Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Bab 12


Ting


Alisha membuka ponselnya dan melihat sebuah video masuk ke dalam kotak masuk emailnya.


Alisha pun membuka video dengan judul "Hadiah dari Bian" itu.


Sesaat setelah Alisha melihat video itu, wajah Alisha yang tadinya biasa saja, kini berubah menjadi raut wajah terkejut luar biasa.


Bagaimana tidak, jika apa yang ia lihat adalah video suaminya yang tengah bermesraan di tempat tidur bersama seorang gadis yang tak terlihat wajahnya.


Alisha menghentikan menonton video itu. Ia bahkan membanting ponselnya ke tanah. Alisha tak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Suami yang menurutnya sempurna, ternyata memiliki masa lalu yang tak diketahuinya.


Alisha memungut kembali ponselnya dengan tangannya yang bergetar. Ia melihat ponselnya sudah tak bernyawa, seperti dirinya yang baru saja terasa kehilangan 'nyawanya'.


Mungkin dunia Alisha tidak seindah dunia orang lain. Bahkan ia sering merasa ingin keluar dan meninggalkan dunianya. Setelah menikah dengan Bian, ia merasa dunianya berubah. Walaupun ia harus bertarung dengan sang mertua yang membuatnya jengah, tapi Alisha masih mengandalkan Bian suaminya. Ia mempercayainya lebih dari siapapun.


Namun saat itu, bola kepercayaan Alisha seakan retak. Tinggal menunggu satu hentakan maka semuanya akan pecah berantakan.


Ia bergegas kembali ke rumah untuk menemui suaminya. Alisha menyerahkan pekerjaannya pada Nadia, sebab ia tak yakin bisa menyelesaikannya dengan keadaan seperti itu.


Begitu Alisha tiba di rumah, ternyata Bian juga sudah berada di sana. Ia mencoba memasang wajah biasanya kembali. Ia masih menyimpan satu harapan kecil pada suaminya itu. Alisha tidak ingin terjadi satu kesalahpahaman yang bisa menghancurkan rumah tangganya.


Ia melangkah mendekati suaminya yang sedang duduk di sofa di sudut ruang tamu. Raut wajah Bian terlihat bingung dan frustasi. Alisha pun mengucapkan salam padanya dan meraih tangan sang suami untuk dikecupnya seperti biasa.


Namun tak seperti hari-hari sebelumnya, Bian yang biasa mengecup kening sang istri setelah ia mencium tangannya, kini dia hanya menatap ruang kosong di samping istrinya.


Alisha bisa membaca ketidakberesan yang ada di wajah suaminya. Ia ingin bertanya padanya, tapi apakah Bian akan menceritakan masalahnya padanya? Apakah ia bisa membantunya jika ternyata masalah itu adalah masalah di kantornya? Pikiran Alisha kalut saat itu.


"Sayang, ada apa? Kenapa wajahmu begitu?" tanya Alisha memberanikan diri.


Bian membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Ia membalas pertanyaan Alisha dengan senyuman tanpa arti dan berlalu meninggalkannya ke ruang kerja.


Alisha terpaku. Baru kali ini Bian meninggalkannya begitu saja dengan sikap dingin seperti itu. Kini pikirannya semakin kalut dan rumit. Sebenarnya apa yang terjadi dengan suaminya itu. Di saat ia ingin meluruskan hal buruk tentang suaminya, yang didapatnya justru sikap dingin tanpa kejelasan apapun dari Bian.


Alisha kembali teringat akan janji mereka berdua sebelum menikah. Apapun yang terjadi, jika ada sebuah kesalahpahaman, maka harus diselesaikan saat itu juga. Dan demi kelangsungan rumah tangganya, Alisha pun melangkah mencari Bian di ruangan kerjanya.


Tok tok


Alisha membuka pintu ruang kerja Bian setelah mendengar suara yang mengijinkannya untuk masuk. Ia melihat Bian duduk di belakang mejanya dengan setumpuk berkas yang ia baca. Sesaat Alisha memandang suaminya, dengan kacamata bacanya, dengan baju kasualnya, dan rambutnya yang sudah tak lagi tersisir rapi. Alisha menyukai penampilannya saat itu.


Tiba-tiba air matanya menetes. Ia pun segera menyapunya dengan punggung tangan sebelum Bian menyadarinya.


"Sayang, ada apa?" tanya Bian.


"Mm..apa kamu sibuk?"


Bian menggeleng ringan. Alisha pun bergerak mendekatinya dengan perlahan.


Alisha terlalu gugup untuk memulainya. Ia terus meremas kelima jarinya dengan jari tangan lainnya.


"Aku mau bicara" ucap Alisha.


Bian beranjak dari kursi kerjanya dan berganti duduk di sofa yang ada di sudut lain di ruangan itu. Ia menepuk ruang kosong di sofa itu, memberi kode agar Alisha duduk di sampingnya.


"Ada apa?" tanya Bian dengan nada lembutnya.


Entah kenapa Alisha malah merasa bersalah ketika ingin mengonfirmasi perihal video yang dilihatnya. Suaminya terlihat begitu lelah dan penuh dengan pikiran. Tapi ia tetap pada tekadnya.


"Aku..aku mau tanya soal ini" ucap Alisha sambil menyodorkan ponselnya.


Bian meraih ponsel itu, namun dahinya mengernyit heran.


"Yang, ini ponsel kamu mati. Kenapa bisa pecah kayak gini? Jatuh?" tanya Bian.


Alisha terkejut, ia lupa bahwa ponselnya telah rusak karena ia banting sebelumnya.


"Ah, aku lupa. Iya, tadi terjatuh pas aku ngangkat tumpeng" kilahnya.


"Hati-hati dong, sayang. Kan semua kerjaan kamu ada di hp kamu" kata Bian sambil mengelus pipi Alisha.


Hati Alisha berdesir. Dalam pikirannya ia bertanya, apakah ini tanda bahwa ia harus menyimpan masalah itu sendiri? Apakah jika ia bertanya pada suaminya, rumah tangga mereka akan hancur? Ah, masa bodoh pikir Alisha, ia memilih membiarkannya berlalu, setidaknya untuk saat itu.


***


Malam itu, seperti biasa Alisha membantu staf dapur menyiapkan makan malam di meja makan keluarga. Ia tidak peduli lagi dengan omelan-omelan mertuanya yang melarang dirinya memasuki area dapur.


Dan ketika makan malam tengah berlangsung, secara mengejutkan Mama Liana meletakkan alat makannya dan menelangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Bian sedikit terkejut, tapi ekspresinya berubah penuh senyuman.


"What? Apa benar, sayang?" tanyanya sambil menoleh ke arah istrinya.


Alisha hanya tersenyum datar sambil mengangkat kedua bahunya. Dalam hatinya ia berpikir "mau apa lagi wanita ini".


"Tapi..Mama berencana menyuruhnya bekerja di kantormu terlebih dahulu" kata Mama Liana.


"Apa maksud mama?"


Mama Liana mengangkat satu alisnya dan dengan duduk tegap ia mengatakan bahwa Alisha harus belajar dari bawah sebelum benar-benar masuk menjadi pemimpin di kantornya. Ia meminta Bian memperkerjakan istrinya sebagai sekretarisnya.


"Apa maksud mama? Aku nggak mau!" kata Bian sambil meletakkan alat makannya di piring.


Sementara Alisha pun juga tak memahami maksud dan arah dari ucapan ibu mertuanya itu.


"Kali ini kamu harus turutin mama, Bian! Jangan membantah terus!" teriak mamanya.


Alisha segera memegang tangan Bian untuk menghentikannya mendebat sang ibu. Bian meresponnya dengan menganggukkan kepalanya.


"Aku akan melakukannya!" kata Alisha.


Bian dan Mama Liana spontan mengarahkan pandangan mereka pada Alisha.


Ketika mamanya memasang senyum lebarnya seketika, Bian justru memasang wajah tak menyetujuinya.


"Yang, kamu apa-apaan sih? Kalo kamu di kantor sebagai sekretaris aku, yang ada kamu dibicarain banyak orang" kata Bian.


"Nggak apa-apa, Sayang. Percaya deh sama aku!" ucap Alisha sambil tersenyum.


Akhirnya setelah beradu pendapat selama beberapa menit, Bian menyetujui permintaan itu. Sebenarnya Alisha masih memikirkan rencana di balik tindakan mertuanya itu, tapi ia yakin bisa menghadapinya nanti.


Mama Liana meninggalkan ruang makan sambil tertawa kecil. Ia pun langsung menelepon Diandra dan menceritakan rencananya pada gadis itu. Sementara Diandra juga membalasnya dengan menceritakan rencana yang sudah ia jalankan sebelumnya.


"Apa? Wah, kamu berani banget, Diandra sayang" seru Mama Liana sambil tertawa keras.


"Biar tau rasa anak itu!" ucapnya lagi sambil menutup teleponnya.


***


Alisha menarik napasnya panjang sebelum masuk ke kantor suaminya. Meski ia berangkat bersama suaminya sendiri, tapi ini pertama kalinya dia bekerja di kantor sebesar itu, terlebih sebagai sekretaris seorang bos.


Bian yang melihat istrinya tengah mengatur napas dan gugup, langsung meraih tangannya dan mengajaknya masuk.


Begitu sampai di dalam ruangan Bian, yang mereka temukan justru Diandra yang tengah duduk manis di kursi Bian.


"Hai, pasangan romantis bulan ini!" sapanya mengejek.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" seru Bian keras.


"Aku bukan mau nemuin kamu, Bian sayang. Aku kesini mau ketemu istri kamu" jawab Diandra.


Ia mendekati Alisha dan menatapnya dengan senyuman liciknya.


"Apa kau sudah terima pesan dariku?" tanya Diandra.


Alisha terkejut mendengar kata pesan dari mulut Diandra. Tetiba ia berasumsi bahwa email yang kemarin masuk di ponselnya adalah dari Diandra.


Apakah wanita itu Diandra? batin Alisha.


Seperti bisa membaca pikiran Alisha, Diandra menjawab pertanyaan itu.


"Benar, seperti yang kau pikirkan saat ini, itu aku" kata Diandra.


Hati Alisha sontak mencelos. Keringat dingin juga perlahan mulai menuruni pelipisnya. Ia terdiam sampai Diandra kembali memprovokasinya.


"Sepertinya suamimu belum tahu. Segera katakan padanya, keliatannya dia sudah tidak sabar" kata Diandra sambil tertawa dan melangkah meninggalkan ruangan itu.


Sementara itu, Bian yang tak tahu apa-apa, mulai curiga pada perubahan sikap istrinya. Ia pun mendesak Alisha untuk mengatakan apa yang terjadi di antara dirinya dan Diandra.


Alisha menyodorkan ponselnya tanpa bersuara sedikitpun. Dengan cepat Bian meraih ponsel Alisha dan memutar video yang sudah ada di depan matanya. Begitu ia memainkan video itu, Bian langsung mematikannya. Tangannya tiba-tiba bergetar walaupun segera ditutupinya.


Bian melihat video dirinya yang tengah berada di sebuah kamar hotel bersama gadis yang ia kenali sebagai Diandra.