Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Jangan Yang Itu


Nara berjalan menuju kamar mereka, bermaksud segera membersihkan diri. Reka mengekor sambil merengek, “Ra, aku serius nggak ada apa-apa. Itu mereka aja yang sering kirim pesan. Tapi aku nggak pernah respon, sumpah Ra.”


Reka sejak turun dari mobil berusaha menjelaskan masalah pesan yang dibaca Nara. Nara hanya bungkam karena sudah gerah dan ingin mendinginkan tubuhnya dengan bergegas mandi. Reka menduga jika Nara sedang merajuk karena masalah pesan-pesan dari para wanita.


Nara duduk di pinggir ranjang, melepas sepatunya lalu beranjak bangun. “Ra, kamu mau kemana?” tanya Reka saat Nara melepaskan sepatunya lalu meninggalkan Reka.  “Toilet, kenapa? Mau ikut,” ucap Nara.


Reka menggelengkan kepalanya sambil terus menatap Nara. Saat pintu kamar mandi sudah tertutup, Reka mengusap kasar wajahnya. “Arggg, ngapai juga itu perempuan masih aja pada chat.” Reka melepas jas dan melemparkannya pada ranjang, termasuk melepaskan dasi yang terasa mengikat erat lehernya.


“Ra,” panggil Reka sambil mengetuk pintu kamar mandi. Merasa Nara sudah cukup lama di dalam. Akhirnya pintu dibuka, menampakan tubuh Nara yang hanya mengenakan bathrobe dengan rambut digulung ke atas.


“Lama bener Ra, aku takut kamu kenapa-kenapa di dalam,” sahut Reka. Harum sabun mandi menguar di hidung Reka, ditambah dengan penampakan leher Nara yang jenjang membuatnya harus menelan saliva saat pikirannya mendadak traveling. Reka kembali mengekor Nara yang berjalan menuju ranjang. “Ngaapain ikuti aku, bukannya cepat mandi.”


Reka meraih tubuh Nara dan memeluknya. Nara berusaha melepaskan pelukan Reka. “Lepas ih,” ujar Nara.


“Ra, kamu jangan marah dong. Aku ‘kan sudah jujur,” bujuk Reka.


“Reka, lepas.” Masih berusaha melepaskan pelukan Reka.


“Aku nggak akan lepaskan kalau kamu masih marah.”


“Marah apa? Justru aku akan marah kalau kamu nggak cepat lepas dan mandi. Badan kamu lengket, baunya nggak enak. Bikin aku mual,” keluh Nara.


Reka pun melonggarkan pelukannya dan dimanfaatkan oleh Nara untuk mendorong tubuh Reka agar menjauh. “Kamu nggak marah ‘kan?”


“Mandi,” titah Nara.


“Ra.”


“Mandi atau tidur di luar,” ancam Nara.


Reka bergegas menuju kamar mandi. “Heran, udah mau jadi Bapak tapi kelakukan masih kayak bocah.”


Reka sudah mengenakan boxer dan kaus tanpa lengan setelah membersihkan diri, menaiki ranjang menyusul Nara yang sudah merebahkan diri lebih dulu. Nara yang mengenakan gaun tidur dengan tali spagethi, menampilkan bahu yang putih nan mulus. Belum lagi kedua kaki dan paha yang terekspos sempurna seakan menggoda keimanan Reka.


“Ra,” panggil Reka.


“Kaki aku pegal,” rengek Nara. “Aku pijat deh," ujar Reka. Reka memijat area yang ditunjuk Nara, yaitu telapak kakinya. Lama kelamaan tangan Reka memijat semakin ke atas dan mengusap paha Nara.


"Anggap aja pijat ples ples, Ra." Reka bermaksud mengalihkan atensi Nara agar tidak membahas masalah pesan di aplikasi chat miliknya.


"Kamu biasa kasih layanan pijat ke siapa aja?"


"Yah, salah statement. Nggak ada sayang, cuma untuk kamu aja. Layanan spesial, sampai pagi pun aku siap," sahut Reka. "Mau dimulai sekarang layanannya?"


"Jangan aneh-aneh. Pijat lagi, sekarang pinggang aku. Kamu nggak merasakan hamil, tau enaknya aja."


"Iya sayang, buat kamu apa sih yang nggak. Pijat pinggang boleh, usap atau rem@s area lain juga aku siap."


"Dasar mesum," ejek Nara.


"Mesum aku bikin nagih."


"Reka! Jangan pijat yang itu."


Nara akhirnya benar-benar lupa dengan cemburunya. Berganti dengan celoteh bahkan dessahan karena ulah Reka yang memberikan layanan pijat ples ples sesuai ucapannya.


Kedua insan itu terlena dengan sentuhan-sentuhan yang berlanjut dengan saling memagut dengan lembut dan saling menuntut. Membuat keduanya menginginkan lebih dari sekedar sentuhan dan pagutan bibir.


 


\=\=\=\=\=\=\=


Mau lanjut takut hareudang 😆