
Entah apa yang di bicarakan oleh beberapa pria yang berada di ruang kerja Dimas, pembicaraan mereka terlihat begitu serius. Sampai akhirnya mereka menemukan sebuah solusi yang cukup baik.
"Besok, kita akan menjalankan semuanya," ujar Arka menutup pembicaraan mereka malam ini, kemudian mereka beranjak pulang.
***
"Sayang, kamu tumben enggak pengen sesuatu?"
Dimas berusaha untuk memecahkan keheningan malam ini. Berbicara dengan Lala, karena merasa di acuhkan oleh istrinya.
Lala hanya diam sambil berbaring, apapun yang dikatakan oleh Dimas tidak di perdulikan sama sekali. Entah mengapa saat ini emosi nya tidak terkontrol bila melihat wajah Dimas. Terkadang ingin sedikit manja, tapi sangat bertolak dengan yang terjadi.
"Sayang," Dimas berusaha untuk memeluk Lala, tetapi Lala menepis tangan Dimas.
Dimas menunjukan wajah lesu, ia berbaring miring sambil menatap istrinya yang menutup mata. Akan tetapi Dimas tahu jika Lala belum terlelap.
"Sayang, bicara dong," pinta Dimas.
Lala tetap tidak perduli, ia hanya menutup mata tanpa ingin melihat Dimas.
"Sayang."
"Aa, pilih Lala yang keluar dari kamar ini atau diam!" geram Lala.
Dimas seketika meneguk saliva, sejak kapan istrinya bisa berbicara begitu tegas. Perasaan Dimas semakin takut, entah mengapa Lala yang lucu dan menggemaskan kini berubah menjadi istri galak.
"Enggak usah ngedumel di hati! Biasa aja!" kata Lala lagi.
Glek.
Dimas benar-benar meneguk saliva dengan begitu sulit, bahkan istrinya mulai menjelma menjadi cenayang.
Karena tidak bisa terlelap akhirnya Lala bangun, ia keluar dari kamar dan menuju dapur.
"Sayang, kau ingin sesuatu?"
Tiba-tiba Dimas juga sudah berada di belang Lala, jika Dimas tidak bersuara mungkin Lala tidak akan tahu.
Lala menarik napas dengan panjang, kemudian memejamkan mata sejenak. Setelah di rasa lebih baik ia mulai berbalik, matanya membulat sempurna hingga Dimas bergidik ngeri.
"Kalau muncul itu bisa enggak jangan tiba-tiba? Kalau Lala terkejut terus Lala jantungan gimana?" cerca Lala dengan hantaman pertanyaan, "Atau Aa mau Lala kenapa-kenapa!" imbuh Lala.
Dimas seketika menggeleng, entah di mana wajah garang yang selama ini di lihat orang-orang di luar sana. Di hadapan Lala ia hanya seperti kucing yang tersiram air.
"Ish!" Lala langsung mengambil air putih, lalu membawa duduk di kursi meja makan. Perlahan meneguk air putih agar bisa membuat emosinya mereda.
Dimas juga ikut duduk di kursi meja makan, saling berhadapan dengan Lala.
Lala memutar bola matanya, kemudian kembali meneguk air putih hingga tandas.
Tidak ingin terus berada dalam kondisi menyulitkan. Dimas tetap berusaha untuk berdamai dengan Lala, apapun caranya akan ia lakukan.
"Sayang..."
Mata Lala seketika melotot pada Dimas.
Dimas tersenyum kecut, tampaknya ia mulai takut pada Lala.
"Sayang, kenapa kamu gitu sih sama Aa. Kan Aa udah minta maaf," kata Dimas dengan hati-hati.
"Gitu gimana?!" suara Lala terdengar dingin, tanpa ada exspresi dari wajah datarnya.
"Tau dari mana?"
"Tau, Aa suka ngikutin. Dan ngeliat kamu bikin mie instan, masak nasi goreng-"
"Terus kenapa liatin doang?" tanya Lala, padahal Dimas belum selesai berbicara.
"Kan-"
"Kan apanya?!" seru Lala dengan cepat memotong perkataan Dimas.
"Sayang, tenang ya," Dimas berjalan mendekati Lala, kemudian mengusap punggung Lala agar tenang, "Aa bakalan lakuin apapun asalkan kamu enggak galak lagi."
Bagaikan bendera perang yang di kibarkan oleh Dimas, seketika Lala menatap Dimas penuh amarah.
"Sayang," Dimas bergidik ngeri, bahkan ia mulai bimbang akan Lala saat ini antara benar istrinya atau tertukar.
"Apa nya yang galak?!"
"Sayang maafkan Aa, sepertinya Aa sedang sangat merindukan mu. Jadi suka ngawur," Dimas terus berusaha berdamai dengan Lala, "Kamu duduk lagi, apapun yang kamu minta Aa lakuin," tawar Dimas lagi.
Lala seketika duduk, lalu Dimas juga ikut duduk di sampingnya dengan tangan yang terus mengelus pundak Lala.
"Coba bilang ke Aa, kamu mau apa?" tanya Dimas dengan hati-hati.
Lala menatap wajah Dimas, sejenak ia terdiam sambil berpikir.
"Sayang? Atau kamu mau tidur? Ini sudah pukul dua malam," jelas Dimas.
Lala tersenyum sinis, perutnya sangat lapar tapi Dimas menawari nya dengan tidur.
"Tidur saja sendiri!"
"Sayang kamu mau makan apa?"
"Yakin dengan penawaran nya?" tanya Lala tidak yakin.
Dimas merasa mendapatkan lampu hijau, usahanya mulai terlihat berbuah manis. Dengan senyum yang melebar ia mengangguk cepat, dengan respon Lala saat ini berarti sebenar lagi mereka akan berdamai.
"Apa? Kamu mau apa? Semua bakalan Aa kasih. Apa saja untuk mu akan Aa berikan, ayo sekarang bicara?" tanya Dimas dengan panjang lebar, bahkan senyumannya terus mengembang tanpa henti.
"Lala mau makan nasi dingin yang ada asapnya."
Senyum Dimas seketika menghilang dengan perlahan, keinginan Lala benar-benar aneh, "Sayang, coba ulangi apa yang kau inginkan?"
"Nasi dingin yang ada asapnya!"
Dimas memijat dahi, apa yang harus ia katakan tentang keinginan Lala yang aneh, "Sayang, sejak kapan nasi dingin ada asapnya?" tanya Dimas dengan wajah melasnya.
"Kamu mau apa? Semua bakalan Aa kasih. Apa saja untuk mu akan Aa berikan, ayo sekarang bicara?" Lala menirukan kembali kata-kata Dimas yang barusan di utarakan padanya, "Omong doang!" gerutu Lala sambil berdiri.
"Aduh," berulang kali Dimas mengusap wajah, apa yang kini terjadi pada Lala benar-benar membuatnya pusing, "Sayang, kamu minta yang lain. Jangan nasi dingin yang ada asapnya, yang lain sayang," tawar Dimas lagi.
"Lala mau minum air putih, tapi airnya harus menjulang melewati gelas ini," Lala menunjukan gelas yang tadi ia bawa di atas meja.
Dimas merasa lututnya semakin lemah, tidak ada keinginan Lala yang masuk akal. Lalu bagaimana kali ini pun cara menjelaskan nya pada Lala.
"Kenapa? Katanya apa aja. Baru Lala minta makan nasi dingin yang ada asapnya, terus air putih menjulang tinggi sampai melewati gelasnya. Belum gedung tertinggi di Dubai," omel Lala, kemudian ia segera pergi menuju kamar.
"Ya ampun, apa Jangan-jangan yang di film FTV itu benar. Jiwa seseorang tertukar dengan jiwa orang lain, kenapa setelah bangun dari pingsannya istri ku mendadak galak dan aneh," Dimas mulai berdebat dengan pikiran-pikiran buruknya. Bahkan permasalahan saat ini jauh lebih membingungkan dari pada rencana yang ia susun untuk menjebak Dimitri keluar dari persembunyiannya.