Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 105


Rika hanya diam saja sambil memeluk boneka nya, matanya terus mengedar mencari dua sahabatnya yang mengesalkan.


"Kamu mencari siapa?" tanya Sandy melihat Rika yang gelisah.


"Tari sama Lala kemana ya Mas?"


Sandy mengambil ponselnya dari saku jaketnya, kemudian menghubungi Dimas.


Dimas juga tengah bersama dengan Lala, bermain berbagai hal yang menyenangkan tetapi aman untuk istrinya.


"Aa, ayo dong. Dari tadi enggak masuk-masuk," kesal Lala.


Sudah cukup lama Lala menantikan hadiah yang akan di bawa pulang jika Dimas berhasil menjatuhkan susunan kaleng pada meja menggunakan bola dengan jarak beberapa meter, akan tetapi sampai saat ini pun belum satu kali pun yang berhasil.


"Andai saja kaleng-kaleng itu bisa jatuh dengan aku bayar," gumam Dimas.


Bruuk!!!


Untuk yang kesekian kalinya, hasilnya sama saja. Dimas gagal lagi.


Huuuufff.


Lala mendesus kesal, karena membawa pulang deterjen dan shampo karena Dimas gagal memenangkan hadiah seperti boneka, ponsel, dan lainnya lagi.


"Hehehe......" Dimas tersenyum kecut dan menggaruk tengkuknya, saat melihat Lala memegang satu kantong plastik cukup besar dengan deterjen dan shampo di dalamnya.


"Ni, bawa!" Lala memberikan nya pada Dimas.


Sedangkan Arka dan Mentari tengah berada di atas kora-kora keduanya berteriak sekencang mungkin seiringan wahana yang terus bergerak.


"Tari Cinta Kak Arka!!"


"Kakak juga cinta Tari!!!!"


"Hahaha......" Mentari tertawa lebar, pertama kalinya Arka yang dingin mau berteriak seperti orang tidak waras, "Kak Arka jelek!!!!" teriak Mentari lagi.


"Tari bau!!!!" balas Arka.


"Nanti malam Kak Arka tidur di kamar tamu!!!!" seru Mentari tidak mau kalah.


Arka merasa istrinya sangat aneh, bayangkan saja. Mentari mengatainya begitu banyak tidak sekalipun Arka tersinggung ataupun marah.


Tetapi, tidak dengan sebaliknya. Mentari malah menganggap serius candaannya, "Entah kapan aku bisa mengukir sejarah, tentang istri yang tidak sensitif," gumam Arka.


Arka dan Mentari turun dari atas wahana, keduanya sangat bahagia.


"Kakak tadi kok bilang Tari jelek?"


"Mana ada, lihat itu," Arka tidak ingin berdebat, seketika ia mengalihkan perhatian Mentari.


Mentari tersenyum, dan ingin menaiki wahana tong setan.


"Ayo Kak," ajak Mentari dengan semangat.


Arka tersenyum penuh kemenangan, artinya pertengkaran mereka tidak akan berlanjut.


"Yuk."


Arka tidak pernah menyangka, jika saat ini ia bisa bertingkah konyol. Bahkan selama ini selalu menjunjung tinggi wibawanya. Namun, kini semua seakan sudah menghilang. Arka juga tidak lupa berdoa, berharap tidak ada karyawan nya yang melihatnya saat ini.


Selesai menaiki komedi putar dan melihat atraksi tong setan Mentari mulai merasa lelah, begitu juga dengan Arka. Akan tetapi Arka sangat bahagia melihat Mentari yang terus tersenyum.


"Sayang minum dulu," Arka memberikan botol air mineral pada Mentari.


Mentari langsung meneguk, "Aaahhhhh, Kak Tari beli boneka. Abis itu kita langsung ke mobil aja, Tari udah capek banget."


"Yuk kita beli."


Arka memberikan sebuah boneka sesuai dengan keinginan Mentari, dan keduanya juga tidak lupa membelikan beberapa mainan untuk baby twins.


"Mereka di mana ya Kak?"


Mentari masuk kedalam mobil, menyalakan AC agar membuat rasa gerah nya sedikit meredam.


"Kata Dimas, mereka udah dekat," jawab Arka setelah mendapat balasan chat dari Dimas.


 ***


"Dimas dan Arka sudah di mobil, kita juga balik yuk."


Rika mengangguk dengan rasa lelah ia berjalan di samping Sandy, sampai tiba-tiba ada orang yang menyenggolnya tanpa sengaja.


"Auuuu," ringis Rika terjatuh di tanah.


"Maaf Mbak, anak saya memang nakal," kata seorang wanita, ibu seorang anak laki-laki yang baru saja mendorong Rika.


Rika mengangguk dan tersenyum, kemudian wanita tersebut berlari buru-buru mengejar anaknya takut hilang di tengah keramaian.


"Yah, sendal nya rusak," Rika mendesus sambil memandang sendal miliknya yang sudah tidak dapat di gunakan lagi.


Rika langsung menerimanya dan mencoba berdiri.


"Aduh."


Rika memang sudah sangat lelah, dan kakinya sudah tidak kuat untuk berjalan.


"Mas, Rika di sini saja dulu. Rika enggak kuat jalan," kata Rika.


"Di sini?"


"Iya, Mas duluan saja."


Tidak mungkin Sandy meninggalkan Rika di tengah pasar malam yang begitu banyak orang, apa lagi malam semakin larut.


Bahkan banyak preman juga berkeliaran.


"Ayo," Sandy memberikan penggunanya pada Rika.


Rika masih diam tanpa bicara, bahkan masih belum mengerti.


"Ayo naik."


"Naik Mas?"


"Lihat," Sandy menunjuk beberapa pria, wajah menyeramkan dengan tato memenuhi tubuhnya.


Rika merasa preman itu tidak kalah horor bila dibandingkan dengan penghuni rumah hantu barusan.


"Pilih yang mana?"


Dengan terpaksa Rika perlahan naik keatas punggung Sandy, sebelah tangannya melingkar di leher Sandy dengan sandal rusak miliknya yang masih ia pegang.


Sedangkan sebelah lagi tangannya memeluk boneka yang barusan di belikan oleh Sandy.


Sandy dan Rika melihat Dimas, Lala, Mentari, Arka yang tengah melihat kearahnya.


Mentari duduk di atas mobil dengan pintu terbuka, Arka bersandar pada mobil. Sedangkan Lala dan Dimas duduk lesehan di atas rerumputan.


Tidak ada yang berbicara saat melihat Sandy yang semakin mendekati dengan Rika yang berada di atas punggungnya.


"Mas Rika turun aja," pinta Rika ketakutan.


Sandy langsung berjongkok dan menurunkan Rika.


Sssstttt.


Rika meringis merasa sakit pada pergelangan kakinya, tetapi wajah Dimas jauh lebih menyeramkan menurut nya.


"Kamu Kenapa Rika?" tanya Mentari dengan cepat ia turun dari mobil.


"Aku tadi di dorong anak-anak, terus jatuh dan kaki ku sakit banget," kata Rika menunjukan kakinya.


"Ya ampun, kasihan banget," Mentari menatap iba, "ya udah, aku bantu kamu naik ke mobil," kata Mentari lagi.


Rika mengangguk, tetapi ia kemudian beralih menatap Dimas, "Kak, tadi Rika minjam uang ke Mas Sandy."


"Untuk apa?" tanya Dimas.


"Tadi Rika mau beli boneka ini," Rika menunjukkan boneka berukuran sedang di pelukan nya, "tapi uang Rika ketinggalan di rumah kayaknya. Ponsel Rika juga enggak ada," takut jika Dimas malah salah paham, lebih baik Rika menjelaskan terlebih dahulu.


Dimas menatap Sandy yang berdiri tidak jauh dari Rika, "Di potong mahar saja," ujar Dimas.


Semua seketika bingung, dan bertanya-tanya maksud dari perkataan Dimas.


"Rika harus balikin ya Kak?" tanya Rika bingung dan takut.


Dimas diam dengan wajah datarnya.


"Ahahahha......." tawa Lala seketika pecah, karena Rika tidak mengerti dengan maksud dari perkataan Dimas.


Tampaknya kini Lala jauh lebih pintar, mungkin karena bawaan bayi. Otaknya yang lemot kini bekerja dengan begitu baik, hingga mudahnya menyimpulkan.


Tapi malah berpindah pada Rika.


Mentari juga tersenyum, karena mulai mengerti.


"Kalian kenapa?" tanya Rika dengan bodohnya, bahkan ia sampai berbalik, tetapi Sandy hanya diam dengan wajah datarnya.


"Rika, kamu enggak usah bingung, nih," Lala menunjukan kantong plastik, "Ini isinya deterjen semua, kamu sama Tari enak, pulang bawa boneka. Nah aku? Bawa deterjen!"


"Ahahahhaha......" Rika dan Mentari seketika tertawa saat mendengar keluhan Lala.


Dimas menggaruk tengkuknya, karena merasa malu.


"Mantap Dim!" Arka mengacungkan jempol pada Dimas.


"Sialan lu!"