Menikahi Perawan Tua

Menikahi Perawan Tua
Rahasia Nara (2)


Reka mengusap kepala Nara yang berada dalam pelukannya. Setelah dia berhasil memanjat dan akhirnya sampai pada puncak kenikmatan dunia, Nara akhirnya tertidur. Reka sebenarnya masih ingin mengulang adegan dewasanya bersama Nara, tapi melihat perut buncit Nara dia pun urung meminta haknya kembali.


Tubuh polos Nara menempel erat pada tubuhnya yang juga tidak terbalut kain hanya selimut yang menghangatkan keduanya. Reka belum bisa memejamkan kedua matanya, memilih meraih ponsel di atas nakas milik Nara.


Ponsel Nara tanpa password juga sidik jari untuk mengakses, memudahkan dirinya membuka ponsel pintar tersebut. Sepertinya Nara memang orang yang tertutup dan tidak memiliki banyak teman. Terbukti dari aplikasi pesan berlogo hijau, Reka tidak menemukan banyak sejarah pesan masuk atau terkirim.


“Kamu nggak merasa kesepian Ra, aku nggak melihat ada sahabat yang dekat termasuk berbagi pesan selain penggemar kamu sesama dosen,” ujar Reka seakan didengar Nara. Reka kembali mengusap kepala Nara, “Jangan khawatir sayang, aku akan selalu ada untuk kamu. Keluargaku juga siap mendukung kamu kok. Bahkan Bunda sekarang lebih sayang sama kamu dibandingkan ke aku,” keluh Reka.


Reka juga tidak menemukan pesan aneh-aneh selain dari Cindy yang masih memohon agar Nara mau mempertemukannya dengan Reka. Nara sepertinya menghiraukan dan abai terhadap pesan-pesan yang dikirimkan oleh Cindy.


Lewat tengah malam, Reka pun akhirnya mulai mengantuk. Menelusuri isi ponsel Nara membuatnya lebih mengenal Nara, meskipun dia sudah mengenal luar juga dalamnya Nara tapi dengan membuka ponsel Nara, Reka mengetahui apa yang sebelumnya dia tidak tahu. Setelah meletakkan kembali ponsel Nara, Reka mencoba memejamkan kedua matanya. Akhirnya dia dan Nara pun sudah dibuai mimpinya masing-masing.


***


Entah sudah jam berapa, tapi bunyi alarm yang disetting oleh Nara pada ponselnya sukses membangunkan Nara. Meraba nakas dengan mata terpejam untuk mengambil ponsel dan menonaktifkan alarm yang sejak tadi terdengar meraung-raung.


Nara menggeliat pelan dan menyadari bahwa dia berapa di bawah selimut tanpa sehelai benang pun. Disampingnya, Reka masih terpejam dan terlihat damai berada di buai mimpi.


 “Reka, bangun.” Nara berusaha membuat Reka terjaga tapi nihil. Suaminya masih terlelap bahkan Nara mengguncang tubuh Reka hanya membuat pria itu mengerrang dan kembali terlelap. “Reka, ini sudah siang. Aku mau pulang, atau aku tinggal,” ancam Nara. Nyatanya ancaman Nara tidak digubris Reka karena pria itu masih asyik terlelap. 


Nara berdecak, akhirnya memilih membersihkan diri lebih dulu. Karena jika dia menunda mandinya dan Reka terbangun, sudah terbayang jika Reka pasti akan mengajaknya mandi bersama dan sudah jelas bukan hanya mandi yang mereka akan lakukan. Nara masih mengenakan bathrobe kembali menatap pada suaminya yang masih berada dalam peraduan mimpi.


“Reka,” panggil Nara lagi. Reka bergeming, Nara memiliki ide untuk membangunkan Reka. Duduk di pinggir ranjang tidak jauh dari Reka yang terbaring. Menundukkan wajahnya dan memagut bibir Reka. Ternyata ide Nara cukup efektif, Reka yang masih terpejam membalas apa yang dilakukan oleh Nara.


Nara bahkan harus menahan tubuh Reka karena kedua tangan Reka sudah memeluk tubuh Nara dan membuat tubuh istrinya menempel. “Reka,” ucap Nara saat berhasil melepaskan penyatuan bibirnya.


“Kenapa? Kamu yang mulai,” ujar Reka yang sudah tersadar dari tidurnya. Nara mendengus kesal, “Cepat mandi, aku mau pulang.”


“Ck, masih pagi Ra. Masih sempat untuk satu atau dua ronde,” ujar Reka. “Sekarang ya?”


Ponsel Reka berdering menghentikan niatnya untuk berolahraga pagi. “Hah, Bunda. Kamu aja deh yang jawab,” ujar Reka sambil menyerahkan ponselnya pada Nara lalu beranjak ke toilet.


Tidak lama kemudian, Reka keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. “Bunda bilang apa?” tanya Reka sambil memeluk Nara dari belakang dimana istrinya sudah mengenakan pakaian.


“Kamu ditunggu di rumah, Papih mau bicara. Sepertinya penting, entah urusan perusahaan entah urusan Selly,” tutur Nara.


“Apa hubungannya dengan Selly?”


Nara mengedikkan bahunya, “Ya mana tau kalau dia tidak terima kamu turunkan jabatannya lalu protes secara langsung ke Papih.”


“Itu sih asumsi kamu,” ujar Reka sambil menyentil dahi Nara. Nara berusaha melepaskan tangan Reka dari tubuhnya. “Kenapa, bukannya kamu senang aku peluk begini.”


“Maksudnya?”


“Kamu ‘kan senang aku peluk begini, atau aku gombalin kamu atau menggoda kamu,” tutur Reka. Nara mengernyitkan dahinya, “Siapa bilang?”


“Kamu.”


Nara memutar tubuhnya menghadap Reka, semakin heran karena Reka sedang mengulum senyum. “Apa sih, aku nggak ngerti.”


Reka tertawa kemudian mengatakan apa yang sudah dibaca pada aplikasi memo yang ada di ponsel Nara. “Aduh Ra, ampun Ra,” pekik Reka sambil berusaha menjauh dari Nara karena menerima cubitan di pinggang dan perutnya. “Suruh siapa berani baca curhatan aku tanpa ijin.” Nara mendekati Reka.


“Oke, aku salah karena sudah lancang buka ponsel kamu tanpa ijin meskipun kamu adalah istriku. Tapi dari kelancangan itu aku jadi tahu kalau Nara Ishana tertarik dengan Reka Chandra setelah kita sering berseteru.” Reka terbahak sedangkan Nara terdiam dengan wajah merona menahan malu.


 \=\=\=\=\=


Yuhuuu, rekomendasi novel rekan author, mampir yukss