Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bocah Lebih menarik


Lala sudah siap dan terlihat begitu rapi, tapi ada satu hal yang membuat nya bersedih sepatu nya yang sudah rusak dan tidak bisa di pakai.


"Minjem punya Rika Mulu, malu banget," gumam Lala, karena hampir semua barang-barang yang ia pakai adalah barang Rika.


Sebenarnya Rika sama sekali tidak marah bila Lala memakai barang-barang miliknya, apa lagi kini Lala sudah menjadi Kakak iparnya tentu saja Rika semakin dengan senang hati meminjamkan apa saja pada nya. Tapi tidak dengan Lala yang merasa sudah terlalu banyak memakai barang-barang milik Rika.


"Huuuufff...." Lala menatap sepatu nya dengan wajah melas.


Dimas yang sudah selesai berganti pakaian langsung menuju kamar lama yang di tempati oleh Lala. Pintu yang sedikit terbuka membuat Dimas melihat dengan jelas jika istri nya tengah menatap benda di lantai, Dimas mendorong pintu dan langsung masuk.


"Pak Dimas?" kata Lala yang kaget sebab dari tadi ia memang terlalu fokus pada sepatu kesayangan miliknya, sebenarnya Lala memiliki banyak sepatu. Tapi semua itu ada di rumah nya yang lama, dan sepatu yang di pakai Lala adalah sepatu satu-satunya yang ia bawa.


"Panggilan mu itu membuat telinga ku sakit!" kesal Dimas, "Ayo kita pergi," ajak Dimas.


Lala menatap sepatunya, kemudian beralih menatap Dimas, "Pak saya boleh pinjem uang enggak?" tanya Lala dengan polosnya.


Dimas ingin sekali tertawa mendengar pertanyaan Lala, tapi tidak. Dimas tetap diam dan seolah kini tengah memikirkan permintaan Lala.


Karena Dimas masih diam akhirnya Lala kembali berbicara, "Saya mau beli sepatu Pak, sepatu saya udah rusak. Terus mau bayar uang kuliah juga Pak," lanjut Lala.


"Em...." Dimas mengangguk.


"Boleh Pak?" tanya Lala kegirangan.


"Enggak!" jawab Dimas.


"Huuuufff......" Lala kembali bersedih, karena Dimas ternyata tidak mengabulkan permintaan nya, "Janji deh Pak, Lala bakalan bayar," pinta Lala dengan wajah melas.


Dimas ingin sekali mengigit bibir manyun Lala, "Sejak kapan bocah lebih menarik," batin Dimas, tapi Dimas tetap tenang seolah ia biasa saja, "Memangnya kamu mau bayar pakai apa nanti?" tanya Dimas.


"Pakek uang juga pak," jawab Lala cepat.


"Saya tahu! Maksud saya dapat uang gantinya dari mana?" jelas Dimas, yang ingin tertawa karena ulah istri polosnya yang lucu dan sepertinya hari-hari nya akan sangat berwarna setelah menikahi bocah di hadapan nya.


"Kerja," jawab Lala yang tidak kehabisan akal, demi Dimas mau meminjamkan nya uang.


Dimas memijat dahinya, sebenarnya ia sedang menahan tawa mati-matian. Karena sebenarnya Lala bukan meminjam uang padanya, tapi Lala berhak untuk mendapatkan uang sampai membiayai seluruh kebutuhan nya. Tapi tidak masalah bagi Dimas, ini bisa membuatnya terhibur dari stresnya pekerjaan di kantor dan malah bersama Dimitri yang belum juga selesai.


"Baik, saya akan pinjamkan uang. Tapi kamu tidak perlu bayar pakek uang. Tapi kamu jadi asisten saya, ke kampus, ke kantor kamu ikut. Setuju?" tanya Dimas.


"Hehehe....." Lala mengangguk, "Gaji saya sebulan berapa Pak?" tanya Lala.


Dimas mengeluarkan dompetnya dan memberikan dua buah kartu pada Lala, "Pegang ini."


"Pak ini black card, sama ATM?" tanya Lala.


"Penglihatan mu cukup baik!" kata Dimas.


"Bukan itu Pak, tapi pertanyaan kenapa bapak ngasih ini?"


"Kau itu kan sudah menjadi asisten saya, jadi mulai sekarang kau juga memegang keuangan!" jawab Dimas.


"O," Lala mengangguk mengerti, "Ini juga bagian dari pekerjaan Lala Pak?" tanya Lala lagi.


"Iya," jawab Dimas.


"Ya udah yuk Pak, nanti telat sampai di kampus," Lala langsung keluar dari kamar dengan buru-buru bahkan tanpa alas kaki.


Dimas yang masih berdiri di depan pintu, hanya geleng-geleng kepala melihat kelucuan istrinya di pagi hari ini, "Kalau aku tahu dia seaneh dan menggemaskan begini, mengapa tidak dari dulu saja aku menikahinya," gumam Dimas.


Dimas melangkah dan mengikuti Lala yang sudah menuruni anak tangga.


"Lala, kamu mau ke kampus?" tanya Mama Yeni.


"Tante," wajah Lala bersemu merah saat mengingat pagi tadi Mama Yeni memergoki dirinya dengan Dimas.


"Panggil Mama!" tegas Mama Yeni.


"Iya Ma, Lala mau ke kampus," jawab Lala sambil membetulkan panggilan nya.


"Iya Ma," Lala menurut saja, karena ia tidak suka membantah perkataan orang tua.


"Selamat Pagi Kakak ipar!!!!" teriak Rika dengan hebohnya yang juga tiba-tiba muncul begitu saja.


Lala dan Mama Yeni langsung menutup telinga, bahkan Dimas yang masih menuruni anak tangga juga ikut menutup telinga nya.


"Dek.....kamu ya punya mulut!" kesal Mama Yeni dan memukul kepala Rika dengan kemoceng yang ia pegang.


"Ish....Mama!" geram Rika.


"Ini rumah, bukan hutan!" kata Mama Yeni lagi.


Saat semua tengah berfokus menatap Rika tiba-tiba terdengar suara seorang pria.


"Assalamualaikum....." ucap Sandy.


"Waalaikumusalam," jawab Mama Yeni dengan senyuman ramahnya.


"Selamat pagi Tante, selamat pagi semuanya," kata Sandy.


"Ish...." Rika menunjukkan wajah masamnya saat melihat wajah Sandy.


"Iya pagi," jawab Mama Yeni.


Kemudian Sandy menatap Dimas, "Aku hanya ingin memeriksa pasien ku," kata Sandy.


"Iya," jawab Dimas, kemudian ia menarik lengan Lala menuju ruang keluarga.


"Sebentar Tante," pamit Sandy.


"Iya," Mama Yeni mengangguk, "Sejak kapan anak itu sangat sopan," gumam Mama Yeni, karena kini Sandy sangat lebih berbeda.


Kemudian Sandy berjalan menuju ruang keluarga menyusul Dimas dan Lala yang sudah terlebih dahulu.


"Ma, Rika berangkat bareng Kak Dimas aja ya," pamit Rika.


"Enggak usah," kata Mama Yeni melarang Rika.


"Kenapa?" tanya Rika bingung, karena biasanya juga Mama Yeni tidak mempermasalahkan itu.


"Nanti saja, biarkan Kak Dimas sama Lala berdua, namanya juga pengantin baru," kata Mama Yeni.


"Mama apasih! Gitu banget!" kesal Rika, kemudian ia juga menyusul ke ruang keluarga.


"Dasar anak itu!!" kesal Mama Yeni.


"Obat ini di minum hanya saat kamu sedang tidak terkontrol saja, saya rasa kamu sudah lebih baik," kata Sandy yang memeriksa keadaan Lala.


"Iya dok," Lala mengambil obat yang di berikan oleh Sandy.


"Yuk," Dimas langsung pergi dengan membawa Lala.


"Kak, gue ikut...." seru Rika yang ingin menyusul cepat-cepat ia bangun dari duduknya.


Namun ia tidak bisa berjalan karena Sandy memegang lengannya, "Apasih!" kesal Rika dan sesaat kemudian terdengar suara mobil Dimas sudah melaju.


"Huuuufff....." Rika menarik nafas dengan kesal "Kan gue ditinggal!" geram Rika.


"Kamu sama Mas saja!" kata Sandy sambil menaik turunkan alis matanya nya.


"Mas!!! Mas!!! Mas!!!" kesal Rika.


"Apa sayang?" jawab Sandy.


"Sayang-sayangnya pala lu!" geram Rika sambil menghempaskan tangan Sandy, kemudian ia berjalan cepat menuju garasi. Dan mengeluarkan motor matic kesayangannya.


"Aku suka wanita menantang seperti dia ini?!" kata Sandy dengan senyuman, yang menatap dari teras rumah, "Nanti kita akan pulang bersama ya," Sandy tersenyum sambil memikirkan ide agar bisa mendapatkan Rika, wanita jutek dan juga sangat sulit di dapatkan. Bahkan Sandy semakin tertarik saat tahu tentangnya Rika yang tenyata sulit di dekati oleh pria.