
Bian membanting pintu dengan keras ketika tiba di rumah hingga membuat Alisha terkesiap. Ia sangat emosi melihat apa yang telah dilakukan sang ibu padanya dan Alisha.
Begitu ia meninggalkan tempat pertemuannya dengan Diandra, ia sudah memutuskan tidak akan mendengarkan apa yang mamanya katakan lagi, jika itu ada hubungannya dengan Alisha. Ia berjanji pada istrinya, sekeras apapun mereka berusaha memisahkan mereka berdua, Bian tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Alisha sudah mencoba menenangkan suaminya, tetapi melihat kemarahannya yang luar biasa itu, Alisha memilih diam. Baru kali ini dia melihat sang suami semarah itu. Dia hanya menunjukkan sikap hangat dan kelembutannya bahkan pada staf dapur mereka pun.
Brakkk
“Mama!” teriakan Bian memenuhi ruang tamu rumahnya.
Tak menemukan mamanya di manapun, Bian beralih menelepon David, sekretarisnya.
"Apa mama ada di kantor, Vid?”
Jawaban David sontak membuatnya menutup telepon dan kembali menekan tombol yang ada di ponselnya. Kali ini dia menelepon supir yang biasa mengantar mamanya.
“Pak, apa Bapak masih mengantar Mama?” tanya Bian sopan.
Lagi-lagi jawaban yang didapatnya tak membuatnya puas, karena supir itu sedang tidak bersama mamanya.
“Dimana mama sebenarnya?” teriaknya lagi.
Alisha yang sedari tadi diam memperhatikan suaminya, kini memberanikan diri mendekati dan memeluk Bian.
“Sayang, aku tidak apa-apa. Aku percaya sama kamu..” hibur Alisha.
“Tapi mama sudah keterlaluan, Sayang. Dia sengaja memberimu berkas tidak berguna agar kamu melihatku bersama Diandra” jelasnya.
Alisha terdiam sejenak, namun segera memasang wajah senyumnya.
“Mmm..gimana kalau kita berangkat sekarang?” kata Alisha.
“Hm? Berangkat kemana?”
“Bali”
Alisha menjelaskan pada Bian bahwa sebenarnya saat dia diminta membatalkan tiket pesawat mereka, dia justru mengundurnya. Awalnya ia ingin menuruti Bian dengan membatalkannya, tapi jiwa ‘sayang dan mending’ Alisha meronta.
Bagi Bian membuang uang tiket dan hotel sangatlah biasa dan kecil, tapi bagi Alisha itu sama saja membuang kerja kerasnya. Melihat ada fitur pengunduran jadwal di aplikasi yang ia gunakan untuk memesan tiket dan hotel, dia pun memilih untuk mengundurkan waktu keberangkatannya.
Dan sepertinya rencananya meredakan emosi Bian berhasil. Bian yang tadinya terbakar emosi, kini berubah jadi sumringah.
“Gimana kamu yakin kalau kita bisa berangkat lagi? Bisa aja aku beneran meeting dan nggak bisa pergi cepet-cepet” tanya Bian heran.
Awalnya Alisha memang ragu saat memundurkan jadwal mereka. Dia tidak tahu urusan perusahaan akan berjalan berapa lama. Akhirnya dia hanya menuruti instingnya saja. Entah beruntung atau tidak nyatanya mereka bisa berangkat hari itu.
***
Setelah menghentikan pencarian mamanya, dan tidak lagi memedulikan omelan mamanya, Bian dan Alisha berangkat begitu saja menuju Bali, tanpa pamit dan tanpa memberitahu siapapun. Untungnya Alisha belum membongkar semua koper yang mereka packing, jadi mereka tinggal berangkat saja.
Bian sengaja meminta Alisha mematikan telepon mereka, agar sang mama tidak mengganggu mereka dengan menelepon sepanjang waktu. Ia juga nekat berangkat menggunakan taksi online agar siapapun tak mengetahui keberangkatan mereka. Ia hanya memberitahu David bahwa dia dan Alisha pergi mengunjungi orang tua Alisha.
Alisha merasa tidak enak hati melakukan itu. Ia bisa memprediksi mertuanya akan mengamuk dan mengatakan hal-hal yang lebih menyakitkan dari sebelumnya. Tapi ia juga tidak bisa melawan Bian. Ia pun mencoba menutup kedua matanya dan hanya fokus pada bulan madunya.
Ketika dia iseng mengaktifkan ponselnya saat Bian tidak melihatnya, Alisha melihat lima puluh enam panggilan tak terjawab masuk di ponselnya, dan semua hanya dari nomor mertuanya.
Alisha menelan ludahnya, bahkan ia mendadak cemas seolah mertuanya akan muncul secara tiba-tiba dan menjambak rambutnya seperti di sinetron. Ia mengintip salah satu pesan dari mamanya melalui jendela layar ponsel, dan tetiba dia merasa panas dingin melanda sekujur tubuhnya.
Berani-beraninya kamu bulan madu tanpa ijin dariku! Aku akan membuat perhitungan denganmu, dasar gadis sialan!”
Kalimat-kalimat dalam pesan barunya jauh lebih menyakitkan dari sebelumnya.
Gadis jalan! Beraninya kau mengabaikan pesanku!
Alisha! Aku akan melenyapkanmu dengan tanganku!
Dan masih banyak lagi. Alisha menahan napas dan memilih untuk mematikan ponselnya kembali. Ia ingin mengabaikan mertuanya yang jahat walaupun hanya sehari saja. Ia ingin mencoba menikmati hidup sebagai istri Bian, bukan menantu keluarga Herdianto.
Bian memasuki kamar hotel dan melihat sang istri sedang melamun dengan memegang ponselnya.
“Sayang, kok ngelamun. Ada apa?”
“Hm? Enggak..kamu mau mandi sekarang?”
Bian menutup mulutnya dengan jari-jarinya yang panjang. Sementara Alisha justru heran melihat suaminya yang tiba-tiba menunjukkan sikap yang berbeda.
“Yang, kamu ngapain?” tanya Alisha menahan tawa.
“Kamu makin berani soalnya” jawab Bian masih dengan tangannya yang menutupi mulutnya.
“Berani gimana maksudmu?”
Alisha bertanya karena memang dia tidak mengerti maksud suaminya yang mengatakan dia makin berani. Apa dia tahu kalau tadi dia mengabaikan ibunya, makanya dia bilang begitu? Pikir Alisha saat itu.
“Kamu tadi tanya, apa aku mau mandi dulu..”
Kini giliran Alisha yang menutup mulutnya yang menganga. Ia baru sadar arah pembicaraan itu.
“Ya ampun, dasar kamu tuh..” ucap Alisha sambil malu-malu.
Bian memeluk istrinya dari belakang karena berusaha meninggalkannya saat itu. Kehangatan yang mereka rasakan saat itu membawa mereka masuk ke dalam deep talk untuk yang ke sekian kalinya dalam hidup mereka.
“Sayang, kamu tahu kan kalau aku cinta sama kamu terlepas dari siapa kamu?” tanya Bian dari balik punggung Alisha.
“Mm..”
“Kamu tahu kan, kalau aku akan terus berusaha mempertahankanmu?” tanyanya lagi.
Alisha hanya mengangguk. Kemudian Bian membalik badan Alisha, kini mereka berhadapan.
Cahaya lampu kamar yang redup membuat wajah keduanya nampak lebih terlihat jelas. Ruangan pun terasa semakin romantis dan syahdu. Bian pun memanfaatkannya untuk memberikan ciuman pertamanya malam itu.
“I love you, sayang” ucap Bian lembut sambil menatap mata Alisha yang mulai berkaca-kaca.
“I love you more, sayang” jawab Alisha dengan nada sendu.
“Kenapa suaramu begitu, hm?” tanya Bian yang merasa istrinya akan segera meneteskan air mata.
Alisha menggeleng pelan. Air matanya yang ia tahan sejak pertama, kini terpaksa lolos dan meluncur turun dari sudut matanya.
“Hei, kenapa kamu nangis?” tanya Bian seraya menghapus air mata Alisha.
“Aku cuma bahagia, karena kamu sekarang di sisiku”
Bian tersenyum dan menarik istrinya ke dalam pelukannya. Dibelainya rambut istrinya yang halus, diusapnya punggung Alisha untuk menenangkan hatinya. Dan ia mulai mencium kening istrinya dengan lembut, mencium matanya, hidungnya, dan berakhir mencium bibir Alisha yang masih ranum.
Malam yang intens dan diawali dengan deep talk yang hangat itu, kini berubah menjadi malam pertama dalam pernikahan mereka.