Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 106


Saat pulang dari pasar malam, Mentari dan Arka tidak lagi menggunakan mobil yang sama. Karena mereka harus segera pulang mengingat baby twins yang sudah di tinggalkan cukup lama.


Hingga supir datang untuk menjemput keduanya.


Lain halnya dengan Lala, Rika, Dimas dan Sandy yang pulang dengan masih mengunakan mobil yang sama.


Malam sudah sangat larut, Lala tertidur lelap di pelukan Dimas.


Sedangkan Sandy terus mengemudikan mobilnya, dan Rika duduk di jok paling belakang karena tidak mau duduk bersebelahan dengan Sandy.


Rika masih sangat takut dengan kemarahan Dimas saat melihat dirinya di gendong oleh Sandy.


Padahal Dimas terlihat santai dan tidak mempermasalahkan sama sekali jika ia marah tentu saja Sandy sudah tidak lagi bersama mereka.


Awalnya jalanan terlihat baik, tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan sampai akhirnya terdengarlah suara cukup kencang.


Mobil yang dikemudikan oleh Sandy mendadak oleng tidak terkendali, satu peluru berhasil menembus salah satu ban bagian depan. Dengan keahlian mengemudi yang di milikinya Sandy berusaha menghentikan laju mobil.


"Sandy?" Tanya Dimas.


Lala mendadak terbangun karena merasa terusik, "Kenapa?"


"Kak Dimas!" Seru Rika tidak kalah takut.


Citttt.


Sandy berhasil memberhentikan mobil dengan paksa, matanya menatap sekelilingnya.


"Dimas apa kau mengenal mereka?"


Beberapa mobil terparkir, para pria bertubuh besar turun dan berjalan ke arah mereka.


Dimas juga tidak mengerti mengapa ada sekelompok orang yang menghadang laju mobil mereka. Akan tetapi Dimas langsung menekan tombol darurat pada jam tangannya yang terhubung langsung pada bodyguard nya.


Saat Dimas menekannya, keberadaannya saat ini otomatis terkirim dan dengan mudah orang-orang nya dapat menemukan di mana keberadaan nya.


"Turun!!!!" Titah seorang pria bertubuh tegap.


"Aa?" Lala memeluk Dimas sekencang mungkin, berusaha berlindung di balik tubuh kekar suaminya.


Suasana mendadak menegangkan saat ban mobil mereka kembali di tembus timah panas.


"Aa!!!" Teriak Lala semakin ketakutan.


"Kak mereka siapa?"


Rika juga mulai gemetaran tidak pernah terpikirkan oleh nya tentang kejadian malam ini yang sangat menyeramkan.


"Turun!" Titah pria berbaju hitam yang berada di depan mobil.


"Bagaimana?" Tanya Sandy kepada Dimas.


Dimas menatap jam tangannya, "Sebentar lagi, tetap di sini," jawab Dimas.


Dimas tahu orang-orang nya sedang dalam perjalanan, sebenarnya Dimas tidak akan takut jika tidak membawa istri dan adiknya.


Jika hanya ia dan Sandy saja tentu keduanya bisa melakukan perlawanan secara langsung, tetapi keadaan Lala tengah mengandung dengan Rika yang juga tengah kesakitan pada kakinya membuat Dimas takut salah mengambil langkah.


"Kalau kalian tidak turun, mobil ini akan saya bakar!"


Ancam pria bertubuh kekar itu lagi, dengan memegang korek api di tangannya dan mulai menyalakan.


"Tidak ada pilihan," ujar Dimas.


Sandy seketika turun dari dalam mobil setelah mendengar jawaban Dimas, ia berjalan ke arah pria lebih menonjol dari pada yang lainnya.


"Kalian siapa? Dan ada masalah apa?" Tanya Sandy dengan suara dinginnya.


Seorang pria tiba-tiba turun dari mobil, jas hitam yang rapi melekat di tubuhnya semakin berjalan kearah Sandy.


"Pria itu?" Sandy mengingat dengan jelas, pria yang berjalan ke arahnya adalah pria tempo hari yang mengejar Lala.


"Aa, Dimitri!!!" Seru Lala.


"Ayo turun," Dimas membawa Lala untuk turun, begitu juga dengan Rika.


Melihat seorang bodyguard Dimitri terlihat kembali menyalakan korek api dan mengancam akan membakar mobil, tentu saja mereka juga bisa ikut terbakar di dalam nya.


"Kita tidak ada urusan anak muda!" Dimitri menyenggol Sandy, lalu berjalan ke arah Dimas.


Lala bersembunyi di balik badan Dimas, kakinya sudah sangat bergetar karena ketakutan.


"Ayolah sayang, kita pulang!" Dimitri mengulurkan tangannya meminta Lala mendekat padanya.


Lala menggeleng ketakutan karena wajah Dimitri kembali mengingatkan dirinya pada trauma rumah tangga yang keras bersama Dimitri.


"Kau itu istri ku! Ayo pulang," Dimitri masih berbicara dengan gaya yang santai, berharap Lala menurut tanpa bantahan apa lagi kekerasan.


"Kita sudah bercerai!" Teriak Lala.


"Tidak, kita masih sah suami istri!" Ujar Dimitri meyakinkan Lala.


Dimas tersenyum miring, pria di hadapannya terlihat begitu percaya diri hingga dengan santainya berujar kata istri pada Lala.


"Dia istri ku, dan kau hanya mantan suami!" Tegas Dimas.


"Istri mu?" Dimitri tidak pernah tahu akan hal itu, bahkan saat ini ia begitu shock saat mendengarnya.


Yang Dimitri tahu Dimas menyukai Lala, dan malam ini adalah malam yang tepat untuk mengambil Lala kembali.


Sesaat wajah Dimitri menegang, akan tetapi sesaat kemudian tawa Dimitri menggelegar, "Kau sedang bercanda? Ya dan itu lucu!" Ejek Dimitri.


"Dasar tidak waras!" Umpat Dimas.


"Lala kemari, aku suami mu bukan bocah ingusan ini!" Dimitri menatap Dimas dengan wajah sinis.


"Tua bangka tidak tahu malu, apa kau sudah pikun? Dia ini mantan istri mu, dan sekarang dia istri ku!" Tegas Dimas.


"Tidak, dia istri ku," tangan Dimitri bergerak ingin menarik Lala yang berdiri di belang Dimas.


Kaki Dimas dengan cepat menendang tangan Dimitri.


"Kurang ajar!"


Dimitri tidak ingin diam saja, menurutnya Dimas sudah sangat lancang.


"Kau bukan hanya merebut istri ku! Tetapi juga menjadi parasit!"


"Badan mu sudah bau tanah, sebaiknya kau kembali ke tahanan dan bertaubatlah!" Ejek Dimas.


Tidak ingin berdebat lebih lama dengan Dimas, Dimitri ingin kembali menarik Lala padanya.


"Dasar gila!" Teriak Lala, "Kita sudah bercerai, aku sudah menikah lagi dan tidak Sudi melihat mu lagi!!!"


"Kau dengar!" Dimas tersenyum penuh kemenangan.


"Kita belum bercerai, dia yang gila dan ingin memiliki mu!" Jawab Dimitri.


Lala maju selangkah, sekalipun ia terus menitihkan air mata tapi kali ini Dimitri harus tahu. Lala sudah lelah terus berada dalam bayang-bayang masa lalu yang begitu kejam.


"Aku sudah menikah lagi, dan kau hanya mantan suami!"


"Kita tidak pernah bercerai!" Jawab Dimitri lagi.


"Kau jangan gila, cukup aku yang gila karena kau!" Telunjuk Lala mengarah pada wajah Dimitri, "sekarang kau mengatakan aku istrimu di saat kita sudah bercerai, dan itu sudah tidak ada gunanya. Mana wanita yang kau anggap istri dan aku hanya pembantu!" Tanya Lala penuh luka.


"Aku minta maaf, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi," pinta Dimitri dengan memohon.


"Sekalipun kau memohon berlutut, aku sudah tidak akan sudi menjadi istri mu!" Lala terus menitihkan air mata, dengan tubuh yang bergetar hebat. Akan tetapi ia ingin menghadapi masalah rumit yang belum terselesaikan sampai saat ini juga.


"Lala-"


"Cukup! Aku sudah bersedia menjadi istri mu dengan sarat kau membiayai seluruh pengobatan Ayah ku! Mana?"