
Bian mengantar Alisha kembali ke rumahnya karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Sementara Bian sendiri juga harus segera berangkat ke kantor untuk mengurus masalah penalti dan lainnya.
Bian langsung menancap gas mobilnya setelah menurunkan Alisha. Ia harus segera tiba di kantornya karena perwakilan dari perusahaan Diandra sudah berada ruangannya.
Di tengah perjalanan ia baru menyadari bahwa tablet yang berisi file-file pentingnya tertinggal di rumah Alisha. Bian pun memutar mobilnya secepat yang ia bisa untuk mengambilnya.
Namun begitu ia sampai di depan rumah, ia melihat istrinya tengah dikerumuni oleh ibu-ibu yang ia kenali sebagai tetangga Alisha.
Bian melihat wajah istrinya nampak tertekan seperti tengah menghadapi situasi yang tak nyaman. Bian sengaja membunyikan klakson mobilnya untuk mengalihkan perhatian ibu-ibu itu.
Begitu Alisha melihat suaminya melambaikan tangan dari kursi pengemudi, ia pun berlari menghampirinya.
“Ada apa, Sayang? Kenapa balik lagi?” tanya Alisha dengan senyum yang canggung.
“Mau ambil tab yang ketinggalan di kamar” jawab Bian jujur.
“Kamu disini aja, aku ambilin” kata Alisha.
Bian menggeleng dan langsung keluar dari mobilnya. Ia menyuruh Alisha naik dan menunggu di mobil sementara dia yang akan mengambilnya sendiri.
Bian berjalan melewati ibu-ibu yang masih berada di depan rumah Alisha. Ia menyapa mereka dengan anggukan kepala dan senyuman, namun setelahnya Bian malah mendengar sesuatu yang menyakiti hatinya.
“Lihat! Itu suaminya yang tadi digrebek ibunya sendiri”
“Benar! Apa karena dia belain si Alisha?”
“Kasihan ya, padahal masih muda, ganteng, kaya, kok mau sama Alisha si perawan tua itu? Mana banyak utang”
Bian sengaja memperlambat langkahnya agar bisa mendengar suar-suara sumbang itu. Bahkan hingga ia masuk ke dalam kamar pun suara mereka masih terdengar.
Bian mulai mengerti kenapa wajah istrinya terlihat sangat tak nyaman. Ia pasti mendengar celotehan menyakitkan itu.
Bian pun langsung bergegas keluar setelah mendapatkan apa yang ia cari. Untungnya para tetangga itu sudah membubarkan diri.
Setelah masuk ke dalam mobilnya, Bian mengajak Alisha berkeliling sebentar sebelum menuju kantornya.
“Kita mau kemana? Apa kamu nggak telat nanti?” tanya Alisha heran.
“Aku udah ngomong sama David buat undur meetingnya jadi agak siangan” jawab Bian berbohong.
Ponselnya terus bergetar karena David meneleponnya terus menerus. Bian mengabaikannya meski tahu risiko apa yang akan dia hadapi nantinya.
“Yang, kamu nggak perlu ngelakuin ini!” kata Alisha tiba-tiba.
“Hm?” Bian tak memahami apa maksud Alisha.
“Aku tahu semua, soal mama yang datang ke rumahku, kontrak kamu sama Diandra..” kata Alisha.
Bian meminggirkan dan menghentikan mobilnya. Lalu ditatapnya mata sang istri yang sudah mulai berkaca-kaca.
“Aku juga tahu, kamu sakit hati kan sama ibu-ibu tadi?” kata Bian. Ia tahu pasti ibu-ibu itu yang membahas masalah mamanya sehingga Alisha bisa mengetahuinya.
Mereka sama-sama menghela napas panjang, lalu terdiam sejenak.
“Aku nggak sakit hati kok. Toh yang mereka ucapkan itu bener” kata Alisha dengan suara terbata.
“Lihat aku, hm!”
Bian menarik Alisha untuk menatapnya. Tangis Alisha sudah mulai membanjiri wajahnya. Ia berusaha kuat dan menahannya dari tadi, ternyata gagal.
Bian menggengam erat tangan Alisha.
“Aku sayang sama kamu, karena kamu Alisha. Aku nggak masalahin apa yang mereka masalahin. Jadi kamu nggak usah khawatir lagi, hm?”
Ah, apakah ini yang sering dibicarakan orang-orang bahwa cinta itu buta?
Alisha meminta suaminya untuk segera pergi ke kantor. Ia sedikit terganggu dengan suara ponsel Bian yang dari tadi terus bergetar. Sementara dia akan pulang dengan memesan taksi online.
***
Perusahaan Bian sudah penuh dengan para pemegang saham. Perwakilan dari perusahaan milik Diandra pun telah meninggalkan tempat itu sejak satu jam yang lalu.
Bian juga harus menghadapi mamanya yang sudah siap mengeluarkan segala kemampuannya untuk membuat anaknya bertekuk lutut dan mematuhi semua ucapannya.
Sesampainya di kantor, Bian langsung meminta David untuk mengumpulkan semua orang di ruang meeting.
“Mas Bi, apa kau yakin ini keputusan yang tepat?” kata David sambil menghadang Bian sebelum memasuki ruang meeting.
Namun Bian hanya tersenyum dan menepuk-nepuk bahunya. Ia memburu langkahnya menuju ruang meeting.
Sebelum menaiki podium, Bian melihat Diandra dan Mama Liana sudah menatapnya dengan sorot mata yang siap membunuh. Ia juga melihat raut kekhawatiran yang ada di wajah para pemegang saham di perusahaannya.
“Selamat siang, mohon maaf karena saya datang terlambat. Saya akan langsung pada intinya, bahwa saya tidak akan menghentikan kerjasama antara perusahaan kita dengan perusahaan Ibu Diandra” kata Bian.
Semua orang yang ada di ruangan itu sontak riuh dan mendengungkan suara yang tak percaya. Ada yang merasa dipermainkan karena mereka mengira rapat hari itu adalah untuk membahas batalnya kerjasama mereka. Namun ada yang tak percaya sekaligus lega mendengarnya, mereka adalah Diandra dan Mama Liana.
Sebenarnya pada awalnya Bian memang ingin membatalkan kontrak kerjasama mereka. Bian sudah muak dengan cara kotor Diandra yang mempermainkannya dengan mencampur aduk urusan pribadi dan pekerjaan. Ia juga sudah jengah dengan ibunya yang terus menerus menekan Alisha istrinya.
Namun di tengah jalan ia memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Dan akhirnya keputusan inilah yang ia buat. Dia merasa tidak perlu mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan, karena itu bukanlah prinsip Bian.
Ia juga yakin istrinya akan memahami langkah yang ia ambil. Kali ini dia akan menyelesaikannya dengan cepat dan tepat.
“Mas Bi, kau bikin kaget aja!” seru David.
“Apa kau terkejut?” tanya Bian sambil tertawa.
David mengangguk. Lalu perbincangan mereka pun terputus ketika Mama Liana dan Diandra memasuki ruangan Bian.
Mama Liana memberi kode pada David untuk meninggalkan ruangan. Ia pun menyuruhnya berjaga agar tidak ada yang menganggu pembicaraan mereka bertiga.
“Kalian puas kan sekarang?” tanya Bian dingin namun tetap dengan senyumnya yang sinis.
“Mama kira kamu bakal dengerin istri tersayangmu itu, ternyata kamu dengerin mama?” tanya Mama Liana sambil terkekeh.
“Betul Bi, kamu mengambil keputusan yang tepat” sahut Diandra.
Mendengar mereka berdua memujinya, justru membuat Bian tertawa.
“Kalian salah! Justru aku mendengarkan Alisha, dia yang memintaku untuk tidak membatalkan perjanjian ini” kata Bian.
Spontan wajah kedua wanita itu langsung berubah, terutama Diandra. Ia sudah kehabisan akal untuk membuat Bian berpaling padanya. Usaha Mama Liana pun juga tidak membuahkan hasil.
“Aku harap, mama dan kamu Diandra, berhenti melakukan hal-hal tidak berguna seperti itu. Aku nggak akan pernah menceraikan Alisha” kata Bian tegas.
Bian meninggalkan ruangannya dan kedua wanita yang baru saja ia kalahkan.
Tetapi Bian tidak tahu pasti, apakah mereka benar-benar akan berhenti, atau justru akan lebih membuat rumah tangganya hancur.