
Mobil yang membawa Nara dan Leo sudah melaju meninggalkan restoran. “Langsung pulang atau ....”
“Pulang.”
“Baik, Bu,” jawab Leo. Tidak ada percakapan selama perjalanan. Tanpa menoleh ke belakang, Leo tahu jika Nara menangis meski tanpa suara.
Nara bergegas menuju kamarnya setelah tiba di kediaman Kevin. Meera yang mendengar deru mesin mobil keluar kamar dan hanya melihat Leo. “Nara mana? Cepat sekali, memang sudah selesai?” tanya Meera.
Leo menceritakan kejadian di restoran meskipun tidak detail karena tidak mengenal satu persatu keluarga Nara. “Sudah hubungi Reka?”
“Setelah ini saya akan langsung laporkan pada tuan Reka.”
“Feeling saya nggak enak, mulai besok jangan sampai lengah,” titah Meera lalu meninggalkan Leo dan menuju kamar Reka dan Nara. Meera menghela nafasnya saat mengetuk pintu dan tidak ada jawaban. Dia membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci, “Nara, sayang kamu kenapa?” tanya Meera melihat Nara yang duduk di ranjang dengan wajah dibenamkan di lutut kaki yang dilipat.
“Bunda,” ujar Nara lalu memeluk ibu mertuanya. Meera mencoba menenangkan tangis Nara dengan mengusap punggung menantunya. “Sudah sayang, jangan terlalu dibawa emosi. Ingat, kamu sedang hamil,” ujar Meera.
“Aku heran Bun, kenapa Ibu seperti tidak sayang aku. Sebenarnya aku anak mereka atau bukan?” tanya Nara kemudian kembali menangis. Tubuh Nara berguncang karena isak tangis.
“Kalau Ayah dan Ibu tidak saling mencintai kenapa harus ada aku dan kenapa mereka malah saling membenci dan mengapa Ibu tidak ada sedikitpun bersimpati pada masalahku dengan Reno. Apa salahku pada mereka?”
Meera mengurai pelukannya mencoba mendengarkan keluhan Nara yang mungkin selama ini dipendamnya. Tanpa terasa akhirnya Nara sudah tidak menangis meskipun masih mengoceh mengeluhkan apa yang sudah dialaminya.
“Aku nggak mau bertemu mereka lagi Bun,” ujar Nara.
“Sudah ya, cukup untuk hari ini. Kita tidak boleh memutuskan sesuatu dalam keadaan emosi. Hati kamu boleh kecewa tapi coba untuk berpikir secara bijak dengan memposisikan kamu sebagai Kakek, Ibu atau Ayah. Kalaupun enggan, lebih baik kamu acuh dulu untuk sementara waktu,” tutur Meera. Walaupun dia geram dengan kelakuan Ibu dari Nara yang notabene adalah besannya sendiri tapi dia tidak ingin memperkeruh suasana dengan memutuskan hubungan Nara dan ibunya.
Nara menganggukan kepalanya mendengarkan nasihat Meera. “Sekarang kamu bersih-bersih dulu lalu istirahat.”
“Iya Bun,” sahut Nara.
Nara sudah berganti piyama tidur dan bersandar pada headboard ranjangnya. Membuka ponsel dan menghubungi Reka. Tidak lama panggilan pun terjawab.
“Halo sayangnya Reka, lagi ngapain sih?” tanya Reka di ujung sana.
“Bete,” jawab Nara singkat.
“Ish, aku lagi kangen Ra. Jangan jutek dong.”
“Reka, aku lagi kesel.”
Terdengar desahhan nafas Reka. “Sudah sayang, aku sudah dengar. Jangan dibahas lagi, hati kamu juga pasti lelah ‘kan. Mending kita sayang-sayangan aja meski hanya lewat udara,” goda Reka.
“Video call.”
“Kamu tau dari mana sih?”
“Mata batin.”
Nara berdecak, “Kapan pulang?” tanya Nara.
“Weekend sayang. Udah kangen peluk aku ‘kan?” tanya Reka lalu terbahak.
“Besok sore jadwal aku periksa. Tunggu kamu pulang atau pergi sendiri?”
“Sesuai jadwal aja. Aku akan pastikan kamu akan aman diawasi oleh Bang Leo.”
Cukup lama Reka dan Nara melepas rindu lewat sambungan telepon. Setelah panggilan berakhir, Nara langsung memejamkan matanya. Berbicara dan bercanda dengan Reka benar-benar membuatnya melupakan sejenak persoalan yang dihadapi.
***
“Makan yang banyak, tubuh kamu butuh porsi yang berbeda dari biasanya,” ujar Meera. Hanya berdua menikmati sarapan pagi mereka dengan posisi sama-sama ditinggal sementara oleh para suami.
“Iya Bun.”
“Vitamin kamu jangan lupa. Oh iya, Bunda sudah bicara dengan Elang. Siang ini kalau kamu bisa, temui Elang nanti Leo yang antar,” ujar Meera. “Bisa Bun sekalian sore aku mau ke Rumah Sakit,” sahut Nara lalu mengambil gelas di depannya dan meneguk hampir habis isinya.
“Kamu ada keluhan kehamilan? Kenapa nggak bilang,” tutur Meera dengan nada khawatir.
“Bukan begitu Bun, memang jadwal periksa aku. Reka bilang jangan menunggu dia pulang.”
“Bunda pikir ada keluhan. Ya sudah, tapi hati-hati dan jangan jauh dari Leo.”
Aktivitas rutin Nara dikampus semakin padat karena terlibat di urusan kemahasiswaan. Tapi sesuai arahan Meera agar dia menemui Elang, Nara pun meluangkan waktunya untuk memenuhi permintaan tersebut. Karena sudah pasti untuk kebaikannya sendiri. Nara berjalan menuju parkiran, membuka ponselnya dan melihat ada panggilan tak terjawab dari Radit. Biasanya sang Kakek akan terus menghubungi atau meninggalkan pesan jika panggilannya diabaikan oleh Nara. Tapi kali ini tidak, membuat Nara merasa tidak lagi dipedulikan.
Langkah Nara terhenti menyaksikan Leo yang sedang mengunci tubuh seorang pria yang tubuhnya menempel pada mobil. Beberapa orang di area parkir pun menatap ke arah Leo dan pria yang wajahnya tidak terlihat. Bahkan ada yang mendekat dan bertanya ada masalah apa.
“Bang Leo,” panggil Nara.
“Nara, tolong aku. Minta orang ini untuk lepaskan aku.”
\=\=\=\=\=\=
Lepas jangan nih?
#janganlupamampir ke igeh author yess 😍