara perempuan dan Nara yakin itu adalah suara Selly.
Dari tatapan mata dan gestur tubuh Selly saat bertemu, Nara tahu jika Selly itu ada minat dengan suaminya. “Pertemuan masih dua jam lagi dan nanti akan diwakili oleh bagian marketing.”
“Owh, kirain Bapak akan minta saya temani lagi.”
Brak.
“Selly, ucapan kamu itu bisa membuat orang yang mendengarnya salah paham. Kamu harus ikut dengan saya menemui klien atau menghadiri rapat karena arahan Pak Kris. Sebaiknya kamu keluar deh, ganggu aja.”
“Gimana apa?” tanya Nara sambil mendorong pintu lebih lebar. Reka yang sedang fokus membaca berkas di hadapannya meskipun ada Selly duduk di depan mejanya menoleh.
“Sayang, kamu sudah datang. Kemarilah,” pinta Reka.
Selly berdiri dari kursi yang didudukinya. Saat melewati Selly, Nara menatapnya. “Kamu ngapain di sini? Memang nggak ada kerjaan. Apa mau aku adukan ke Papih, kalau kerjaan kamu hanya godain Reka,” ancam Nara.
“Saya nggak menggoda Pak Reka, Bu,” ucap Selly mengelak.
“Lalu tadi apa? Aku dengar semua ucapan kamu ya. Jelas-jelas suami saya juga menolak bahkan mengusir kamu.”
Selly kembali akan menjawab tapi urung karena Reka memintanya keluar. “Sudahlah sayang, jangan ngambek. Tau sendiri kalau lihat kamu ngambek aku bawaannya pengen ... aduh.” Reka mengusap lengannya yang dicubit Nara.
“Jangan mesum, ini di kantor. Kita jadi makan siang nggak?”
“Jadi dong, aku sudah pesan. Bentar lagi juga diantar,” jawab Reka. Mereka menuju sofa dan duduk berdampingan. Benar saja, tidak lama pintu ruangan di ketuk dan masuklah office boy yang membawakan goody bag berisi beberapa box berisi makanan.
“Terima kasih Mas,” ucap Nara lalu membongkar goody bag dan menyusunnya di meja. Terdengar ponsel Reka berdering. Reka kembali ke meja kerjanya, “Rika,” ucap Reka saat melihat layar ponsel.
“Iya, kenapa?” tanya Reka.
“Ka, ada Bu Nara nggak?” tanya Rika di ujung telepon.
“Ada. Lo nangis ya.” Reka dan Nara saling tatap.
\=\=\=\=
Ada apa dengan Rika?
🙄