Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Nyaman


Dimas yang mendengar ada keributan juga mulai melangkah keluar, sampai di luar ia melihat Rika yang tengah menatap tajam Sandy.


"Sandy...." kata Dimas saat melihat Sandy yang ternyata menjadi lawan dari keributan oleh Rika.


Rika seketika menatap Dimas karena sepertinya Dimas tahu siapa manusia mengesalkan yang ada di hadapannya saat ini, "Kakak kenal sama dia?" jari telunjuk Rika mengarah kepada Sandy sedangkan ia melihat Dimas.


"Dia ini psikiater untuk merawat Lala sekaligus dia ini adalah sahabat lama kakak, Apa iya kamu lupa sama dia? Dulu kan Sandy ini sering main ke rumah kita," jelas Dimas.


Rika mulai mengingat siapa pria yang ada di hadapannya, tapi sulit diingat karena ia masih terlalu kecil dan tidak terlalu menghiraukan siapa saja teman Dimas sebab Dimas memiliki banyak teman.


"Ini Rika, adik kamu yang selalu ingusan terus lap ke baju itu kan?" tanya Sandy sambil menatap Rika, wajahnya terlihat datar seolah Iya dan Rika tidak pernah terlibat cekcok.


Mata Rika seketika melebar, menurutnya Sandy sudah sangat keterlaluan karena berani mengatakannya dengan begitu jelek sekali, "Kalau ngomong jangan asal ya!" pekik Rika sambil menunjuk wajah Sandy.


"Rika kamu kalau bicara itu tidak usah pakai menunjuk, malu. Tidak sopan, seperti tidak pernah diajari tata krama," kata Dimas mulai memberi peringatan.


"Tapi dia ini Kak orang gila yang nabrak Rika kemarin!"


Dimas langsung melihat ke arah Sandy, dan sepertinya Sandy mengerti jika Dimas butuh penjelasan dari nya.


"Kemarin pas aku pulang dari sini tiba-tiba motor adik kamu ini berhenti mendadak di depan mobil aku, dan aku juga terpaksa mengerem mendadak. Ternyata tetap saja sedikit tertabrak pada belakang motor yang dikendarai, tapi kemarin aku juga mau tanggung jawab kan buat nganterin kamu pulang, kamu tidak mau! Apa kamu lupa?" tanya Sandy sambil menatap Rika.


"Kamu kemarin bilang bukan mau tanggung jawab anterin aku pulang, tapi kamu bilang kamu mau nikah sama aku!" kata Rika mengingat apa yang kemarin dikatakan oleh Sandy.


Sandy mengangkat sebelah alis matanya seolah ia menatap bingung Rika, "Menikah?" tanya Sandy sambil menatap Rika lalu kemudian ia menatap Dimas.


"Rika kamu jangan aneh-aneh udah sekarang sana pergi, kamu makin gak karuan aja. Nggak sopan!" garam Dimas yang tidak suka dengan tingkah adiknya yang tidak mencerminkan seseorang dengan Budi baik dan juga berpendidikan, padahal kedua orang tua mereka selalu menunjukkan nilai-nilai baik kepada anak-anaknya. Rika dan Dimas pun tidak pernah kekurangan kasih sayang, tapi entah mengapa Rika kadang memang sangat ketus apalagi pada orang yang baru ia kenal.


Dimas mulai kembali masuk ke kamar, Karena kini Sandy akan segera memeriksa keadaan Lala. Namun saat Sandy akan masuk ke kamar Lala, ia berbalik dulu menatap Rika yang ternyata masih menatapnya dengan permusuhan.


"I love you!" kata Sandy sambil mencium udara seolah ia tengah mencium Rika.


Rika seketika bergidik ngeri, bahkan ia menggerakkan tubuhnya karena merasa horor dengan kegilaan Sandy, "Dasar gila," Rika yang kesal kepada Sandy segera pergi.


Sandy perlahan masuk dan benar-benar meninggalkan Rika yang juga sesaat kemudian pergi menuju kampus, Sandy masih melihat wanita yang kemarin duduk di sisi ranjang dan kini melihat dirinya.


"Halo perkenalkan nama ku Sandy," Sandy mulai mengulurkan tangannya, dan melihat raut wajah Lala.


Lala gemetaran dan menatap tangan Dokter Sandy, kemudian ia melihat Dimas dengan mata yang berkaca-kaca.


"Dokter Sandy," kata Dimas sambil mengganguk seolah ia ingin Lala membalas uluran tangan Sandy.


"Lala," perlahan tangan Lala membalas uluran tangan Sandy, walau pun ia masih terlalu takut.


"Tidak ada orang jahat, semua baik. Dan kalau ada orang yang jahat pada kita kita harus bisa membuat nya untuk tidak mendekati kita, semangat ya," ujar Sandy dengan tersenyum.


"Coba untuk menerima semuanya, dan hadapi semuanya yakin jika kau wanita hebat. Wanita yang istimewa itu adalah kau, kau bukan wanita lemah, satu dua orang membenci mu. Tapi masih ada seratus orang yang menyayangi mu," ujar Sandy lagi.


Sandy mulai berkomunikasi dengan Lala, ia meminta Dimas untuk meninggalkan nya dengan Lala berdua saja. Sebab mungkin Lala terlalu malu untuk menceritakan apa yang ia rasakan pada orang lain, sedangkan Sandy pun tidak mungkin menceritakan hal pribadi pasien nya pada orang lain. Sebab itu sudah menjadi rahasia para dokter, tentang pasiennya.


"Keadaan nya akan membaik, bahkan banyak orang yang menderita trauma lebih dari dia. Tapi aku harap kau bisa membuat suasana nyaman, hingga dia merasa kalau apa yang terjadi padanya bukan akhir dari segalanya," ujar Sandy pada Dimas kini keduanya tengah duduk di ruang kerja Dimas.


"Aku rasa, dia wanita yang kuat," kata Dimas sambil mengangguk.


"Ehem," Sandy berdeham dan menyeruput kopi, setelah itu ia kembali melihat Dimas, "Dim, maaf ya. Kemarin aku yang salah dan enggak sengaja nabrak adik kamu. Tapi aku udah mau antar dia pulang, dia nya nolak," jelas Sandy.


Dimas mengangguk, "Iya, itu memang motor kesayangannya. Padahal mobilnya ada, tapi dia paling suka naik motor," Jelas Dimas.


Sandy mengingat jika Dimas memiliki seorang kekasih, "Gimana sama Zea?" tanya Sandy penasaran, "Bukannya mau nikah?"


"Udah putus, udah lama juga. Kayaknya enggak jodoh," jawab Dimas dengan tidak bersemangat. Sebab Dimas memang tidak suka membahas perihal mantan, kecuali Lala.


"O, lalu dengan Lala?"


Dimas tersenyum mendengar pertanyaan Sandy, "Kenapa menanyakan aku terus, lalu bagaimana dengan mu?" kini Dimas yang balik bertanya, sebab usia mereka sama. Tapi sampai saat ini belum ada yang menikah.


"Aku sudah punya calon," Sandy tersenyum sambil mengingat wajah Rika yang menggemaskan itu, "Tapi aku menunggu mu menikah dulu."


"Kenapa harus aku yang menikah terlebih dahulu?" Dimas kini merasa ada yang aneh dari kata-kata Sandy.


"Tidak apa, hanya saja kalau aku yang terlebih dahulu kau bisa menjadi perjaka abadi," celetuk Sandy sambil terkekeh.


"Dasar aneh!" jawab Dimas yang tidak mengerti dengan kode yang di berikan oleh Sandy, "Lagi pula seperti kau tidak akan menikah satu kaki, kau itu. Playboy, jadi kau menikah saja terlebih dahulu. Nanti baru aku yang menikah, sebab aku yakin mau menikah lebih dari sekali."


Tok tok tok.


"Dimas Mama masuk ya?!" terdengar suara Yeni yang mengetuk pintu.


"Masuk aja Ma," jawab Dimas dari dalam.


Yeni masuk dan melihat ada teman lama Dimas di sana, "Sandy? Ini Sandy kan?" tanya Yeni memastikan apa mata nya tidak salah melihat.


"Iya Tante ini Sandy, temen lama Dimas," kata Sandy sambil mencium punggung tangan Yeni, Sekalian calon mantu ya Tan," batin Sandy.


"Dimas sempat cerita kamu udah jadi dokter?"


"Iya Tan, masih harus banyak belajar juga Tan," kata Sandy berusaha merendahkan diri, "Tante, saya minta maaf karena kemarin saya yang nyenggol motornya Rika, saya salah Tante dan sekali lagi maaf."