Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Candle Light Dinner


Lebih dari satu jam, Reka berada di ruang sidang menjelaskan dan mempertanggungjawabkan karya ilmiah hasil studinya. Dengan penuh semangat dan percaya diri siap meraih kesuksesan lulus kuliah dengan nilai sempurna dan pastinya tidak membuat malu Nara sebagai dosen dan istri tercinta.


Reka akhirnya keluar dari ruang sidang, langsung dihampiri oleh Yasa dan Dewa. “Gimana Bro, lancar lo?” tanya Yasa.


“Lancar apaan?” tanya Dewa karena pertanyaan ambigu Yasa.


“Biasa aja, santai aja, rileks.” Reka lalu duduk pada kursi yang berjajar di koridor. “Sumpah, gue tadi sempet nervous,” ucap Reka sambil menyeka keringat di dahinya.


“Kampr*t, tadi lo bilang rileks aja, taunya merinding disko juga ‘kan,” ujar Yasa sambil ikut duduk di samping Reka.


“Yang penting sudah selesai, tinggal tunggu pengumuman. Nara, Abang sudah siap lahir batin jadi Daddy. Kalau kemarin masih malu-malu, sekolah aja belum beres,” teriak Reka. Di ruang sebelah, Rika baru saja selesai dan keluar dari ruang sidang. Menghampiri Reka, “Reka,” ujarnya sambil memasang wajah cemberut.


Reka mengernyitkan dahinya, menatap Rika. “Kenapa?”


“Hiks.” Rika menghambur ke dalam pelukan Reka. “Kalau aku gagal lulus, gimana?” Reka mengusap punggung saudara kembarnya. “Ya mau gimana lagi, berarti otak lo segitu mampunya,” sahut Reka.


“Reka!” jerit Rika.


“Sompl*k, adiknya galau malah dibuat makin terpuruk.” Dewa hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan kekonyolan Reka.


Reka terbahak, “Kalau nggak lulus, tinggal coba lagi kayak hadiah di minuman gelasan.” Mengurai pelukan Rika karena perutnya mendapatkan cubitan. “Apaan juga yang lo khawatirkan, punya suami pewaris salah satu cabang Two Season. Papih juga sudah siap kasih saham atas nama lo, artinya kehidupan tujuh turunan delapan tanjakan dan sembilan belokan sudah aman terjamin karena dollar terus mengalir.”


Rika berdecak mendengar ocehan Reka. “Harta sebanyak apapun kalau Tuhan mau ambil, hitungan menit bisa ludes.”


“Nah, cakep ini. Kalau gue pengujinya, gue pastiin lo lulus,” ujar Yasa mengejek Rika.


“Ih, kalian bertiga itu sama gilanya ya.”


“Mereka doang, saya mah nggak,” sahut Dewa membela diri.


Reka, Rika dan dua sahabat Reka lengkap dengan Vano, menunggu pengumuman hasil sidang dengan bergurau. Akhirnya yang ditunggu pun tiba, semua peserta masuk ke ruang sidang masing-masing untuk mendapatkan penjelasan hasil kelulusan.


Tanpa diduga oleh Reka, saat dia keluar ruangan setelah mendapatkan informasi hasil sidang dikejutkan dengan kehadiran Nara. Padahal tadi pagi jelas Nara mengatakan agar Reka menghubunginya jika sudah selesai, ternyata istrinya sudah stay sebelum Reka berkabar.


“Yah, nasib jomblo, kita peluk siapa?”


“Entahlah,” sahut Dewa.


“Siap publish nih?” tanya Reka belum melepaskan pelukannya. Nara hanya menganggukan kepalanya tanda setuju dengan pertanyaan Reka. Tentu saja momen itu menjadi perhatian bagi yang melihat Reka memeluk Nara.


“Apa lihat-lihat, mereka suami istri,” ketus Rika pada orang disekitar mereka yang masih memperhatikan Reka dan Nara. “Aku mau peluk juga,” ujar Rika bergabung memeluk kakak dan iparnya.


“Gimana, lulus?” tanya Reka sambil merangkul bahu Nara.


“Hm, gimana ya,” jawab Rika sambil menoleh ke arah lain. Reka berdecak, “Tadi nangis-nangis sekarang nyebelin,” sahut Reka.


“Tapi Bang Eltan bilang aku menggemaskan.”


“Coba Bang El suruh periksa mata, mungkin sudah minus parah,” ejek Reka.


“Pastinya lulus dong,” ucap Nara pada Rika yang dijawab dengan anggukan kepala. Hari itu ditutup dengan kebahagiaan karena semua rekan Reka akhirnya bisa melangkah maju dengan hasil kelulusan mereka.


“Malam ini spesial untuk kita berdua,” ujar Reka saat sudah berada dalam mobil bersama Nara. Menghidupkan mesin mobil lalu mulai melaju meninggalkan area kampus.


“Ada apa dengan nanti malam?”


“Kita candle light dinner. Nggak usah deh mikirin datang ke pesta saudara kamu dan si pengecut Reno.” Nara baru ingat jika malam ini adalah resepsi pernikahan Cindy dan Reno. Mereka sepakat tidak hadir demi menjaga kenyamanan Nara. Tapi Kevin dan Meera tetap hadir demi menjalin hubungan baik dengan orangtua dan kakek Nara sebagai besan mereka.


“Kamu nggak ada niat mau hadir ‘kan?” tanya Reka. 


\=\=\=\=\=\=


Yuhuuu mampir yesss