
Setelah kembali dari dapur, Lala kembali lagi ke kamar. Membaringkan tubuhnya yang mudah sekali lelah, tidak lama berselang Dimas juga berbaring di samping nya.
Dimas mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur, ingin sekali ia memeluk Lala saat ini tetapi tidak sedikitpun ada keberanian. Hingga Dimas lebih memilih memejamkan mata agar cepat terlelap.
"Aa," panggil Lala.
"Apa?"
Lala seakan emosi, padahal ia sedang ingin di peluk. Tetapi Dimas malah tidur dengan posisi yang cukup jauh darinya. Menurut Lala, Dimas tidak mengerti akan keinginan nya.
Tidak ingin langsung memeluk Dimas, Lala lebih memilih untuk ikut memejamkan mata nya dan melanjutkan tidurnya kembali. Akan tetapi sampai hari sudah hampir subuh, tapi Lala belum juga terlelap. Sedikit demi sedikit bergerak mendekati Dimas, berharap Dimas memeluknya. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, Dimas malah semakin menjauh dan membuat Lala kesal. Sambil menutup mata seolah tengah terlelap dengan sengaja kakinya menendang Dimas hingga terjatuh dari atas ranjang.
"Biarin, enggak peka sih," kata Lala dengan suara kecil, mungkin hanya bakteri yang mendengar suaranya.
"Sssstttt....." Dimas mengelus bokongnya yang terasa sakit, sambil berusaha bangun dan melihat Lala masih tertidur pulas, "Kenapa jadi seperti ini."
Bahkan Lala kini memunggungi Dimas, sedangkan Dimas memilih untuk tidur di atas sofa sambil meresapi rasa sakit di pinggangnya.
Lala semakin kesal pada Dimas, padahal ia ingin perutnya dielus. Tapi justru yang terjadi sebaliknya, emosi Lala semakin tidak terbendung.
Dengan cepat Lala duduk dan melempar Dimas dengan bantal.
"Sayang ada apa?" tanya Dimas bingung setelah menangkap bantal. Wajahnya begitu bertanya akan emosional Lala yang meledak-ledak.
Lala seketika turun dari atas ranjang lalu keluar tanpa perduli pada Dimas.
"Sayang," Dimas buru-buru menyusul Lala, "Kamu mau kemana?" tangan nya dengan cepat meraih lengan Lala.
"Mau minta di peluk sama tetangga baru!" jawab Lala asal.
Glek.
"Sayang, kamu kok jawabnya begitu," cepat-cepat Dimas memegang lengan Lala yang sebelah nya juga, raut wajahnya mulai panik, "Kamu mau di peluk?" tanya Dimas dengan tatapan damai.
Lala tidak suka di tanya, ia ingin Dimas langsung memeluknya, "Siapa bilang?" tanya Lala berusaha berdalih.
Dimas menjadi serba salah, ingin memeluk Lala langsung tidak berani. Tapi barusan Lala mengatakan ingin di peluk tetangga. Apakah itu salah satu dari mengidam? Mengidam boleh, yang tidak boleh di peluk tetangga. Dimas tidak akan mengabulkan keinginan Lala untuk yang satu itu.
"Ish," Lala kembali masuk kedalam kamar, naik keatas ranjang. Tangannya menarik selimut dan memejamkan mata.
Perlahan Dimas juga kembali naik ke atas ranjang, dengan hati-hati ia memeluk Lala. Merasa tidak ada penolakan Dimas merasa senang, tetapi gelagat aneh mulai dirasakan oleh nya. Rasanya beberapa hari tidak olah raga suami istri membuat adik Dimas sedikit meronta-ronta, tetapi Dimas lebih memilih untuk memejamkan mata. Sambil berusaha menurunkan rasa panas yang mulai menjalar.
Lala memeluk Dimas sambil memejamkan matanya, tubuhnya memanas merasakan benda keras milik Dimas. Entah mengapa mendadak Lala ingin di masuki, tapi ia hanya diam berharap Dimas yang memulai.
Sampai 30 menit berlalu Lala tidak juga merasakan sentuhan yang di inginkan, seketika duduk sambil mengusap wajahnya.
"Sayang ada apa?" Dimas juga langsung duduk, dan melihat wajah kesal istri nya. Walaupun penerangan hanya remang-remang tetapi ia bisa melihat raut wajah kesal Lala.
Lala mendesus sambil terus mengusap wajah, apa suaminya tidak tahu jika ia ingin di manja. Apa Dimas tidak mengerti saat ini ingin dielus bagian perutnya, bahkan nafsu Lala menggebu-gebu ingin di sentuh oleh Dimas.
Dengan cepat Lala kembali merebahkan tubuhnya, dan meminta Dimas untuk tidak berdekatan dengan nya.
Dimas menurutinya dengan sedikit menjauh hingga menciptakan jarak, tetapi Lala seakan tidak terima.
"Aa, tidur di sofa aja sekalian!"
"Enggak ngerti banget sih, pakek nanya lagi," geram Lala bersungut-sungut.
Karena tidak juga bisa mengerti dengan keinginan Lala, akhirnya Dimas memutuskan keluar dari kamar.
Lala semakin kesal karena Dimas malah pergi begitu saja.
Di ruang kerjanya Dimas langsung mengunci pintu, ia mencari ponsel dan langsung menghubungi Arka yang sudah mengerti tentang wanita hamil.
Mata Arka masih begitu mengantuk, tetapi tiba-tiba suara ponselnya yang nyaring mengganggu kenyamanannya.
"Kak siapa sih," Mentari juga tengah terlelap, tapi terbangun karena suara ponsel Arka.
Dengan malas Arka mengambil ponselnya, bahkan tanpa melihat siapa yang menghubungi nya.
"Em?" jawab Arka dengan malas tanpa membuka mata.
"Arka sialan! Bangun!" kata Dimas dari seberang sana.
"Apa!" Arka mengangkat ponselnya, dan melihat nama Dimas yang tertera. Setelah itu Arka kembali meletakan pada telinganya, "Ganggu aja!"
"Sebentar saja, memangnya kau sedang apa?"
"Sedang memasang!"
"Memasang?"
"Ngecas, buat nambah tenaga. Lagi enak tapi terpaksa di cabut gara-gara elu!" kata Arka asal.
Seketika Dimas mengerti arah pembicaraan Arka, "Brengsek lu, bos mesum!"
"Apaan lu nelpon gue subuh-subuh begini?" Arka ingin melanjutkan tidurnya lagi, dan ingin Dimas cepat-cepat menyelesaikan pembicaraan mereka.
"Kalau istri hamil marah-marah terus, dan alasannya enggak jelas. Pengen di peluk tetangga lah apa lah, abis itu marah-marah dan lain-lain tandanya dia butuh apa sebenarnya?" tanya Dimas secara langsung.
"Dede bayinya pengen di tengokin!" jawab Arka langsung.
Dimas sejenak menjauhkan ponselnya dari telinga, kemudian kembali meletakkannya pada telinganya, "Maksudnya?"
"Bego banget sih!" kesal Arka.
"Yang jelas bos gila!" geram Dimas, karena ia belum mengerti.
"Anak buah sialan!" balas Arka, "Istri lu minta di kelonin, minta di kasih jatah ranjang. Itu aja enggak paham, goblok!" jelas Arka berapi-api.
"Apa iya?" tanya Dimas dengan bodohnya, "Tapi dia nolak aku terus."
"Memang begitu, tapi sebenarnya dia cuma mau di manja. Lu sedikit sabar, biarpun di tolak terus aja deketin. Entar juga luluh, dan dia yang lebih liar. Dasar tolol!" Arka langsung memutuskan panggilan sepihak, karena rasa mengantuk yang masih begitu terasa.
Dimas memijat dahinya, memikirkan perkataan Arka, "Apa iya Lala pengen?" Dimas benar-benar merasa bingung dan rumit, kalau memang Lala menginginkan mengapa terlihat jutek. Dimas kembali menghubungi Arka, karena sepertinya masalahnya belum juga terselesaikan.
Tetapi tidak ada jawaban dari Arka, tanpaknya Arka kembali melanjutkan tidur dan tidak ingin di ganggu.
"Aku tidur di sini saja, semoga besok Lala lebih baik," Dimas seketika berbaring di atas sofa, kemudian melipatkan tangan di dada lalu memejamkan matanya, "Semoga besok mood Lala lebih baik."