Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Makan Malam Romantis


Rika terus berjalan dan masuk melalui pintu utama, sampai di ruang tamu ia melihat Mama Yeni yang tengah duduk sambil membaca majalah.


"Ma, Lala udah pulang?" Rika langsung duduk di samping Mama Yeni, dan menjadikan paha Mama Yeni sebagai bantal.


Mama Yeni meletakan majalah di tangannya pada meja, dan ia menyisir rambut anaknya, "Kok tanya sama Mama, bukanya kalian kuliah," tanya Mama Yeni kembali.


Rika melipat tangannya di dada, "Mana ada, tiba-tiba aja Lala ngilang gitu aja. Kak Dimas juga tiba-tiba enggak ada!" kesal Rika.


Mama Yeni tersenyum, karena melihat Rika yang kesal.


"Mama kok senyum sih!" Rika langsung bangun dan duduk di samping Mama Yeni.


"Ya biarin aja, Lala sama Kak Dimas kan udah nikah. Namanya juga pengantin baru," jelas Mama Yeni sambil terkekeh.


"Mama apasih, enggak jelas banget!" kesal Rika.


Rika pergi dengan membawa kesalnya, karena sebenarnya ia bukan hanya kesal pada Mamanya. Tapi pada Lala yang kini tidak punya waktu lagi dengan nya, "Apes banget sih gue. Lala udah sama Kak Dimas. Tari sama Pak Arka dan gue?" Rika menepuk dahinya, "Eh.....ponsel gue di mana ya, perasaan tadi masih ada?" Rika baru menyadari ponselnya yang entah di mana, mungkin saja ponsel itu terjatuh di mobil Sandy, "Aaaaaaaa......" teriak Rika.


Mama Yeni langsung menyusul Rika ke kamar, ia cepat-cepat membuka pintu, "Ada apa Dek?!" tanya Mama Yeni panik.


"Ponsel Rika ketinggalan di mobil Mas....dodol!" jawab Rika.


Mama Yeni seketika bingung, "Mas dodol?" tanya Mama Yeni.


"Iya Ma, psikiater gila yang ngerawat Lala itu lho Ma," jelas Rika.


"Sandy?"


"Males banget denger namanya aja!" kesal Rika, "Motor Rika tinggal di kampus, bannya kempes. Terpaksa Rika pulang sama dia!" jelas Rika.


"Rika kamu jangan ngomong begitu, Sandy kan udah anterin kamu pulang. Harusnya kamu bilang makasih," jelas Mama Yeni.


"Iya Ma," Rika tidak ingin berdebat dengan Mana Yeni, hingga ia lebih memilih mengangguk saja.


Dreet.... dreett....


Ponsel Mama Yeni bergetar, dan ternyata yang menghubungi dirinya adalah Dimas. Memang tadi ia menghubungi Dimas hanya ingin memastikan jika Lala bersama nya, tapi Dimas tidak menjawab dan kini ternyata Dimas yang menghubungi kembali.


"Halo Dimas...." jawab Mama Yeni setelah panggilan terhubung.


"Tadi Mama telpon Dimas?" tanya Dimas di sebrang sana.


"Iya, Mama cuman mau nanyak Lala saja."


"Lala sama Dimas Ma, kami menginap di apartemen untuk malam ini," jelas Dimas di seberang sana.


"Iya sudah."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumusalam."


Bib.


Panggilan telpon terputus, dan tiba-tiba Dimas melihat ada yang menarik di hadapannya. Perlahan Dimas melihat dari bawah, kaki mulus Lala yang memakai heels dan berpadu gaun putih yang terlihat pas di tubuhnya. Dimas tidak berkedip sedetikpun, perlahan ia bangun dari duduknya dan berjalan ke arah Lala.


Lala menunduk sambil meremas tangannya dengan bergantian, gaun yang baru saja datang karena Dimas memesannya langsung di pakai oleh Lala. Dan Lala tidak tahu apa yang tengah Dimas pikirkan saat ini.


"Pak Dimas...." Lala menggerakkan tangannya, karena Dimas masih diam saja.


"Iya," Dimas tersadar dari lamunannya, karena ia sangat terkesima dengan penampilan istrinya.


Dimas tersenyum, "Kau cantik sekali," tangan Dimas memegang tengkuk Lala dan ia mulai mendekatkan wajahnya, dengan mata yang menatap bibir Lala penuh hasrat.


Ting tong.


Terdengar suara bel berbunyi, Dimas menjauh dan kini ia berjalan kearah pintu. Tangan Dimas perlahan membuka pintu dan melihat dua orang datang.


"Tuan Dimas, kami sudah menyiapkan semuanya," jelas pria tersebut.


Dimas mengangguk, ia kembali berjalan ke arah Lala. Dan memegang tangan Lala, "Kita makan malam," kata Dimas.


Dimas memang sudah mempersiapkan makan malam romantis bersama dengan Lala, bahkan ia sudah memesan sebuah restoran hanya untuk dirinya dan Lala. Restoran yang hanya terletak bersebelahan dengan apartemen milik Dimas itu terlihat indah dan juga nyaman.


Lala menatap sekeliling nya, banyak lampu yang menyala dengan begitu indahnya. Bunga yang bermekaran membuat Lala tersenyum, tangannya mulai terlepas dari tangan Dimas. Karena ia ingin melihat lebih dekat sekitarnya dengan begitu indah.


Dimas tersenyum melihat Lala yang terlihat bahagia, hal inilah yang di nantikan oleh Dimas. Membahagiakan wanita yang sangat ia cintai, "Kau suka?" tanya Dimas.


Lala kembali menatap Dimas, dan ia mengangguk, "Maaf ya Pak, Lala malu-malu in ya?" tanya Lala dengan tidak enak hati, "Tapi ini untuk siapa Pak?"


"Untuk seseorang yang spesial," jawab Dimas.


"O," Lala mengangguk, "Ya udah, Lala pergi aja deh," kata Lala yang ingin pergi, karena takut jika orang spesial itu bukan dirinya.


"Tapi orang spesial itu kau," lanjut Dimas.


Deg.


Lala langsung menatap Dimas, rasanya apa yang di katakan oleh Dimas seperti bom yang sangat mengejutkan.


"Lala Pak?"


"Iya sayang," jawab Dimas.


Wajah Lala benar-benar seperti tomat, hatinya yang bahagia tidak bisa di tutupi lagi. Apa lagi panggilan Dimas barusan, sungguh membuatnya menjadi salah tingkah.


"Mari berdansa dengan ku," Dimas mengulurkan tangannya dan berlutut di hadapan Lala.


Lala mundur satu langkah karena tidak habis-habisnya Dimas membuatnya terkejut, bahkan saat Dimas berlutut di hadapan nya.


Dimas tersenyum dan mengangguk, meyakinkan Lala jika apa yang ia lihat saat ini adalah benar adanya.


Lala mengangguk dan perlahan tangannya bergerak, hingga Dimas berdiri kembali.


Alunan musik seakan menjadi irama tersendiri, saat Dimas melingkar tangan di pinggang Lala. Lala melingkarkan tangannya di leher Dimas.


"Kenapa?" bisik Dimas.


Nafas Dimas yang menghembus hangat pada tengkuk Lala seakan menjadi suasana yang menegangkan, rasanya ia seperti tidak percaya dengan apa yang tengah terjadi. Andai ini mimpi, Lala ingin tidur saja dan tidak usah terbangun. Namun ini nyata yang tidak perlu untuk di hindari.


"Kau cantik sekali," bisik Dimas lagi.


Lala tersenyum malu dengan jantung yang seakan semakin tidak bisa di kondisikan.


"Kita makan malam, karena kau harus memiliki tenaga malam ini," bisik Dimas lagi sambil membawa Lala duduk di sofa.


Lala hanya diam dan ikut duduk di samping Dimas, jantung Lala benar-benar ingin keluar bahkan ia tidak mendengar apa yang barusan di katakan oleh Dimas. Karena perlakuan romantis Dimas yang seakan membius dirinya.


"Ayo buka mulut," Dimas menyuapi Lala dengan penuh kelembutan, bahkan tangannya membersihkan sisa-sisa makanan yang mengenai sudut bibir Lala.


Ya ampun kenapa Othor yang kagak kuat buat nulis lanjutan nya, vote ya temen-temen biar Othor nya kuat. Soalnya Dimas dan Lala bikin Othor meleleh kek eskrim, hehehe....