Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Surat Cerai


Brak!!!


Krang!!!


Dimitri melempar vas yang ia pegang tepat mengenai dinding, hingga serpihannya berserakan di lantai.


Dengan cepat Sarika langsung berlari keluar, ia sangat takut melihat Dimitri yang kini berubah seperti iblis.


Keesokan harinya.


Perusahaan Alexander company.


Dimitri menggebrak meja kerjanya dengan kuat, sebab hari ini ia di kejutkan dengan surat cerai yang sudah di letakan di atas meja kerja nya.


"Siapa yang berani melakukan ini?" Tangan kasar Dimitri meremas kertas di tangannya, "Ini pasti ulah anak bau kencur itu, dia benar-benar ingin aku habisi!" geram Dimitri mengingat wajah Dimas.


Dimitri tidak menyangka jika Dimas dengan beraninya semakin masuk pada titik ini, tentu saja Dimitri tidak akan mau tinggal diam. Tidak ada sejarah nya jika Dimitri kalah dan kali ini pun sama, tidak ada yang boleh mengalahkan dirinya.


"Permisi tuan?" orang kepercayaan Dimitri mulai masuk, dan ia terlihat ingin berbicara sesuatu.


"Kenapa kau semakin merusak hari ku!" geram Dimitri, "Apa tidak bisa kau menemui aku sebentar lagi saja!"


"Maaf bos, tapi ini sangat penting sekali," ujar Sandoro.


"Tidak ada yang lebih penting, semua kacau!" geram Dimitri.


"Tapi ini penting bos, perusahan Atmaja group kini sudah mulai beroperasi lagi. Bahkan perusahaan itu kini bergabung dengan perusahaan Wijaya group, bukankah perusahan itu sudah hancur sampai titik akhir," jelas Sandoro.


Dimitri semakin menatap Sandoro penuh amarah, ia tidak menyangka semua bisa terjadi. Apakah ia terlalu lalai, sampai bisa kecolongan begini, "Tapi perusahaan itu sudah menjadi milik ku," Dimitri ingat saat Sarika yang menyerahkan semua berkas itu pada dirinya, dan ia pun sudah membuat surat berharga itu menjadi miliknya. Lalu bagaimana bisa kini perusahaan itu sudah bangkit kembali tanpa persetujuan nya, "Siapa yang sudah berani meremehkan kekuasaan ku!" Dimitri segera membuka brankas miliknya, setelah menekan pin brangkas terbuka. Tangannya mulai mencari beberapa kertas berharap, yang menyatakan jika ia kini adalah pemilik dari perusahaan Bagaskara grup masih ada di sana, sebab itu bisa menjadi kekuatan untuk merebut kembali dengan mudah perusahaan milik Atmaja Baskara. Namun sayang, sia-sia semua berkas itu sudah tidak ada, "Siapa yang berani melakukan ini!" geram Dimitri, "Aaaah....."


Brak!!!!


Dimitri menggebrak meja kerjanya, ini benar-benar di luar dugaan nya. Dan siapa yang selama ini sudah berhiyanat, Dimitri sangat bingung sekali. Dengan gerakan cepat Dimitri langsung melihat cctv, ia sangat terkejut karena ternyata Sarika adalah orang yang sudah mencuri semua berkas itu.


"Penghianat!!!!" gumam Dimitri, kemudian ia kembali menatap Sandoro, "Apa Sarika pernah datang ke sini di saat aku tidak ada?"


"Ada tuan, satu minggu yang lalu. Saat itu Nyonya Sarika mengatakan jika anda yang memintanya datang ke perusahan, untuk mengambil beberapa berkas penting yang tertinggal sebelum nya. Saya mengijinkan nya masuk, sebab anda dan Nyonya Sarika...." Sandoro masih ingin terus berbicara, tapi Dimitri yang sudah sangat geram langsung menimpalinya. Hingga Sandoro tersentak dan diam.


"Ada apa Antara saya dengan Sarika?!" teriak Dimitri, "Kurang ajar! Sarika!" Dimitri keluar dari ruangan nya dan menuju rumah, ia harus menyelesaikan ini semua dengan Sarika yang sudah lancang mengambil miliknya.


Dimitri yang sudah berada didepan rumahnya langsung turun, ia berjalan dengan tergesa-gesa karena sudah tidak sabar ingin menemui Sarika.


Brak!!!!


Dimitri menendang pintu kamar, dan terlihat dengan jelas jika kamar yang biasa di tempati oleh Sarika kosong.


"Kemana wanita itu?!"


Dimitri kini kembali menuruni anak tangga, dan kini ia menemui Art.


"Selamat pagi tuan?" Art itu menyapa Dimitri dengan ramah.


"Dimana wanita itu?" Dimitri sudah tidak ingin menyebutkan nama Sarika, karena ia sudah sangat marah dan kini sangat membenci Sarika.


"Wanita yang mana tuan?" tanya Art itu dengan bingung.


Krang!!


"Nyonya Sarika tuan?"


"Jawab dimana dia!" bentak Dimitri.


Art tersebut gemetaran karena saat ini Dimitri memang sangat mengerikan, "Nyonya Sarika sudah pergi kemarin tuan, saat dia ketakutan pada anda," jawab Art tersebut.


"Pergi?"


Krang!!


Dimitri menendang sebuah guci yang berukuran cukup besar, sebab geram karena ternyata Sarika sudah pergi. Bukan karena ia mencintai Sarika, melainkan karena Sarika dengan lancangnya sudah mengambil surat berharga miliknya. Dengan penuh amarah Dimitri kembali menuju teras sebab Sandoro menunggunya di sana.


"Siapa yang menjadi pemimpin di perusahaan itu?"


"Perusahaan itu sekarang di pimpin oleh Dimas tangan kanan dari tuan Arkana Anggara Wijaya, bahkan perusahaan itu juga sudah mulai beroperasi kembali dengan baik, sebab perusahaan itu bergabung dengan perusahaan Anggara Wijaya group," jelas Sandoro.


Sebenarnya Sandoro ingin menjelaskan nya dari tadi, tapi Dimitri tidak baik-baik saja. Sebab surat cerai yang ia terima sungguh membuatnya terkejut.


"Dimas!!!!" Dimitri tidak lagi bisa tinggal diam, ini sudah di luar dugaan, "Kita ke perusahaan Atmaja sekarang!" titah Dimitri dan ia mulai menaiki mobil, begitu juga dengan Sandoro yang ikut naik dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sampai di perusahaan Bagaskara grup Dimitri terus memaksa masuk untuk menemui presiden direktur, tapi tidak mudah. Sebab tidak bisa orang sembarangan yang masuk kedalam sana, apa lagi tanpa membuat janji terlebih dahulu.


"Apa kalian tidak tahu siapa aku?!" geram Dimitri, sebab ia terus di tahan di luar dan tidak di ijinkan masuk oleh security.


"Mohon maaf Tuan, tapi anda belum membuat janji dengan atasan kami," jawab Wira seorang tangan kanan Dimas di perusahaan itu.


"Lepaskan dia...."


Dimas yang kini berada di lobi tidak sengaja melihat Dimitri, tanpaknya ia mengerti dengan maksud dari kedatangan Dimitri ke sana. Hingga saat ia bersuara semua mata langsung melihatnya, tidak terkecuali Dimitri.


"Anda mencari saya tuan Dimitri yang terhormat?" ejek Dimas.


"Kau?" Dimitri maju selangkah dengan mengeratkan gigi, dan kini keduanya berdiri saling berhadapan, "Ini perusahaan milik ku! Dan kau berani berada di sini dan kembali menjalankan perusahaan orang lain?"


"Benarkah?" tanya Dimas dengan remeh, "Tuan tolong berikan surat pernyataan jika perusahaan ini milik saya pada pria ini," titah Dimas pada seorang pengacara yang berdiri beberapa meter darinya.


Pengacara itu mengambil sebuah lembaran dan memberikan nya pada Dimas, "Lihat baik-baik, dan di baca dengan baik," memberikan nya pada Dimitri.


"Kurang ajar!"


Srek!!!


Tangan kasar Dimitri langsung membagi kertas itu menjadi dua bagian, sedetik kemudian kertas itu melayang di udara dan terjatuh di lantai.


"Ini tidak mungkin! Perusahaan ini milik ku!" ujar Dimitri dengan pasti.


"Tapi sayang nya tidak ada bukti, karena kini aku pemilik perusahaan ini Dimas Aditama," tegas Dimas, "Seret dia keluar dari sini!"


"Kurang ajar!"