
Nara tidak ingin melewatkan kesempatan menghabiskan waktu bersama Reka, sudah jelas beberapa hari ke depan mereka akan kembali terpisah karena Reka yang harus kembali ke luar kota.
Reka bahagia bahkan tak kalah bangga dengan dirinya karena melihat Nara yang sangat manja. Tidak terbayangkan jika Nara akan sangat menggemaskan ketika bermanja atau merajuk karena terkenal dengan Nara yang jutek dan serius.
"Habis ini mau kemana?"
"Aku ikut aja, yang penting sama kamu," ujar Nara malu-malu."
"Asyik, ih gemesin amat. Istri siapa sih," ejek Reka sambil menjawil pipi Nara. Reka mengajak Nara meninggalkan cafe. Pasangan pengacau sudah beranjak pergi sejak tadi karena tidak ingin menjadi obat nyamuk menyaksikan kemesraan Reka dan Nara yang tersipu karena ulah suaminya.
Di parkiran cafe, Reka menukar kunci kendaraan dengan Leo. "Kita mau langsung pulang, Bang. Papih barusan kirim pesan, ditunggu di rumah,” ucap Reka pada Leo.
“Ada masalah apa? Kok tumben Papih kamu minta kita cepat pulang?”
“Entahlah,” jawab Reka sambil fokus pada kemudi. “Tapi kamu nggak masalah ‘kan kita nggak jadi ke tempat lain?”
“Ya nggak lah, di rumah juga nggak masalah. Kamu bisa istirahat aku juga bisa rehat.”
“Malah lebih gampang ya kalau mau ngapa-ngapain,” sahut Reka sambil tersenyum.
“Skripsi kamu beresin, jangan sampai menunda kelulusan,” nasihat Nara.
“Nggak dong sayang, masa nanti kamu melahirkan tapi aku belum selesai kuliah,” sahut Reka.
“Kirain kamu mau jadi mahasiswa abadi.”
Mobil mereka berhenti karena lampu lalu lintas, Reka menoleh dan mengusap puncak kepala Nara. “Kalau mahasiswa abadi di hati kamu, nggak masalah asal jangan mahasiswa abadi di kampus.”
Nara tersenyum, Reka memang sering menggoda dengan rayuan atau pujian untuknya. Walaupun kadang terbersit tanya, apakah Reka mengobral rayuannya pada banyak perempuan sebelum mengenal Nara. Satu hal yang Nara yakini jika Reka saat ini benar-benar setia hanya kepadanya.
Mobil yang membawa pasangan itu sudah terparkir sempurna di carport kediaman Kevin. “Aku langsung temui Papih,” ucap Reka. Nara mengangguk dan mengatakan jika dia akan istirahat di kamar.
“Sudah, nggak usah ribut. Cepat temui Papihmu.”
Mendiskusikan terkait urusan di Yogya, Kevin yang seminggu ini harus fokus pada perusahaannya di Jakarta. Meminta Reka bersama asistennya untuk melanjutkan rencana dan pekerjaan di cabang. “Tapi aku berangkat senin sore, paginya aku harus ketemu dospem,” tutur Reka.
“Setelah kalian pergi, ada Pak Radit. Sebenarnya ingin menemui Nara juga menyampaikan pernikahan saudara tiri Nara yang dijodohkan dengan Reno. Apa Nara akan hadir di acara itu?”
“Aku nggak yakin Pih. Nara semakin tidak respect dengan keluarganya.”
“Kalau hal itu, kita serahkan pada Nara. Walaupun dia mau hadir, kita pastikan juga siapa saja yang harus mendampingi. Jangan sampai nanti di sana dia kembali tersakiti,” saran Kevin.
“Hmm.”
“Tapi kalian tidak usah khawatir, Elang sepertinya sudah mengancam Abimana agar Reno tidak melakukan kesengajaan untuk memicu permasalahan dengan Nara. Kita lihat apakah hal itu didengar oleh Reno jika tidak kita lakukan rencana lain,” ungkap Kevin.
Cukup lama Reka dan Kevin berdiskusi. Reka menatap Bundanya yang bergabung dengannya di ruang kerja Kevin. “Bunda mau kemana? Rapih amat.”
“Memang kamu doang yang mau menghabiskan waktu sama pasangan. Bunda juga sama, ayo Pih,” ajak Meera.
“Halah, paling juga mau undangan. Nggak mungkin banget Bunda sama Papih kencan,” ledek Reka.
“Sudahlah, ayo berangkat sekarang. Semakin siang semakin ramai,” ucap Kevin lalu menghampiri Meera dan merangkulnya lalu meninggalkan Reka. Reka bersiul menaiki anak tangga lalu menuju kamarnya.
“Loh, kamu kenapa sayang?” tanya Reka yang melihat Nara duduk di pinggir ranjang dengan mata sembab dan ponsel di tangannya.
\=\=\=\=\=\=
Selamat menikmati hari minggu, untuk kaum rebahan 🥰