Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 114


"Kaki kamu udah sembuh?"


"Udah Mas."


Saat Rika dan Sandy tengah berbincang-bincang tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu.


"Permisi!!!"


Rika dan Sandy melihat arah pintu yang perlahan di dorong lalu, beberapa dokter masuk.


"Assalamualaikum Dokter," ucap Dokter Zidan di iringi dokter lainnya yang juga masuk satu persatu.


"Waalaikumusalam," jawab Sandy dengan wajah datarnya tanpa senyuman.


Rika segera bangun dari duduknya dan menjauh, mengingat para dokter yang berjalan mendekati Sandy.


"Bagaimana keadaan anda Dokter?" Tanya dokter Salsabila.


"Sudah lebih baik," jawab Sandy seadanya.


"Kami baru tahu kalau Dokter Sandy di rawat, sehingga baru bisa berkunjung sekarang," tambah dokter Dendi yang tidak ingin ketinggalan.


"Semoga cepat sembuh ya Dok," tutur Dokter Ferdi.


Tidak lama kemudian seorang dokter perempuan menyusul masuk dan langsung berjalan ke arah Sandy.


"Dokter Sandy, saya sangat menghawatirkan anda," kata Dokter Anifah dengan wajah panik


"Ehem-ehem," dokter yang lainnya berdehem menggoda Dokter Anifah dan Sandy memang di gosip kan memiliki kedekatan yang cukup spesial.


"Dokter Anifah enggak mau kah merawat calon imam," seloroh Dokter Zidan.


Degh!


Rika terdiam dan mematung di sudut ruangan mendengarkan para dokter yang tengah menjenguk Sandy bercerita dengan penuh kehangatan.


Tapi kata-kata barusan membuat hati Rika terasa sakit namun, apa yang bisa di lakukan Rika hanya diam tanpa berani berbicara.


"Kalian bisa saja," Dokter Anifah tersipu malu saat mendengar godaan dari teman-teman sejawat nya.


"Kalau perlu setelah lebaran langsung saja di halalkan," Dokter Salsabila ikut bahagia melihat sahabatnya Dokter Anifah bahagia.


"Udah ah, kalian apasih," wajah Dokter Anifah sudah sangat memerah mendengar godaan dari teman-teman nya.


"Cie, ada yang malu-malu, tapi di antara kita cuma kalian berdua yang belum menikah," ujar Dokter Ferdi.


"Betul," di sambut cepat Dokter Salsabila lagi yang di angguki yang lainnya.


Sandy hanya diam tanpa berbicara, menurutnya pembicaraan mereka tidak ada yang penting sama sekali.


"Dokter Sandy kenapa diam saja? Tunggu apa lagi? Usia sudah matang, finansial sudah matang," celetuk Dokter Dendi.


"Iya, mengingat kalaupun menikah dan punya anak mereka tidak akan kelaparan. Saya rasa rumah sakit ini cukup besar cukup untuk menafkahi Dokter Anifah dan anak-anak nantinya," Dokter Salsabila kembali mengundang gelak tawa karena melihat wajah Dokter Anifah semakin memerah.


"Sudah-sudah saya sudah tidak sanggup," wajah Dokter Anifah sudah merah merona dan meminta agar temannya tidak lagi menggoda dirinya.


"Ehem, calon istri Direktur utama rumah sakit," celetuk Dokter Salsa lagi.


Rika terdiam dan baru tersadar siapa Sandy, tidak pernah tahu jika Sandy direktur rumah sakit sekaligus pemilik nya.


Sejenak Rika merasa tidak mungkin bersanding dengan Sandy dan merasa Dokter Anifah jauh lebih pantas, tidak apa. Rika di sini tidak mengharapkan lebih, ia hanya merawat Sandy selebihnya tidak.


Sekalipun hati terasa sakit tapi harus tetap kuat menerima. Siapakah dirinya yang hanya seorang mahasiswa itupun baru semester awal.


"Dokter Sandy ayolah tersenyum sedikit pada calon istri nya," kata Dokter Salsa lagi.


Rika langsung bangun dari duduknya dan segera keluar dari ruang rawat Sandy, ia duduk di kursi tunggu sambil mengusap air mata beberapa kali.


Mungkin setelah para dokter keluar Rika barulah masuk kembali, paling tidak perasaan nya bisa sedikit lebih baik setelah menangis tanpa di ketahui siapapun.


Rasanya sangat menyakitkan sekali walaupun hanya mendengar saja, padahal semua yang didengar nya belum tentu juga terjadi.


Perbincangan hangat masih terdengar, topik pembahasan masih mengenai Dokter Anifah dan juga Sandy.


"Iya, dari tadi hanya diam saja," kata Dokter Zidan juga.


"Dokter Sandy sudah makan?" Tidak ada salahnya bukan memberikan perhatian sedikit kepada Sandy, pikir Dokter Anifah.


"Iya nih."


"Tidak mungkin kan Dokter Sandy puasa, lagi sakit begini."


Beberapa dokter saling melempar candaan terutama Dokter Anifah yang menjadi bahan pembicaraan yang selama ini di gosip kan memiliki hubungan khusus dengan direktur rumah sakit yaitu Sandy.


"Ayolah Dokter Sandy, kapan anda akan melamar Dokter Anifah?" Tanya Dokter Zidan.


"Iya nih, pengen kondangan juga," sahut Dokter Salsabila.


"Kalian datang kesini mau menjenguk saya atau mau berbicara hal-hal yang tidak penting?!" Tanya Sandy dengan wajah dinginnya.


Semua mendadak diam karena melihat wajah Sandy yang sama sekali tidak tertarik pada obrolan mereka.


"Dokter Sandy, mereka hanya bercanda," tutur Dokter Anifah berusaha menenangkan Sandy.


Merasa sebagai calon istri Dokter Anifah tentu saja memiliki rasa percaya diri untuk bisa menenangkan perasaan Sandy saat ini.


"Kalau kalian sudah tidak betah bekerja di sini silahkan angkat kaki!" Tegas Sandy lagi.


Glek.


Semua seakan meneguk saliva mendengar kata-kata Sandy.


Mencari pekerjaan tidak mudah, apa lagi belum tentu cocok dengan mereka. Lain lagi dengan gaji yang mereka terima cukup besar dan siapa yang tidak mau bekerja di rumah sakit milik Sandy.


"Dokter Sandy-"


Dokter Anifah mendadak diam saat mendapatkan tatapan tajam dari Sandy, hingga tidak berani lagi berbicara.


"Dokter Sandy, saya permisi," dokter Salsabila segera berpamitan karena masih ingin bekerja di rumah sakit Pelita Bunda milik Sandy.


"Saya juga permisi Dokter."


Satu persatu mulai mengundurkan diri, sampai akhirnya Sandy bersuara.


"Dokter Anifah saya ingin bicara, yang lainnya silahkan keluar!"


Dokter Anifah tentu saja tersenyum bangga saat Sandy tidak mengijinkan nya pergi, rasanya bahagia bercampur dengan debaran jantung yang berpacu dengan kencang karena merasa akan mendapatkan lamaran mungkin dari Sandy.


Setelah pintu tertutup rapat Sandy beralih pada Dokter Anifah yang berdiri di dekat ranjang nya.


"Dokter Sandy butuh sesuatu?" Tanya Dokter Anifah dengan senyuman.


"Iya."


Rasanya Dokter Anifah semakin tidak karuan, akhirnya apa yang di tunggu-tunggu akan tiba pikir Dokter Anifah membayangkan akan mendapatkan sesuatu yang indah dari Sandy.


"Iya saya siap, apa saja, jika itu untuk anda," jawab Dokter Anifah dengan penuh percaya diri.


Siapa yang tidak menginginkan menjadi istri pemilik rumah sakit, banyak dokter dan para perawat yang bermimpi menjadi istri pemilik rumah sakit begitu pun dengan Dokter Anifah.


"Saya tidak suka di jodoh-jodohkan dengan anda dan saya sudah mempunyai calon istri," Sandy mengedarkan pandangannya mencari seorang bocah yang sangat di cintai nya.


Tetapi, di mana Rika?


Barusan ada, tetapi, kini di mana wanita itu.


"Dokter mencari siapa?" Tanya Dokter Anifah menyadari bahwa Sandy mencari sesuatu.


Sandy kembali menatap Dokter Anifah, "Tolong ya Dokter Anifah, saya tidak pernah ada hubungannya dengan anda dan tolong katakan pada mereka semua kita tidak ada hubungan apa-apa!"


"Tapi Dok?"


"Kalau masih ada yang berani mengatakan kita ada hubungan Anda akan saya keluarkan dari rumah sakit ini!" Tandas Sandy.


"I-iya Dok, saya permisi..."


***


Ya ampun para pembaca novel Othor Munthe semua kocak sekali, author Sampek kesedak pas baca. Terutama para Kaka yang komen. Sandy nikahi Rika cuman buat ngatari ke kamar mandi, nanti Author selipkan itu ya di ban selanjutnya. Dan itu ide dari pembaca yang memberikan komentar.


Terima kasih.