Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Pagi Yang Tidak Damai


Reka mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menatap layar ponsel yang di pegangnya. “Kok ada di kamu sih, bukannya di tas aku?” tanya Nara. Mampus gue, batin Reka.


“Sudah makan dulu,” ujar Reka menunjuk piring di hadapan Nara dengan dagunya.


“Urusan kita belum selesai,” ucap Nara.


Reka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ikut menikmati makan malam mereka, dengan benak penuh tanda tanya apa yang akan dilakukan oleh Nara. Istrinya terlihat biasa saja dan itu yang membuat Reka gelisah. Lebih senang melihat Nara memarahinya dibanding diam tanpa bisa ditebak.


Nara berdiri lalu mengambil piring Reka yang sudah kosong dan juga piringnya dan meletakkan di cucian piring. Meninggalkan ruang makan setelah mengambil box salad yang diberikan Bunda untuknya. Reka berjalan mengekor, “Ra,” panggilnya. Nara acuh, dia terus berjalan menaiki tangga menuju kamar.


Meletakan tas kerjanya di atas meja rias lalu melepaskan sepatunya. “Ra, jangan diam begitu. Aku jadi bingung.”


“Lalu kamu ingin aku bagaimana? Joget-joget karena tangan suamiku cukup terampil. Kamu tahu, aku jadi curiga jika kamu menyembunyikan sesuatu,” ujar Nara. Reka mendekati Nara dan kini mereka berhadapan. “Aku hanya tidak ingin kamu salah paham, Ra.”


“Kamu tinggal menjelaskan, aku manusia pakai logika bukan perempuan yang suka cemburu buta,” sahut Nara lalu menghela nafasnya. “Sepertinya aku harus menyiapkan hati karena suami aku memang playboy.” Nara berjalan menuju kamar mandi.


“Berani sumpah Ra, nggak ada perempuan lain di hati aku. Kamu tahu sendiri, mereka yang baper lalu menghubungiku terus,” jelas Reka.


Brak.


Nara menutup pintu kamar mandi. “Ah, sial banget sih. Gara-gara Cindy, lihat aja kalau gue dan Nara makin ribut gue bakal kasih perhitungan,” ancam Reka.


Nara keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk terlilit di pinggangnya, tidak melihat Reka di kamar. Setelah mengenakan piyama, Nara menuju balkon. Setelah cukup lama berada di balkon sambil menghabiskan saladnya, Nara beranjak masuk. Hatinya masih tidak nyaman dengan kelakukan Reka yang mengambil ponselnya. Memilih tidur lebih awal karena tidak ingin larut dalam kekesalannya.


***


Reka terbangun karena hidungnya mencium aroma minyak kayu putih. Semenjak merasakan mual parah, Nara tidak lagi menyemprotkan parfum tapi mengganti dengan minyak kayu putih. Melihat Nara sudah rapi dengan pakaian kerjanya, Reka menoleh ke arah jam dinding ternyata sudah pukul tujuh pagi.


“Ra, kamu masih marah?” tanya Reka sambil beranjak duduk.


Nara diam saja. Reka meraih ponselnya di atas nakas. “Sumpah Ra, nggak ada yang kusembunyikan. Aku hanya tidak ingin kamu salah paham, kalau tidak percaya silahkan periksa,” tutur Reka sambil mengulurkan ponselnya.


“Nggak perlu, sudah tidak tertarik.”


Reka menghela nafasnya, “Lalu, kenapa masih diam?”


“Memang kamu pikir aku biasanya seperti apa? Mode aku memang begini,” ungkap Nara. Reka memijat dahinya, “Ra, aku tidak suka situasi begini. Kita harus terbuka, karena aku nggak paham dengan clue yang kamu sampaikan.”


“Aku tidak memberikan clue apapun. Bukannya di sini kamu yang tidak terbuka, ngapain harus umpet-umpetan mengamankan ponsel. Karena banyak rahasianya? Kamu harus terbiasa, karena sifat aku memang begini,” terang Nara.


“Atau memang aku bukan perempuan selera kamu? Seperti kata Cindy.” Nara menatap Reka dengan raut wajah berani dan menantang. Kedua tangan Reka mengepal keras menahan emosi, bukan marah kepada Nara tapi kepada situasi yang membuat pagi mereka tidak damai. 


\=\=\=\=


Hayo Reka, nakal sihh. Bu Dosen, Rekanya sentil aja 😀