Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Pengakuan Zea


"Aku datang di saat yang tepat!" ujar Arka.


Dimas ikut duduk di sofa sambil berhadapan dengan Arka, ia beberapa kali mengusap wajahnya karena meredam rasa panas yang barusan menjalar di sekujur tubuh nya.


"Kau datang di saat tidak tepat, padahal aku ingin khilaf," jawab Dimas.


Arka langsung melihat Dimas dengan tajam, "Nikahi dulu!" geram Arka.


"CK," Dimas berdecak karena kesal, kemudian pintu terbuka dan dua bodyguard Arka masuk dengan membawa seorang wanita.


Dimas dan Arka mulai melihat Zea yang di seret paksa oleh bodyguard, perlahan tubuh Zea terhempas di lantai karena kedua bodyguard itu mendorong nya.


"Hiks.....hiks....hiks...." Zea menangis sambil terjatuh di lantai, dari tadi air matanya tidak pernah hentinya menetes. Ia tidak menyangka hari ini dua orang bertubuh kekar membawanya dengan paksa, dan ternyata itu adalah orang-orang Dimas.


"Aku sebenarnya tidak suka kasar pada wanita Zea, apa lagi pada mu. Katakan saja dulu aku pernah mencintai mu! Ya....itu benar. Tapi itu dulu Zea, sebelum kau meninggalkanku," tutur Dimas, "Tapi kenapa kau menjebak ku dengan obat gila itu?!" tanya Dimas yang geram pada Zea.


Zea perlahan menatap Dimas, ia masih terus menangis tanpa henti. Apa yang bisa ia katakan saat ini, ia hanya takut.


Krang!!!!!


Dimas melempar asbak ke arah Zea, tapi tidak mengenai Zea. Karena Dimas hanya ingin meluapkan amarahnya, tapi itu cukup membuat Zea semakin ketakutan.


"Hiks....hiks....hiks....Dimas maaf," lirih Zea.


"Kenapa kau setega itu Zea, bahkan karena kau aku merenggut paksa kesucian wanita yang tidak bersalah!!!" geram Dimas lagi, "Karena kau aku berubah menjadi lelaki bajingan!!!" teriak Dimas.


"Hiks....hiks...." Zea benar-benar tidak tahu sisi lain dari Dimas, yang ia tahu dulu Dimas adalah lelaki penyayang yang tidak padai memarahi wanita. Apa lagi pada dirinya, tapi ternyata ia salah.


"Jawab aku," Dimas bangun dari duduknya dan dan berjongkok di hadapan Zea. Kemudian ia mencengkram erat dagu Zea dengan kuat.


"Dimas sakit," ringis Zea ingin di lepaskan.


"Ini tidak seberapa dengan sakit yang dirasakan oleh Lala karena kegilaan mu!!!" geram Dimas.


"Aku mohon lepas...."


"Biar begini saja sebentar, biar kau sejenak tahu apa itu rasa sakit!" Dimas semakin memperkuat cengkraman tangan nya, "Kau sudah menguji ku Zea, kau terlalu meremehkan aku! Kau harus tahu rasanya menjadi seorang narapidana seperti apa!" kata Dimas dengan tersenyum miring.


Zea menggeleng, ia tentu saja tidak ingin masuk penjara, "Jangan Dimas...."


"Kenapa? Apa yang kau lakukan sangat merugikan! Dan aku tidak kenal ampun!" jawab Dimas sambil menghempaskan tubuh Zea.


"Tolong jangan penjarakan aku Dimas, aku mohon!"


"Jangan!" Zea berusaha menolak, "Dimas dengarkan aku, sebentar saja," pinta Zea.


"Apa! Waktu mu tidak banyak!" kata Dimas dengan sinis.


Zea sejenak menenangkan diri, kini ia berdiri di hadapan Dimas. Ia memberanikan diri menatap Dimas, "Kau tahu perusahaan Daddy ku sudah bangkrut?" tanya Zea.


"Apa hubungannya dengan ku?" tanya Dimas yang seolah tidak perduli pada cerita Zea.


Zea meneguk saliva dan kembali melanjutkan ceritanya, "Perusahaan Daddy bangkrut, dan Mommy ku sakit keras. Mommy di rawat di rumah sakit, dan Daddy tidak memiliki uang. Sekarang Mommy ku koma sudah dua bulan lebih, aku tidak bisa kehilangan Mommy. Sampai akhirnya ada seseorang yang menculik ku, membawa ku ke gedung kosong. Dan meminta kerja sama dengan ku, kerja sama untuk menghadirkan mu dengan wanita yang bernama Lala. Awalnya aku menolak. Tapi aku tidak mengerti tapi pria misterius itu tahu semua tentang aku, tentang Mom, Dad. Aku dengan terpaksa menyetujui nya demi Mom yang harus di beli alat medis dari luar negeri agar tetap bisa bernafas, aku tidak ingin kehilangan nya," jelas Zea.


"Apa kau sedang membodohi ku?!" tanya Dimas yang tidak mudah percaya pada cerita Zea.


"Enggak," Zea menggeleng dengan cepat, "Kau tahu Dimas? Saat di Club malam itu seharusnya aku sudah berhasil. Tapi tidak hati nurani ku masih terjaga dengan baik, atau kalau aku mau aku bisa membawa mu ke apartemen ini, aku bebas masuk ke sini aku tahi pin nya bukan?" tanya Zea, "Tapi tidak, saat mengemudikan mobil jiwa iblis ku bertentangan dengan hati nurani ku, aku tidak setega itu akhirnya aku mengantar mu pulang ke rumah. Namun siapa sangka justru mala petakan itu terjadi, aku terjatuh pingsan dan Lala yang menjadi korban. Saat paginya aku mendapat telpon dari seorang pria yang memakai topeng saat menemui aku, di menanyakan bagaimana hasil kerja ku. Saat Lala keluar sambil menangis dan aku masuk lalu membuka pakaian ku dan menggambil gambar kita berdua seolah sudah terjadi, aku mengirimkan pada pria itu, akhirnya dia tidak lagi meneror ku!" jelas Lala.


"Aku tidak percaya!" kata Dimas yang tidak ingin tertipu.


"Tunggu," Arka tanpaknya cukup tertarik dengan cerita Zea barusan, "Tahan emosi mu," kata Arka lagi pada Dimas, kemudian ia kembali melihat Zea, "Maksud mu, seorang pria misterius itu membiayai Mom mu tapi kau harus menghancurkan Dimas dan Lala?" tebak Arka.


"Iya," Zea mengangguk, "Aku mohon tuan Arka, aku tidak berbohong. Percayalah padaku. Sekarang Mom ku di rumah sakit, tapi pria itu bersama bodyguard nya terus mengawasi," kata Zea lagi.


Arka mengangguk dan menatap Dimas, "Apa itu Dimitri?" tanya Dimas.


"Kemungkinan Bos, karena dia melarikan diri dari tahanan," kata seorang bodyguard yang mengawasi gerak-gerik Dimitri.


Dimas menatap Arka, "Seperti nya begitu."


"Aku tidak berbohong Dimas, kau bisa melenyapkan ku. Kalau aku berbohong," kata Zea lagi dengan menangis, "Saat itu aku hanya ingi Mom ku tetap bertahan hidup, aku menerima semua kerja sama pria itu. Tapi kadang aku juga sadar, apa yang aku lakukan salah," tutur Zea lagi.


"Seperti kali ini kita harus membuatnya kalah sampai ke akar-akarnya," kata Arka yang geram pada Dimitri.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Dimas yang tidak bisa berpikir jernih.


"Dia hanya ingin Lala dan Dimas tidak bersatu, selebihnya aku tidak mengerti. Karena setiap bertemu dengan nya dia selalu memakai topeng, dan dia menghubungi ku dengan nomor yang berbeda-beda," jelas Zea lagi.


Dimas mengangguk, "Kalian geledah wanita ini!!!" titah Dimas pada dua anak buah nya.


Kedua bodyguard itu langsung menggeledah Zea, karena Dimas tidak ingin kecolongan. Yang nantinya bisa menghancurkan hubungan nya dengan Lala, bagi Dimas ia dan Lala akan menikah.


"Tidak ada apa-apa Bos," kata bodyguard tersebut.


"Tidak Dimas, kau tidak akan menemukan apa pun. Karena dia memasang alat di dalam ini," Zea menunjukan jam tangan yang ia pakai, kemana pun aku pergi dia bisa tahu. Dan di sini juga ada bom. Jika terbukti aku membocorkan ini dia bisa menekan remote control dan bom ini akan mematikan aku dan sekeliling ku," jelas Zea.