Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 139


"Dokter Miranda?" Dokter Hanifa menunjuk hari Rika yang bergerak perlahan.


"Pasang lagi alatnya," titah Dokter Miranda dengan hati lebih lega.


"Dokter Sandy, tolong menjauh sebentar, istri anda masih ada," Dokter Hanifa meminta Sandy untuk menjauh.


Dengan berat hati Sandy menjauh, memberikan para dokter keleluasaan dalam menolong keadaan Rika yang masih begitu lemah.


Sekalipun perasaan masih begitu takut, Sandy mencoba untuk tetap kuat.


"Dokter Miranda?" Sandy ingin kejelasan, tidak ada lagi Sandy yang pintar.


Kini ia hanya orang bodoh seakan tidak mengerti apa-apa.


"Dokter Sandy, pasien sadar," seru Dokter Hanifa.


"Tolong menjauh, berikan sedikit udara untuk pasien," pinta Dokter Miranda.


"Jangan tinggalkan aku," lirih Sandy menggenggam erat tangan Sandy.


Rika hanya diam menatap Sandy, perasaannya masih tidak menentu dengan rasa bersalah. Tapi saat ia menutup mata menyerah pada keadaan tangisan Sandy seakan membuatnya semakin bersalah.


Suara penuh luka Sandy seakan menjadi pendorong untuk tetap bertahan sekalipun begitu menyakitkan.


"Aku tidak bisa tanpa mu, tolong jangan tinggalkan aku," pinta Sandy lagi.


Tidak berselang lama Mama Yeni kembali masuk, melihat putri bungsunya sudah sadarkan diri membuat hatinya lebih lega.


"Rika, Mama mohon bertahan ya Dek, Mama nggak bisa kehilangan anak-anak Mama." Mama Yeni memeluk tubuh Rika.


Rika masih diam, sesekali air matanya menetes mengalir dengan sendirinya hingga membasahinya bantal.


"Katakan kau baik-baik saja?" Tanya Dimas dengan menahan air mata.


Rika tersenyum ternyata Dimas tak pernah bisa kehilangan nya dari dulu sampai sekarang. Sekalipun yang di lakukan adalah sebuah kesalahan Dimas tak pernah benar-benar membenci nya.


"Rika, kamu dengar Mama kan?" Mama Yeni ingin sekali mendengar suara Rika, sekalipun hanya satu kata untuk meyakinkan bahwa putrinya baik-baik saja.


"Mama nggak benci sama Rika?"


"Bagaimana bisa Mama membenci kamu, kamu itu darah daging Mama," Mama Yeni tak tahu apa yang kini di pikirkan oleh putri nya, sekalipun kejahatan Rika sudah ambang batas kesabaran tapi Rika tidak akan pernah bisa terlupakan.


Perasaan seorang Ibu tidak akan bisa luntur dalam mencintai anaknya, selamanya.


"Semuanya sudah kembali normal, keadaan pasien sudah lebih baik, kita lihat beberapa jam kedepannya, dan saya akan berjaga di luar," pamit Dokter Miranda.


Sandy mengangguk mengerti, paling tidak saat ini Rika sudah lebih baik sekalipun masih harus berjuang dalam melawan penyakitnya.


"Kenapa kamu menyimpan semuanya, kalau kamu cerita mungkin semua tidak akan begini?" Tanya Mama Yeni lagi.


Rika tersenyum dan menatap Sandy yang hanya diam menatapnya, entah apa yang bisa dikatakan nya pada Sandy saat ini.


"Mama keluar dulu," Mama Yeni perlahan keluar.


Dimas juga menyusul keluar, memberikan waktu untuk Rika dan Dimas berbicara berdua saja.


Mungkin juga bisa memperbaiki hubungan keduanya.


"Mas, aku minta maaf, tapi-" belum selesai Rika berbicara Sandy sudah mendekapnya penuh kerinduan.


Rika akhirnya terdiam, bibirnya mendadak kelu merasakan kehangatan dekapan hangat Sandy.


"Kenapa tidak jujur?"


"Aku nggak mau nyusahin siapapun, termasuk kamu Mas."


"Tapi aku nggak merasa begitu!"


"Di obati atau tidak aku tetap mati, kan Mas?" Tanya Rika dengan suara bergetar.


"Sayang, kamu bicara apa? Tidak boleh putus asa, mana istri Mas yang selalu kuat, cerewet, dan berfikir positif, kenapa kamu lemah begini?"


"Jangan bicarakan dia, dia itu sepupu Mas, mana mungkin Mas dengan nya, kamu harus sembuh," Sandy menyisir rambut Rika.


Dahi yang di penuhi keringat dingin di usapnya dengan tangan, berharap istrinya lebih segar sekalipun wajah Rika sangat pucat.


Rika terdiam, awalnya ia pikir bahwa Sandy sudah lupa akan dirinya. Bosan karena tingkah laku selama ini sangat buruk.


Nyatanya Sandy tak pernah bisa bahkan tak pernah mencoba untuk meninggalkan dirinya, lalu, bagaimana bila Sandy tau ia sudah kotor karena seorang pria yang tidak di kenali-nya malam itu.


Rika hanya diam mencoba menutupi, takut Sandy malah bersedih.


Sudah cukup kesedihan yang di rasakan Sandy, saat ini Rika ingin menikmati sisa-sisa hidup bersama Sandy.


"Jangan lagi menyimpan rahasia, Mas takut kehilangan kamu."


Rika mengangguk mengerti, mungkin waktu bernapas tak lama lagi biarkan selama itu bisa bersama Sandy dan sampai waktunya tiba nanti.


"Kamu tidak sedang berpikir aneh, kan?" Tebak Sandy melihat diamnya Rika.


Rika menggeleng kemudian menutup matanya.


"Sayang," Sandy panik saat melihat mata Rika kembali tertutup, "Rika!!!" Seru Sandy semakin ketakutan.


Rika kembali membuka matanya perlahan, menatap manik mata Sandy yang perlahan mulai menitihkan air mata.


"Mas, aku lelah dan ingin istirahat," jelas Rika dengan suara lelah.


Huuueffff.


Sandy bernapas lega merasa angin segar mulai mengarah padanya, pikiran nya Rika kembali menutup mata dan tidak akan pernah lagi membuka matanya.


"Kamu hanya tidur?" Tanya Sandy lagi menyakitkan dirinya.


Rika mengangguk lemah, "Iya," jawab Rika dengan suara hampir menghilang, tubuhnya terasa lelah.


"Kamu akan membuka mata mu lagi kan?"


"Mas," Rika kembali bersuara, meyakinkan Sandy bahkan ia baik-baik saja.


Perlahan Rika menarik tangan Sandy memeluknya sebagai penghantar tidurnya.


Sandy duduk di kursi sambil menatap wajah Rika, wajah cantik kini sudah terlihat memucat.


Sekalipun begitu Sandy tak kehilangan rasa cinta sedikit pun.


Rika benar-benar terlelap, pengaruh obat yang masuk kedalam tubuhnya mulai bekerja.


Sandy pun tetap setia menjaga Rika tanpa pergi sedetikpun, ia hanya menggenggam erat tangan Rika menemani tidur istrinya.


Mama Yeni pun kembali masuk, ingin melihat kembali keadaan Rika.


"Dia hanya tidur Ma," jelas Sandy.


"Iya, Mama sekarang lebih lega," Mama Yeni hanya menatap wajah anaknya tanpa beralih pada yang lain.


"Sandy, apa kamu masih ingin bersama Rika?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulut Mama Yeni.


"Mama aneh sekali," Sandy tertawa kecil mendengar pertanyaan mertuanya.


"Tidak, maaf kalau pertanyaan Mama menyinggung, tapi, tidak semua lelaki itu mau menerima wanita penyakitan bahkan suami sendiri," jelas Mama Yeni.


Mama Yeni tahu itu, sebab alasan utama suaminya menikah lagi karena berawal dari gagal ginjal yang di deritanya.


Sejak saat ia menjalani operasi donor ginjal, suaminya menikah lagi.


"Mama, tidak usah berpikir Sandy akan meninggalkan Rika, jika dengan menjual rumah sakit ini bisa membuat Rika sembuh Sandy tidak masalah Ma," jelas Sandy kembali meyakinkan mertuanya.


Mama Yeni tidak lagi bisa berkata-kata, cinta Sandy pada Rika sudah tidak dapat lagi di tawar hingga semua terasa begitu rumit sekalipun.


Bahkan ia bahagia ada seorang pria yang mencintai anaknya begitu besar.