
"Jangan ngambek lagi, entar manisnya hilang."
Emosi Lala mendidih, seketika kepalanya bagaikan mengeluarkan tanduk.
"Lihat," Dimas menunjuk arah jendela yang terbuka lebar.
Lala langsung menatap arah tersebut, walaupun ia kesal. Tetapi tetap saja melihat ke arah yang di tunjuk Dimas.
Saat tidak melihat apa-apa Lala langsung berbalik kembali, tetapi ternyata wajah Dimas begitu dekat dengannya.
Hingga seakan Lala lah yang mengecup pipi Dimas.
"Enak," goda Dimas sambil menaikan sebelah alisnya menggoda Lala.
Tidak tahu harus berbicara apa, tapi kali ini Lala benar-benar kalah karena Dimas bisa mengimbangi dirinya.
"Lala jangan marah-marah, nanti Lala lekas tua. Aa setia orang nya. Tak kan pernah mendua."
Dimas mencolek dagu Lala sambil menyanyikan salah satu lirik lagu, yang membuat Lala langsung ingin melayang.
"Aa!!"
Lala menutup wajah sambil menghentakkan kakinya.
"Sayang, jangan begitu," Dimas cepat-cepat memeluk Lala, karena gerakan tersebut cukup berbahaya untuk kandungan.
Lala seketika tersadar, ia merasa bersalah karena hampir lupa kalau ada janin di rahimnya.
Dimas menaik turunkan kedua alis matanya, kemudian mengangkat tubuh istrinya ke atas ranjang.
"Sayang, bulan puasa sebentar lagi. Dan nanti tidak boleh di siang hari begini?" tanya Dimas dengan berbaring miring sambil menopang kepalanya dengan tangan kirinya.
Lala berpura-pura tidak mengerti, padahal dalam hati ia sangat tahu maksud Dimas.
"Apanya?" tangan Lala memainkan kancing kemeja Dimas, wajahnya berpura-pura tenang. Padahal jantungnya ingin meloncat keluar.
Dimas bukanlah anak-anak, ia tahu istrinya sedang berusaha tidak mengerti. Sejenak Dimas tersenyum sambil mengikuti permainan istrinya sampai di mana.
"Coba hitung sudah berapa lama liburnya?"
"Kuliah?"
"Em," Dimas mengangguk mengerti, "Aa keluar dulu ya, ada Arka di bawah. Kasian dia," Dimas berpura-pura akan bangun, ingin melihat reaksi Lala.
Tidak pernah terpikirkan jika Lala yang memulai, tapi itulah yang terjadi. Dengan erat Lala mencengkram kemejanya dan melahap bibir Dimas dengan kasar.
Sejak kapan istrinya bisa begitu liar, bahkan Dimas benar-benar bertanya dengan rasa bingung.
"Aa, napas," Lala tidak tahu ada apa dengan Dimas, tetapi Dimas tanpaknya terkejut hingga lupa caranya bernapas.
Dimas mengangguk lalu mengingat kata-kata Arka yang sempat terlontar, "Setelah kau memulainya sedikit saja, dia akan lebih ganas," mungkin banyak lagi yang harus dipelajari dari Arka tentang meluluhkan hati wanita yang tengah mengandung.
Perduli setan pada Arka yang menunggunya di ruang kerja, toh. Arka juga dulu melakukan hal yang sama.
Anggaplah saat ini Arka merasakan apa yang ia rasakan dulu.
Saat jomblo, tapi semua pekerjaan di serahkan padanya.
Menunggu saat Arka sedang asik berbahagia dengan Mentari.
Bahkan sering kali Dimas hanya mendengar ******* Mentari saat tengah di bawah kungkungan Arka.
Perasaan Lala seperti orang yang tengah kehausan, menggebu karena tertahan begitu lama.
Selama beberapa hari tidak di sentuh oleh Dimas membuatnya hilang akal sehat. Yang Ia tahu saat ini kebutuhan batin yang selama ini tertahan segera terpenuhi.
Dimas hanya menikmati saja, andai ia tahu sejak awal cara meluluhkan hati wanita hamil yang marah-marah.
Sudah pasti Dimas akan melakukan nya tanpa menunda lagi.
"Sssstttt...." Dimas merasa sensasi yang berbeda, saat merasakan pisang keramatnya berada dalam mulut Lala.
Keluar dan masuk dengan begitu indahnya, bahkan wajah istrinya terlihat sangat menikmatinya.
Setelah cukup lama diam. Dimas pun sudah tidak bisa lagi diam, semua mulai berbalik.
Dalam sekejap Lala terbaring dan Dimas mulai memimpin pemainan.
Mengecup mulai dari bibir. Tengkuk dan meninggalkan stempel keunguan, dua bola kenyal dengan benda menarik berwana kecoklatan yang cukup menantang.
Tidak ingin menyia-nyiakan, dalam sekejap saja semua habis di nikmati oleh nya.
"Aa, Sssssttt....." tidak ada yang tertahan semua keluar dengan begitu saja.
Dua benda saling berbenturan, hingga keringat yang menetes tanpa ada hentinya.
Tidak ada yang menganggur, dua benda yang bergerak seiring dengan gerakan yang cepat pun bergerak.
Dimas hanya memegang dengan rasa gemas yang tidak bisa di katakan.
"Ah...ah....ah...."
"Sayang," Dimas sejenak berhenti bergerak, sebab ia ingin melahap bibir indah istrinya yang terus saja menantangnya.
Lala tidak ingin diam, ia bergerak karena benda yang terpasang tanpa bergerak membuatnya sangat tersiksa.
Tau istri nya ingin berolahraga di jam sepuluh pagi ini, Dimas langsung bergerak kembali hingga puncaknya tiba.
Cepat-cepat Lala menarik selimut dan menutupi dirinya yang masih polos.
Dimas juga masuk, dan ia membuka wajah Lala yang di tutupi selimut.
Tampaknya Lala mulai sadar dengan apa yang baru saja terjadi.
"Sejak kapan istri ku," ucapan Dimas tertahan.
Lala cepat-cepat menutup mulut Dimas dengan telapak tangan seiringan perasaan malu.
"Hehehe...." Dimas terkekeh geli, sambil melihat wajah Lala yang melihat arah lainnya.
"Apasih!" Lala ingin menutupi wajahnya kembali, tetapi Dimas menahan selimut dan membuatnya tidak bisa menutupi wajahnya.
"Tapi bagus juga, Aa suka. Sayang, mandi yuk," ajak Dimas, berharap ada bayaran mahal juga yang akan ia terima di dalam kamar mandi.
Tidak tahu harus berkata apa, tetapi Lala hanya menggigit bibir bawahnya dan menyimpan wajahnya pada dada Dimas.
"Ngapain?" goda Dimas, "Ada empeng, kan di dada Aa? O...." Dimas mengangguk sambil tersenyum penuh arti, memiliki bahan untuk menggoda Lala, "Mau empeng nya Aa kah sayang?"
Lala sudah tidak memiliki keberanian untuk menatap wajah Dimas, hingga ia hanya diam dengan tangan yang tidak di sadari melingkar di pinggang Dimas.
Tetapi wajahnya ia simpan di dada Dimas tanpa berani bergerak.
"Sayang," Dimas ingin melihat wajah Lala.
Tetapi Lala tetap tidak mau, dan masih tetap bersembunyi.
"Sayang," kata Dimas dan melihat wajah istrinya yang memerah, "Aa mandi dulu, mau bareng?"
Lala menggeleng dan menutup wajahnya dengan selimut.
Selesai Dimas mandi ia melihat Lala yang tanpa sengaja melihat kearah nya.
Dimas mengkedipkan kedua kelopak mata, hingga terlihat menggoda istrinya.
"Aa keluar dulu ya cinta, kalau mau lagi bilang ya," goda Dimas dengan tangan yang memutar gagang pintu.
"MAMA!!!!" teriak Lala dengan sekencang nya, karena sudah tidak kuat dengan godaan Dimas.
Mama Yeni yang memang ingin masuk ke kamar Lala seketika mendengar teriakan menantunya.
Daun pintu yang sedikit terbuka karena Dimas membuat suara Lala melenting ke luar.
"Ada apa Nak," Mama Yeni masuk tanpa ijin, karena panik.
Mengingat keadaan Lala yang memang masih harus sangat di perhatikan.
"Tuh Mama dateng," kata Dimas menunjuk Mama Yeni.
"Mampus," suara Lala sangat pelan, bahkan tidak akan di dengar oleh siapapun.
Tetapi ada hal menarik yang di dapati Mama Yeni, pakaian berserakan di lantai dan tubuh Lala yang tertutupi selimut.
Mama Yeni tersenyum samar, mengerti anak menantunya sudah baikan.
"Mama keluar dulu ya," pamit Mama Yeni tanpa mendengar jawaban Lala maupun Dimas, kakinya langsung keluar.
Lala tidak tahu harus seperti apa nanti saat berhadapan dengan mertuanya, tetapi pakaian yang berserakan di lantai sudah menjelaskan segalanya.
"Sayang, Aa keluar sebentar. Nanti kita jalan-jalan sama Tari, dan Rika."
*
Please like dan Vote, janji up lagi.
Ada yang nanya giveaway, jawabannya. Giveaway akan di umumkan setelah novel ini tamat. Tertinggi pemberi vote dapat pulsa 100 ribu, 2. 50 ribu 3. 30 ribu.