
Dimas segera berjalan menuju kamar Sandy, ingin melihat keadaannya hari ini.
Dengan perlahan tangannya bergerak memegang gagang pintu, lalu mendorong dengan perlahan.
Dimas shock melihat Sandy dan Rika tidur di atas ranjang yang sama, bahkan keduanya seakan tengah berpelukan.
Dimas mengambil jam yang di letakkan di atas meja nakas lalu melempar hingga mengenai bagian sandaran pada ranjang.
Sandy dan Rika seketika terbangun dari tidurnya karena terkejut.
Sandy tersenyum samar, ini lah kesempatan yang di tunggu-tunggu.
"Kenapa kau segila ini?!" Geram Dimas menatap Rika.
"Apanya, Kakak ngomong apasih?" Rika bingung dan tidak mengerti mengapa Dimas marah padanya.
Bunda Jihan dan Mama Yeni juga bergegas menuju kamar Sandy, keduanya panik saat mendengar suara benturan keras yang datang dari arah kamar Sandy.
"Dimas ada apa?" Tanya Mana Yeni berjalan masuk.
"Kau memang manusia tidak tahu terima kasih, sudah dikasih hati minta jantung!" Dimas semakin geram pada Sandy.
Sandy hanya diam saja, biar saja Dimas marah sejadi-jadinya asalkan setelah itu Rika akan menjadi miliknya.
"Rika apa yang kalian lakukan? Bahkan di saat bulan puasa?!"
Rika menatap ke samping seketika ia terkejut dan langsung meloncat turun dari atas ranjang.
"Kok Mas Sandy bisa ada di sini?" Tanya Rika panik.
Semua mata mulai menatap pada Sandy, seketika Bunda Jihan mengerti. Baru saja Rika dan Sandy bersama nya, tetapi kini tiba-tiba sudah di kamar. Bukankah ada yang janggal.
"Setiap hari juga kita tidur begini, kenapa hari ini kau marah?" Kata Sandy dengan santai.
Rika ternganga, jawaban Sandy sungguh di luar akal sehat.
"Kapan?" Rika semakin bingung, "Mana ada!"
"Terserah kau saja, tapi paling tidak aku sudah mengakui nya sebelum kau hamil nantinya," kata Sandy lagi.
"Hamil?" Tanya Rika lagi dengan bingung, "ini maksudnya apa?" Rika belum mengerti juga sampai saat ini apa yang sebenarnya penyebab kemarahan Dimas.
Dimas segera menarik kerah kaos oblong Sandy dengan penuh kemarahan.
"Dimas, sudah-sudah," Mama Yeni panik dan mulai menengahi.
Saat Mama Yeni berdiri di antara kedua pria itu Dimas urung menghajar Sandy.
"Kenapa hanya menyalahkan Sandy? Rika juga salah, kalau dia tidak kau tidak akan terjadi!" Tatapan Mama Yeni menatap pada Rika dengan bingung, apakah putrinya serendah itu.
Rika tidak tahu harus berkata apa, mendadak gagu dalam sekejap saja.
"Kau memang bajingan!" Dimas menunjuk Sandy dengan kemarahan.
"Kak Dimas tunggu, sebenarnya ini kenapa?" Seru Rika.
"Kenapa kau pura-pura bingung, bukankah tadi kita tidur bersama bahkan selama ini pun kita sudah sering bersama dan sudah melakukan segalanya," kata Sandy.
Rika kini mengerti, Dimas marah karena berpikir ia dan Sandy sudah melakukan hal itu.
"Enggak," Rika menggerak-gerakkan tangannya dengan tubuh gemetaran, "mana ada!"
"Rika, untuk apa mengelak! Jangan sampai kau hamil terlebih dahulu!"
"Sudahlah Dimas, nikahkan saja mereka. Mama tidak mau membiarkan Rika dan Sandy terus-menerus kumpul-kumpul kebo!" Papar Mama Yeni.
"Mama," Rika seketika berjalan cepat mendekati Mama Yeni, memeluk kakinya dengan erat.
Menangis sejadi-jadinya karena tidak pernah satu kali pun ia dan Sandy melakukan itu, Rika sudah berjanji untuk menjaga diri begitupun sampai saat ini.
"Kau memang brengsek!"
Buk!
Buk!
Buk!
Dimas menghajar Sandy dengan membabi-buta bahkan hingga sudut bibirnya mengeluarkan cairan merah.
"Dimas, sudah," Mama Yeni juga berusaha menjauhkan anaknya dari Sandy.
"Kau memang bajingan!!!"
"Dimas, tolonglah. Kami saling mencintai, dari pada kami terus berzina bagaimana?" Sandy mengusap sudut bibirnya, biarkanlah ia di hajar.
Asalkan bisa menikahi Rika dengan secepatnya, terus berjumpa dengan Rika membuat nya kadang tidak karuan dan Sandy pun sebenarnya takut khilaf.
"Berzina?" Rika mulai berkeringat dingin.
Tidak.
Rika dan Sandy tidak pernah melakukan hubungan itu, keduanya masih memiliki batasan.
"Mas, jangan ngarang dong. Mana ada kita begitu!" Geram Rika.
"Sudah-sudah, nikahkan saja. Mama mau mereka menikah malam ini juga! Mama enggak mau tahu!" Tandas Mama Yeni.
"Ma, Rika enggak ngapa-ngapain," Rika seketika menangis.
Tidak merasa melakukan apapun, apa lagi kini kesannya ia sudah berbuat hina.
Padahal tidak sama sekali, tidak ada yang ia lakukan apapun dengan Sandy.
"Kalau kamu tidak melakukan apapun, kenapa kalian tidur di atas ranjang ini berdua. Berpelukan!" Tanya Mama Yeni penuh kemarahan.
"Enggak Ma, Rika enggak tidak sama Mas Sandy," Rika masih mencoba membela diri.
"Mama malu sama Jeng Jihan, kamu jadi wanita yang tidak punya harga diri!" Bentak Mama Yeni.
"Jeng," Bunda Jihan segera mendekati calon besannya, berusaha membuat suasana menjadi tenang.
"Saya malu sekali," tutur Mama Yeni.
"Rika tidak salah, yang salah Sandy. Dia sudah dewasa kenapa tidak mengajarkan contoh yang baik untuk calon istri nya! Jadi, kalau kalian mau marah, marahi Sandy!" Bunda Jihan menunjuk Sandy.
Bunda Jihan tersenyum miring, tahu ini semua hanyalah sebuah kebohongan yang nantinya bisa membuat Sandy lebih cepat menikah dengan Rika.
"Bunda, Rika sama Mas Sandy enggak ngapa-ngapain, kalau enggak percaya kita ke dokter," pinta Rika sambil terus menangis.
Dimas kini mengerti, Sandy sudah berbohong dan membuat keadaan seakan keduanya sudah tidur berdua.
Lalu, cepat di nikahkan.
Jika memang yang di katakan Sandy benar, mata tidak mungkin Rika meminta ke dokter untuk membuktikan kebenaran nya.
Sandy mendadak memucat, psikiater itu mendadak bingung. Jika saja semua setuju dengan usul Rika sudah pasti semua terbongkar dan ia akan lama baru menikahi Rika.
"Rika, kenapa mempersulit diri?!" Tanya Sandy.
"Kita bicarakan ini di rumah, kau!" Dimas menunjuk Sandy, "Aku tunggu di rumah, nanti malam semua akan kita bicarakan!"
"Kak, Dimas," Rika berusaha melepaskan cengkraman Dimas, semua harus di jelaskan tentang salah paham ini
"Pulang!"
Dimas menarik paksa Rika, hingga terhuyung-huyung mengikuti langkah kaki Dimas yang lebar.
"Rika enggak ngelakuin itu Kak," kata Rika lagi.
"Kau berbohong, kau sudah menodai kepercayaan yang aku berikan! Aku kecewa pada mu!"
Dimas memasukan Rika kedalam mobil, kemudian membanting pintu.
"Jeng, saya pamit dulu. Sekali lagi tolong maafkan anak saya. Saya sudah gagal mendidiknya," tidak tahu entah di mana di taruh wajahnya setelah ini.
Tapi Mama Yeni benar-benar malu sekali.
"Tidak usah meminta maaf Jeng, nanti kita bicarakan ini. Saya dan Sandy akan datang setelah berbuka puasa, agar bisa di bicarakan dengan baik-baik."
Bunda Jihan tahu ini hanyalah akal-akalan Sandy saja, jadi menurut nya tidak pantas bila calon besannya merasa begitu berdosa.
***
Emak-emak cakep tolong lah vote dan like anggap aja Thr buat Othor tolong ya. hehehe