
Dalam perjalanan pulang Lala terus saja diam, tanpa bicara dan seakan hanyut dalam pikirannya sendiri.
Dimas yang menyadari perubahan istrinya tentu bingung juga bertanya-tanya, sadar tidak melakukan sebuah kesalahan yang membuat istri kecilnya berubah diam.
"Kamu kenapa?"
Dimas mencoba bertanya kepada istri kecilnya, jika pun ada salah paham maka harus cepat di selesaikan agar tidak berlarut-larut, mengingat saat Lala pendarahan membuat Dimas takut terulang lagi.
"Lala kangen banget suasana puasa bareng Zira, Ibu Sarika," jawab Lala dengan suara yang bergetar.
Lala tidak tahu kasih sayang almarhumah ibu kandungnya, yang ia tahu hanya kasih sayang ibu sambung yang sangat tulus mencintai nya.
Membesarkan layaknya anak kandung, mencintai tanpa pamrih, melindungi tanpa berharap balasan.
Sekarang semua sirna, berubah menjadi suatu kenangan yang tak terlupakan.
Rindu saat-saat bersama, bercanda, bertengkar seakan dunia akan runtuh.
Ada kerinduan di balik itu semua, entah di mana keluarga yang hangat penuh dengan canda tawa.
Sisa-sisa kenangan yang begitu menusuk relung hati, dengan sejuta impian.
Satu tetes air mata Lala jatuh dari pelupuk mata, menahan kerinduan.
"Kan Ayah sudah kembali," Dimas memeluk erat istrinya, mengelus pundak nya dengan penuh kehangatan.
Tau akan perasaan Istrinya yang tengah rapuh.
"Apa mungkin semua bisa kembali lagi Aa, Zira entah dimana, Ibu juga enggak tau di mana, apa mereka sama rindunya dengan Lala."
Entahlah, tetapi hati terasa di cabik-cabik menahan kerinduan kepada wanita yang memperkenalkan apa itu arti seorang Ibu.
Flashback on.
Saat beberapa tahun lalu, Lala masih duduk di bangku sekolah dasar.
Kali Lala dengan bahagia melangkah menuju kamar kedua orang tuanya, Lala tak pernah tahu jika Sarika adalah ibu sambungnya.
Sarika pun tidak pernah mencoba memberitahukan pada dirinya akan semua itu, tidak ada yang aneh.
Kasih sayang yang Sarika berikan sejak masih bayi begitu besar layaknya seorang ibu kandung pada anaknya, tidak pernah satu kali pun Sarika mengungkit siapa sebenarnya Lala.
Sampai suatu hari tanpa sengaja melihat sebuah lembaran kertas, akta kelahiran nya yang terjatuh di lantai.
Lala sudah bisa membaca rangkaian huruf yang tertulis di atasnya, bukan nama Sarika yang tercantum.
Melainkan nama belakangnya, Sinara.
Rasa penasaran bercampur menjadi satu, selama inipun Lala tidak pernah di ijinkan melihat berkas tentang dirinya.
Mulai dari Kartu keluarga, raport, akta kelahiran dan hal-hal lain yang menyangkut data dirinya.
"Ayah, ini kok nama Ibu enggak ada?"
Seketika Atmaja tersentak, fokusnya pada televisi seketika beralih menatap putrinya yang baru di sadari nya kini berada di sampingnya.
Mata Atmaja seketika melihat kertas yang di pegang Lala, sebuah akta kelahiran yang entah di mana di temukan nya.
"Apa iya?"
Atmaja berpura-pura bingung, seketika ia mengambil akta kelahiran dari tangan Lala dan seolah membaca nya.
"Assalamualaikum."
Sarika baru saja kembali dari pasar tetapi ia sudah di sambut wajah Lala yang tengah murung.
"Bu, kok di sini nama Ibu Sinara, padahal nama Ibu kan Sarika?"
Degh!
Jantung Sarika seakan terasa sakit mendengar pertanyaan itu, sebuah memori yang menyakitkan kembali berputar di kepalanya.
Seketika dendam itu kembali hadir dengan begitu saja.
"Bu," Lala kembali bersuara hingga menyadarkan Sarika dari lamunannya.
Sarika menahan sesak di dada, meletakan kantung plastik dengan sayuran di dalamnya pada meja.
"Lala sayang sama ibu?"
Lala mengangguk.
Sarika langsung memeluk Lala dengan penuh kehangatan.
"Ini salah ya Bu, kok Ayah baru nyadar," Atmaja seolah memperhatikan tulisan pada akta kelahiran Lala.
Sarika tersadar maksud Atmaja.
"I-iya Yah, Ibu yakin itu pasti petugas pembuatan akta nya teledor," Sarika seakan mengomel.
Mengalihkan perhatian Lala, agar ia tak pernah tahu siapa sebenarnya ibu kandungnya agar tidak pernah ada rasa sedih di hati Lala yang baru berusia 11 Tahun.
Lala merasa tidak ada yang aneh, dan membenarkan apa yang di jelaskan oleh kedua orang tuanya.
Tetapi, saat malam hari tanpa sengaja ia mendengar Atmaja dan Sarika berbicara di dalam kamar.
"Mas, ini kenapa akta kelahiran Lala bisa ada di dia?"
"Enggak tahu juga, mungkin terjatuh tanpa sengaja," jawab Atmaja yang duduk di sisi ranjang.
Sarika memijat dahinya, berdiri menatap Atmaja bingung.
"Lala tidak boleh tahu kalau aku bukan ibu kandungnya, dia akan bersedih," kata Sarika dengan perasaan was-was.
Atmaja hanya diam, mengingat Lala sangat bahagia dengan adanya Sarika.
Dari usia dua tahun Sarika merawat nya, dan saat itu pula Atmaja sudah berjanji tidak akan mengatakan siapa ibu kandung anaknya sampai Lala dewasa.
Tujuannya adalah agar Lala merasakan apa yang di rasakan oleh anak-anak seusianya, memilikinya kasih sayang utuh dari kedua orang tua kandungnya.
Tetapi sayang, malam itu Lala mendengar semuanya.
Air mata tumbuh bersama dengan mainan yang tengah di pegang nya.
Sarika dan Atmaja tersadar ada orang lain di antara mereka.
"Anak Ibu belum tidur?"
Sarika sudah gemetaran terapi, berusaha tetap tenang seakan baik-baik saja.
"Lala sudah lama di sana?"
Atmaja juga buru-buru mendekati putri nya.
"Terus kalau Lala bukan anak Ibu, Lala anak siapa?"
Pertanyaan Lala sungguh membuat hati hancur dengan perlahan Atmaja menjelaskan pada anaknya.
"Lala sering kan Ayah ajak ke makam Bunda?"
Lala ingat, hampir satu bulan sekali ia di ajak Atmaja berkunjung ke sebuah makam.
"Itu makan Bunda, kandung Lala tapi, Ibu Sarika juga sayang sama Lala dan sama seperti Bunda. Lala tahu kenapa namanya Laila putri Sinara?"
Lala kembali menggeleng.
"Karena Lala memang putri Bunda Sinara, dulu nama Lala cuman Laila Putri, itu nama yang di buat Bunda tetapi, saat Bunda tiada Ayah menambahkan nama Sinara sebagai nama belakang kamu," jelas Atmaja dengan suara bergetar.
"Hey, anak Ibu jangan menangis, walaupun Lala enggak lahir dari rahim Ibu. Ibu tetap sayang sama Lala," Sarika memeluk putri sambungan dengan erat, meluapkan rasa cinta yang tidak pernah pupus walaupun terkikis air hujan.
Flashback off.
Lala tidak lagi sanggup mengenang setiap detik bersama Sarika, kerinduan itu terlalu berat hingga malam ini dalam perjalanan pulang ke rumah hatinya terus menjerit ingin memeluk wanita yang selama ini di panggil nya ibu.
Apa lagi saat berkumpul seperti barusan, membuatnya sangat ingin kembali pada masa-masa ia, Sarika dan Zira bersama.
"Sayang, kasihan anak kita kalau kamu begini."
Lala hanya memeluk Dimas, terisak dalam dekapan hangat suaminya tersesat dalam bayang-bayang kerinduan saat masih memiliki keluarga yang utuh.
***
Maaf ya ibu ibu kalau enggak bisa balas komen satu-satu, tapi Othor baca kok komen kalian, kadang Sampek ngangkak parah Othor nya. Maklum sebagai seorang ibu Othor kadang punya kesibukan, maaf ya kalau jarang banget balas komen. Terima kasih.