
Langit serasa runtuh seketika saat Bian dan semua orang yang ada di depan ruang operasi mendengar apa yang dikatakan oleh dokter. Bahkan Bian terlihat sangat terpukul hingga berteriak bahwa hal itu tidak mungkin terjadi, bahwa dokter itu salah. Sementara Nadia dan David juga terlihat menyesalkan apa yang sudah terjadi.
“Maaf, Pak. Kita harus segera mengeluarkan bayinya, agar kita bisa menyelamatkan sang ibu” kata dokter itu.
“Apa tidak ada cara untuk menyelamatkan anak saya, Dok?” seru Bian dengan tangisnya yang mulai pecah.
“Maafkan saya, Pak.”
Bian semakin hancur. Perasaan menyesal yang tiba-tiba muncul pun sudah tidak berguna lagi. Dia harus segera mengambil keputusan atau dia juga akan kehilangan Alisha.
Akhirnya dengan penuh keterpaksaan, Bian menyetujui keputusan untuk mengeluarkan bayi mereka. Menurut dokter yang menangani Alisha, bayi mereka tidak bisa diselamatkan karena pada saat mobil yang Alisha tumpangi menabrak tiang listrik, tubuh Alisha juga terantuk dengan sangat keras, terutama bagian perutnya.
Sementara Bian sedang mengurus dokumen persetujuan operasi Alisha, David mendapat info dari dokter yang menangani supir Alisha. Mereka mengatakan bahwa di dalam tubuh supir itu ditemukan sebuah zat adiktif benzodiazepin yang biasa digunakan untuk menghilangkan gejala insomnia alias sebagai obat tidur.
Mendengar hal itu, David mulai mencium ada hal yang tidak beres dalam hal ini. Bagaimana bisa supir Alisha mengonsumsi obat yang termasuk dalam kategori narkotika.
“Ada yang nggak beres” gumam David.
Nadia yang mendekat ke arah David berdiri pun turut mendengar gumaman tersebut tanpa disengaja.
“Apa yang nggak beres? Kecelakaan Alisha, kan?” tanya Nadia tiba-tiba.
Kaget dengan kemunculan Nadia yang tiba-tiba, David pun terperanjat.
“Bukan apa-apa!” kilah David.
“Jangan bohong! Aku dengar soal obat itu!” seru Nadia keras.
David langsung memberi isyarat dengan jari telunjuknya agar Nadia tidak berteriak apalagi membahas itu keras-keras. Dia menarik tangan Nadia menuju satu tempat yang agak sepi dari orang-orang. Di tempat itu David berkata agar Nadia tidak membahasnya pada siapapun sebelum dia menemukan kebenaran dari hal itu.
Alih-alih memikiran obat dalam tubuh supir, Nadia justru memikirkan nasib dan keselamatan Alisha. Sahabatnya masih terbaring tak sadarkan diri tanpa mengetahui bahwa bayinya telah tiada. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kesedihan itu akan membayangi hidup sahabatnya.
***
Tubuh Alisha yang penuh luka masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Kamar VVIP yang diminta Bian pun penuh dengan orang-orang yang ingin tahu keadaan Alisha. Nadia, David, dan ibu Alisha pun turut menunggu wanita itu membuka matanya. Semua memasang raut wajah sedih yang mendalam. Kehilangan anak pertama akan sangat memukul mental Alisha. Bian yang terus berada di samping Alisha pun masih tak bisa membendung air matanya. Berkali-kali dia mengucapkan permintaan maaf di telinga Alisha yang masih memejamkan matanya.
Di tengah keheningan itu, pintu kamar terbuka diiringi dua orang yang memasuki ruangan yang cukup besar itu. Bian yang secara kebetulan menoleh saat pintu dibuka, langsung membelalak setelah tahu siapa orang yang datang. Ia bahkan langsung berdiri hingga membuat David dan Nadia kebingungan melihatnya.
“Berlian..” gumam Bian lirih.
Dua orang yang memasuki kamar itu adalah Mama Liana yang datang bersama Berlian. Mereka datang bersamaan dengan ekspresi wajah yang tampak palsu. Setidaknya di mata Nadia.
“Nyonya, bukankah Anda masih di luar kota?” tanya David.
“Iya, aku baru pulang langsung kesini” jawab Mama Liana.
“Kok bisa bareng sama Ibu Berlian?” tanya David lagi.
“Ketemu di depan tadi. Gimana keadaan mantuku?”
David menjelaskan pada Mama Liana tentang semua yang terjadi, kecuali perihal obat itu. Sementara Bian masih tak melepaskan pandangannya dari Berlian yang duduk di depan ranjang Alisha.
Bian terus menatap Berlian yang tak membalas tatapannya. Ia sama sekali tidak berinteraksi dengan Bian. Namun kecanggungan di antara Bian dan Berlian memunculkan rasa curiga dari Nadia yang sedari tadi memandang mereka berdua.
“Jadi, apa kau sudah mengurus mobil dan supir itu?” tanya Mama Liana pada Bian yang masih membisu.
“Kau harus segera mengurusnya, Bian!”
Saat nada suara mamanya meninggi, Bian menatapnya dengan tajam.
“Alisha masih seperti ini, Ma! Bisa-bisanya mama suruh aku ngurusin itu!” kata Bian dingin.
Merasa akan muncul perdebatan yang tak perlu, David meminta Mama Liana dan Bian untuk saling menenangkan diri. Nadia juga merasa jengah karena pembahasan yang tidak pada waktunya itu, seolah mereka tidak mempedulikan perasaan dan kesehatan Alisha di depan mereka. Nadia merasa mereka semua bersikap aneh.
Begitu pula dengan Berlian yang sedari tadi hanya diam sambil sesekali menyeka sesuatu dari matanya. Entah karena apa, dia tiba-tiba berpamitan untuk pergi setelah berbasa basi mengenai Alisha.
Setelah Berlian keluar dari kamar itu, Bian mulai merasa bimbang. Apakah dia harus mengikuti Berlian dan bertanya padanya soal malam itu, atau dia membiarkannya begitu saja. Jika dia mengikutinya sekarang, sepertinya tak pantas dan bukan waktu yang tepat. Akan tetapi jika dia membiarkannya berlarut-larut, justru akan membuat semua menjadi runyam.
Akhirnya dengan penuh pertimbangan yang cepat, Bian memutuskan untuk mengikutinya dengan beralasan akan pergi ke ruang dokter. Setelah mendapatkan posisi Berlian yang sudah agak jauh darinya, Bian langsung mengajaknya ke area parkir dan masuk ke dalam mobilnya.
“Lepasin!” kata Berlian dengan nada protes.
“Berlian, apa kau sengaja melakukan itu padaku?” hardik Bian.
“Apa maksudmu?” tanya Berlian dengan wajah yang penuh rasa heran.
“Apa benar semua yang kau tulis di catatan itu? Apa benar kita melakukannya malam itu?” cecar Bian.
“Kalau kamu nggak bisa menerima kenyataan itu, setidaknya kamu harus ingat apa yang kamu lakukan, Mas!”
Berlian melepas tangan Bian yang masih mencengkeram tangannya. Dia langsung keluar dengan derai air mata yang membasahi wajahnya. Merasa tak mendapat jawaban yang ia inginkan, Bian berteriak keras dalam mobilnya. Ia sangat frustasi karena tak bisa mengingat kejadian di malam itu. Dalam hatinya ia menyesal dan ingin percaya bahwa mereka tak pernah melakukan hal terlarang itu. Tetapi melihat sikap Berlian, ia mulai goyah.
Bian pun keluar dari mobilnya dan mengejar Berlian. Setelah berhasil meyakinkannya, mereka kembali masuk ke dalam mobil Bian dan meninggalkan area parkir rumah sakit.
Bian menghubungi David agar menjaga Alisha sebentar sementara dia sedang mengurus sesuatu di luar. David pun menerima perintah itu tanpa bertanya lebih lanjut. Meski ia curiga dan heran dengan sikap Bian yang meninggalkan istrinya di saat seperti itu.
Ternyata Bian menuju ke rumah Berlian, tempat dimana ia bangun di hari itu dengan segala kebingungannya. Ia merasa harus membicarakan hal itu tanpa menunda waktu lagi.
“Kenapa kamu bawa aku kesini? Kamu harus jaga istrimu!” kata Berlian acuh.
“Berlian! Kita harus ngomongin ini!” teriak Bian.
“Ngomongin apa lagi, Mas? Apa aku bisa menuntutmu untuk hal itu? Apa aku bisa meminta kamu bertanggung jawab dengan apa yang sudah kita lakukan?” teriak Berlian dengan penuh air mata.
Bian tampak gusar. Sorot mata dan sikapnya penuh dengan kebingungan yang luar biasa. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
“Lihat, kan? Kamu aja diam saat aku ngomong begini. Mau bahas apa lagi?” kata Berlian.
“Jadi benar, kita ngelakuin hal itu?”
“Mending kamu pergi dari sini! Aku nggak mau lihat kamu! Kalau pun aku hamil nantinya, aku nggak akan nuntut apapun dari kamu!” kata Berlian lagi.
Berlian mendorong tubuh Bian ke arah pintu rumahnya. Namun Bian justru kembali berbalik dan memeluk Berlian yang sudah menangis sejadinya.
Entah apa yang merasuki Bian saat itu, di saat dia dan Alisha tengah kehilangan sang buah hati, dan istrinya juga masih terbaring tak berdaya di rumah sakit, dia justru mengurusi hal seperti itu. Ditambah lagi dengan sadar dia memeluk wanita lain yang telah melakukan hal tak pantas bersama dirinya.
Hari itu, pertama kalinya Bian merasa menjadi laki-laki bajingan dan brengsek dalam hidupnya.