
Di waktu bersamaan namun, di tempat yang berbeda.
Dengan langkah kaki yang cepat Sandy segera kembali ke hotel, memastikan bahwa apa yang barusan di katakan oleh Dokter Miranda tidaklah benar.
"Rika," Sandy masuk dengan cepat tetapi matanya tidak melihat istrinya ada di atas ranjang, seketika Sandy berlari cepat menuju kamar mandi mungkin Rika ada di sana.
Tapi tidak, Rika tidak ada di dalam kamar mandi, kemana Rika perginya?
Mata Sandy menatap sekitar kamar, netra nya melihat banyak tisu yang bertaburan di lantai.
Dengan perasaan cemas ia mengambil tisu-tisu itu dan memastikan cairan apa yang berwarna merah.
"Darah?" Sandy mulai tersadar, selimut putih yang menutupi tubuh Rika sebelumnya ada banyak darah.
Seketika Sandy mengingat kata-kata Dokter Miranda mengenai seorang pasien nya yang bernama Rika terkena Leukimia stadium 3.
Sandy masih berusaha untuk tenang dan menyimpan segala kemungkinan buruknya.
Dengan segera ia cek out dan ingin menemukan Rika.
Pikirannya sudah kacau, dan tidak terkendali.
Kini Sandy berada di dalam mobil nya, mengisi daya ponselnya dan segera menyalakan nya sambil mulai mengemudikan mobilnya di tengah jalan raya.
Drett.
Ponsel Sandy berdering, ia segera menerima panggilan tersebut.
"Halo," jawab Sandy.
"Kamu di mana Sandy?" Tanya Mama Yeni yang berada di seberang, suara terdengar bergetar.
"Di jalan Ma," Sandy sangat takut mendengar kemungkinan terburuk, sehingga suara terdengar parau.
"Kemarin sore Mama minta Rika buat mengantarkan makanan ke rumah sakit, tapi, ternyata dia tidak pulang setelah nya, kata supir Rika yang memintanya pulang duluan sedangkan dia pergi bersama temannya, apa kamu tahu Rika di mana?" Tanya Mama Yeni dengan panik.
Mama Yeni mengira jika semalam Rika setelah kembali dari rumah sakit langsung tidur tetapi, saat pagi ini ia melihat kamar Rika ternyata kosong.
Kemudian supirnya menjelaskan jika semalam Rika minta di tinggalkan, sedangkan satpam pun mengatakan Rika sama sekali tidak pulang semalaman.
"Sandy, Rika sama kamu kan Nak?" Mama Yeni masih menunggu jawaban dari Sandy, berharap jawaban nya sesuai dengan keinginan nya saat ini.
"Semalam iya Ma, tapi pagi ini Sandy tidak tahu dia kemana."
Mama Yeni menangis dengan keras, tidak biasanya Rika seperti ini, pergi tanpa kabar.
"Ma, Sandy tutup dulu telponnya, Sandy sedang melacak keberadaan Rika," kata Sandy sebelum memutuskan panggilan telpon.
Setelah panggilan terputus Mama Yeni semakin menangis, keberadaan Rika saat ini membuatnya menjadi stres.
"Mama tenang dulu, Dimas juga sedang mencari anak itu," Dimas pun berusaha membuat Mama Yeni tetap tenang.
Dreett.
Ponsel Dimas berdering, tertulis nama Rika di sana.
"Rika Ma," kata Dimas sambil menyambar ponsel nya dengan cepat.
"Rika?" Mama Yeni mengusap air mata dengan cepat, mendengarkan apa yang akan di bicarakan Dimas dan Rika lewat sambungan telepon seluler.
"Halo," jawab Dimas setelah menerima panggilan dari Rika.
"Kak Dimas, Rika minta transfer uang ya, Rika lagi perlu banget," pinta Rika dari seberang sana sesekali tangannya mengusap darah yang terus mengalir deras dari hidungnya.
"Kau di mana sekarang? Mama khawatir, kenapa tidak pulang?" Bukan transferan uang yang langsung di terima Rika, tetapi rentetan pertanyaan dari Dimas yang juga tengah mengkhawatirkan keadaan adiknya.
"Kak, Rika lagi sama temen-temen, nanti Rika pulang, tolong kirimin Rika uang ya Kak," pinta Rika lagi.
"Belum cukup satu Minggu kau meminta transfer uang, bukan aku tidak mau memberikannya tapi untuk apa uang-uang itu, jangan sampai kau memakai barang haram!" Tebak Dimas.
"Kak, Rika butuh uang, tolong ya Kak," pinta Rika lagi.
Panggilan terputus dengan begitu saja, Dimas merasa kesal mengapa kini Rika selalu meminta uang, kemana uang-uang itu di gunakan adiknya.
"Dimas, adik kamu di mana?"
"Sama teman-temannya dan dia butuh uang lagi," Dimas mendesus mengusap wajahnya dengan kasar.
"Rika, sebenarnya anak itu kenapa? Apa maunya?" Mama Yeni terus saja mengusap dada yang terasa sesak.
***
"Rika kita ke rumah sakit sekarang ya," Dino sudah tidak kuasa melihat wajah pucat Rika.
Setelah Rika selesai membersihkan diri nya, wajahnya bukan segar tetapi malah semakin pucat.
"Aku udah enggak ada uang Dino," Rika menolak saat Dino mengajaknya ke rumah sakit.
"Aku bisa gadaikan mobil aku, kamu enggak usah mikirin duit, yang penting kamu dulu," Dino langsung membawa Rika, tidak perduli pada penolakan Rika yang terus saja terlontar dari nya.
"Din, kamu jual kalung aku aja ya," Rika melepaskan kalungnya dan memberikan pada Dino.
"Kamu serius?"
"Iya, ini mahar aku, enggak apa-apa, aku lebih berani menjual itu dari pada memakai uang dari ATM suami aku, aku malu kalau memakai uang nya," jelas Rika.
Tidak ingin banyak berdebat dengan Rika, Dino lebih memilih untuk menurut, dengan segera ia memapah tubuh Rika memasuki lift dan membawa masuk ke dalam mobil nya.
Setelah itu ia langsung menuju toko perhiasan dan menjual kalung milik Rika.
Dino tidak menyangka ternyata kalung milik Rika berharga sangat fantastis sekalipun sudah di potong harga beberapa persen karena tidak memiliki surat.
Setelah memastikan uangnya masuk ke rekening Rika, Dino segera masuk ke dalam mobilnya kembali dan membawa Rika dengan segera ke rumah sakit.
"Rika, apa tisu itu tidak mampu lagi menampung darah itu," tanya Dino.
"Dino, aku udah nggak kuat," perlahan Rika kehilangan kesadarannya hingga membuat Dino panik bukan kepalang.
Sampai di rumah sakit Dino segera meminta pertolongan pada perawatan.
Dengan segera Rika di bawa ke UGD dan segera mendapatkan penanganan.
"Tunggu, Dokter dia tunangannya Dokter Sandy bukan?" Tanya Dokter Anifah.
Tidak ada yang tahu Sandy dan Rika sudah menikah, mereka hanya tahu jika Rika dan Sandy masih bertunangan saat beberapa waktu lalu di rumah sakit.
"Iya, cepat tangani," kata Dokter Jeri.
Dino mengambil ponselnya dan segera menghubungi Lala, tidak mungkin lagi ia menuruti keinginan Rika.
Jika ia terus menutup mulut artinya sama saja ia ikut adil membiarkan Rika dalam penderita.
Tangan Dino bergetar sambil mencari nomor kontak ponsel Lala, sampai akhirnya ia menemukannya.
"Halo Din?" Jawan Lala di sebrang sana.
"La, Rika," suara Dino bergetar, air matanya terus tumpah tanpa bisa di tahan.
"Rika kenapa Din?" Lala merasa ada yang tidak beres, dan ia sudah tidak sabar menunggu berita yang akan di sampaikan oleh Dino.
"Rika, kritis La," kata Dino dengan suara di paksa agar tetap kuat.
"Kritis?" Lala shock dan hampir menjatuhkan ponselnya.
Dengan cepat Dimas mengambil alih ponsel di tangan Lala, hampir saja ponsel itu jatuh jika Dimas tidak mengambilnya.
"Halo," kini Dimas yang meneruskan pembicaraan Lala dan temannya.
"Halo, ini Kak Dimas?" Tebak Dino, "Rika di rumah sakit Kak, keadaan sangat buruk," kata Dino lagi.