Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 103


"Kakak apasih! Overprotektif banget sih," omel Mentari yang kesal akan sikap suaminya.


"Bukan begitu. Tapi dia itu jomblo akut, takut nya nafsu sama istri orang," ujar Arka.


"Ada-ada saja!"


Rika dengan cepat melepaskan tangan Sandy, berjalan di belakang Sandy sambil melihat sekitarnya.


"Aa, Rika mana?" tanya Lala bingung.


"Kenapa La?" tanya Mentari saat Lala yang berjalan di depan mereka mendadak berhenti.


"Rika mana?" tanya Lala sambil matanya terus mengedar agar menemukan Rika.


Dimas juga melihat kebelakang, tetapi tidak ada Rika di sana.


"Sandy, tadi Rika sama kamu kan?" tanya Mentari.


"Iya," jawab Sandy.


"Terus Sekarang di mana?"


Sandy menatap ke belakang, dan ternyata tidak ada Rika.


Akan tetapi tidak lama berselang Rika tiba-tiba muncul, "Untung kalian belum jauh," napas Rika terengah-engah karena berlari, dan mencari keberadaan yang lainnya saat tadi sempat terpisah.


"Kamu dari mana?" tanya Lala.


"Tadi aku pas jalan liatin boneka, terus aku deketin. Ah, aku baru sadar udah terpisah sama kalian. Dan aku lari buat nyari kalian, untung kita ketemu di sini," jelas Rika dengan beberapa kali mencari udara.


"Ada-ada saja!" kata Dimas dengan wajah dinginnya, "Nanti kalau kamu mau sesuatu bilang, dasar ceroboh."


"Hehehe....." Rika mengakui kesalahannya, dan mungkin tidak akan ceroboh lagi, "Ayo masuk ke rumah hantu," tangan Rika mengarah pada wahana yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Tari juga mau Kak," Mentari merasa tertantang untuk mencoba, dan berharap Arka mau menemani nya.


"Nanti tidak bisa tidur, ke toilet saja bisa tidak berani," ujar Arka.


"Enak aja, emang pernah Tari enggak berani ke toilet?" Mentari kesal karena Arka meremehkan diri nya.


"Aa, kita juga masuk ya," rengek Lala.


"Tidak usah, Aa takut nantinya kamu jatuh karena terkejut. Tapi setelah lahiran Aa ijinin," jelas Dimas agar Lala mengerti.


Lala mengangguk dan tidak ingin egois, bagaimana pun apa yang di katakan oleh Dimas memang sangat benar.


"Iya deh, kita main yang lain aja," kata Lala tersenyum.


"Iya udah jadi yang ikut Kak Arka, Sandy, Tari dan Rika ya?" tanya Mentari.


"Iya, Lala sama Aa main yang lain aja," kata Rika.


"Main apa?" seloroh Mentari.


"Main bola!" timpal Arka.


"Enggak ada penginapan di sini!" kata Dimas.


"Dasar otak miring!" kata Arka sambil terkekeh geli.


"Sedikit," Dimas langsung menggaruk kepalanya, tetapi memang otaknya sedang miring.


Mentari dan Arka masuk bersama, begitu juga dengan Rika yang berada di belakang Mentari. Sandy sebenarnya tidak tahu apakah masuk atau tidak, menurutnya tidak ada yang menarik dengan permainan rumah hantu.


Tetapi entah bagaimana Arka tiba-tiba berada di luar, dan mendorong dirinya untuk masuk. Hingga akhirnya Sandy juga masuk.


"Tari!!!"


Rika tidak melihat Mentari di hadapan nya, malahan ia merasa sendiri dan entah kemana Mentari dan Arka perginya.


Arka dan Mentari kini sudah berada di luar, keduanya keluar saat Rika tengah berfokus menatap sekiranya yang gelap.


"Sayang, kamu yakin?" tanya Arka.


"Iya, Tari takut sebenarnya. Jadi kita enggak usah masuk, biarin Rika saja sama Sandy," jawab Mentari sambil cekikikan.


"Ya udah, kita main yang lain aja."


Mentari dan Arka langsung menyusul Dimas dan juga Lala yang tengah bermain beberapa permainan, tanpa perduli Rika dan Sandy yang tengah berada di dalam rumah Hantu.


Mentari tahu Dimas tidak akan masuk, karena tidak mengijinkan Lala untuk masuk. Dan tidak mungkin Rika mau masuk bersama dengan Sandy, hingga akhirnya ia berpura-pura setuju masuk kedalam rumah hantu.


Saat Rika tengah lengah ia keluar dengan susah payah, dan meminta Arka membayar pemilih wahana rumah hantu agar tidak di masuki orang lain. Bahkan menurut pintu masuk agar Rika dan Sandy tidak bisa keluar sampai menemukan pintu keluar yang cukup sulit.


----


Rika terus berjalan maju, tetapi ia merasa tidak ada orang selain dirinya. Bahkan untuk pemandu jalan keluar juga tidak ada, suasana semakin bertambah horor saat wangi mayat mulai menyeruak.


"Aaaaaa!"


Berjongkok dan melihat ke belakang, mencari pintu yang sebelumnya untuk masuk. Tetapi, pintu itu sudah tidak terlihat.


"Tari!!!" teriak Rika, "Tari!!!!!"


Tidak ada sautan, dengan meneguk saliva Rika harus berjuang untuk mencari pintu keluar.


"Aaaaaaa!!!!!"


Rika langsung berlari tersadar memegang seseorang, merasa lebih aman Rika mendongkak dan menatap orang tersebut.


Berdiri berbalut kain berwarna putih, remang-remang dengan wangi amis.


"PO..... Cong!!!!"


Rika tersadar ternyata barusan memeluk pocong, walaupun hanya pocong palsu tetapi, terasa seperti nyata.


Tiba-tiba lengan Rika ada yang memegang, saat ia berlari. Tubuh Rika tidak berani bergerak, apa lagi melihat kebelakang. Peluh semakin bercucuran seiring dengan kaki yang gemetaran.


"Mama!!!" teriak Rika ketakutan.


"Ini saya," kata Sandy.


Huuuufff.


Merasa lebih tenang dan lega, dengan adanya Sandy artinya ia tidak sendirian di ruangan yang sangat mengerikan tersebut.


"Mas, Tari di mana?" tanya Rika bingung.


Sandy ingat saat tadi Arka mendorong nya masuk, dan saat itu juga pintu masuk langsung di tutup hingga membuatnya tidak bisa keluar.


Seketika Sandy tersadar, jika Arka sengaja menjebaknya bersama Rika. Sudah pasti ini ide konyol Mentari agar ia dan Rika bisa berdua saja.


"Mas, kita cari jalan keluarnya?" pinta Rika dengan memeluk lengan Sandy.


Tidak tahu rasa segan, atau pun malu. Tetapi Rika memang ketakutan hingga merasa memeluk Sandy adalah keputusan tepat.


Sandy berjalan dengan biasa saja, sedangkan Rika berjalan sambil bersembunyi di balik tubuh Sandy.


Kik Kik Kik!!!!!!!


Terdengar suara tawa kuntilanak yang menggelar.


"Mas," Rika langsung memeluk Sandy dengan erat.


Sandy tidak tahu harus apa, tetapi saat ini melihat wajah Rika yang ketakutan membuat nya merasa kasihan dan ingin segera mencari pintu keluar.


"Tidak apa, itu hanya bohong," Sandy berusaha untuk menenangkan Rika.


Rika langsung melihat kearah sekiranya, tangannya tidak pernah lepas dari tangan Sandy.


"Tapi tadi serem banget Mas," suara Rika mulai bergetar dengan hebat.


Sandy tersenyum samar, saat sebelum masuk Rika terlihat ceria dan begitu bersemangat saat ingin masuk ke rumah hantu. Tetapi, saat sudah di sana ternyata malah ketakutan.


"Mas, saja di rumah sakit setiap hari yang kadang juga ke kamar mayat tengah malam enggak pernah liat setan," ujar Sandy agar Rika tidak ketakutan lagi.


"Mas kok cerita mayat sih!" kesal Rika.


"Sini Mas bisikin," Sandy mendekati telinga Rika dan berbisik.


Setelah itu Sandy menjauh dan menatap Rika.


"Mas yakin?" Rika merasa tidak yakin dengan ide Sandy.


"Tidak usah takut!" kata Sandy lagi berusaha meyakinkan Rika.


"Tapi," Rika belum yakin, dan ia juga terlalu takut untuk melakukan apa yang Sandy katakan.


"Coba dulu," kata Sandy lagi.


Rika mengangguk, dan mulai berjalan di depan Sandy.


"Mas tangannya jangan di lepas ya?" pinta Rika.


"Iya," Sandy berjalan di belakang tubuh kecil Rika, kedua tangannya memegang pundak Rika sesuai dengan keinginan Rika.


"Waaaaa!!!"


Tiba-tiba ada hantu jadi-jadian meloncat di hadapan Rika.


Plak!