
Setelah semua keluarga pulang tinggal Sandy dan Rika saja berdua.
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Sandy, jika Rika harus menjelaskan apa yang kini masih menjadi beban dalam benaknya.
"Bicara," pinta Sandy dengan tidak sabar.
"Apanya?" Wajah Rika semakin memuncak, tahu saat ini Sandy kembali membuka pembicaraan mereka sebelumnya.
"Ayo bicara, diam mu ini semakin membuat Mas penasaran?" Sandy sengaja berdiri beberapa langkah dari brankar Rika.
Melihat exspresi wajah istrinya saat ini benar-benar menyimpan sebuah kecemasan.
"Cepat, Mas juga bisa marah."
Rika menunduk sambil meremas kedua tangannya, bagaimana bisa mengatakan semua itu menimbang nya saja sudah ingin membuat Rika stres.
"Mas, kecewa kalau kamu punya rahasia, Mas, merasa suami yang tidak di hargai, padahal Mas, melakukan apa saja demi kamu," papar Sandy.
Raut wajah kecewa Sandy jelas terlihat, ada rasa kesal saat Rika lebih memilih menyimpan rahasia sendiri tanpa membagi pada nya seakan tak di inginkan keberadaan nya.
"Ternyata kamu tidak benar-benar mencintai Mas," ujar Sandy penuh kecewa.
Luka di bagian perutnya belum kering total, belum cukupkah membuat Rika yakin bertapa ia sangat mencintai.
"Mas, Rika....." Rika kehilangan kata-kata menatap Sandy dengan takut.
Takut Sandy marah dan kecewa padanya, sebagai seorang istri tentu Rika malu bila sudah memberikan kesuciannya pada orang lain menurutnya.
Sedangkan yang seharusnya mendapatkan itu semua adalah Sandy.
"Kamu masih tidak ingin bicara?" Sandy berjalan ke arah pintu, "ternyata Mas ini tak pernah di anggap suami."
"Mas," Rika meloncat dari atas brankar dan berlari ke arah Sandy.
Sandy shock bahkan sampai selang infus Rika terlepas dari tangannya.
"Sayang," Sandy panik dan ingin menarik Rika bangun.
Rika menggeleng dan menolak ia memeluk kaki Sandy dengan rasa takut.
"Kamu kenapa?" Tanya Sandy bingung, tidak menyangka reaksi Rika begitu berlebihan.
Hingga semakin penasaran dan takut, sebenarnya beban berat seperti apa yang sedang di sembunyikan oleh Rika.
Hati Sandy benar-benar tidak karuan dan takut ternyata ada hal lebih parah yang di sembunyikan oleh Rika.
"Rika, bangun," pinta Sandy.
Rika menggeleng, menangis tersedu-sedu, memeluk kaki Sandy dengan perasaan takut.
"Sayang, kamu kenapa?" Sandy semakin takut karena Rika tidak bicara bahkan tidak mau bangun dari tempatnya.
"Mas, Rika minta maaf," lirih Rika semakin memeluk kaki Sandy.
"Sayang, sebenarnya ada apa? Coba jelaskan," Sandy butuh jawaban yang pasti, jika tidak bisa saja ia mati berdiri karena penasaran.
Rika masih menggeleng dan menangis tanpa berani berbicara, menjelaskan apa yang sebenarnya menjadi bebannya.
"Rika!"
"Mas, malam itu Rika ngaterin makanan di suruh Mama ke rumah sakit, tapi, Rika cemburu pas lihat Mas mangku Tiara waktu itu Tiara juga bilang kalau dia calon istri Mas, padahal dia adik sepupu Mas, Rika marah, kesal dan pergi ke club'malam sampai di sana Rika mabuk terus......" Rika mendongkak menatap reaksi Sandy saat mendengarkannya.
Wajah Sandy terlihat datar menantikan lanjutan darinya.
Rika diam dalam sesegukkan karena ketakutan, takut Sandy akan membencinya.
"Lalu?" Tanya Sandy.
"Rika," Rika menunduk dan tak tahu harus bicara apa, bagaimana jika ia hamil karena malam itu?
Sandy pasti shock berat sedangkan Sandy belum sekalipun menyentuhnya pikir Rika, lalu bagaimana jika Sandy meminta haknya dan tahu jika dirinya sudah tak perawan lagi.
"Maksud mu?"
"Rika udah tidur sama laki-laki entah siapa, pagi setelah Rika bangun nggak ada siapapun, cuman ada Rika dengan tubuh yang di tutup selimut, Mas," Rika semakin memeluk kaki Sandy, berharap Sandy tak marah padanya.
Sandy terdiam mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Rika, tapi bukankah malam itu Rika bersama dirinya.
"Kamu nggak ingat?" Tanya Sandy.
Rika menggeleng cepat dengan air mata yang terus bercucuran.
"Sama sekali?" Tanya Sandy lagi.
"Mas, Rika minta maaf," lirih Rika dengan terus menangis.
"Tidak apa-apa, tidak masalah juga," Sandy langsung mengangkat tubuh Rika, membaringkan kembali di atas brankar.
Memasang selang infus yang sempat terlepas, tanpa bicara hingga Rika terus diam tanpa berani bicara juga.
"Mas?" Panggil Rika dengan suara hampir menghilang.
"Apa sayang ku," Sandy mengecup pucuk kepala Rika, seakan rasa cintanya semakin besar.
"Mas, biasa aja?"
"Lho, memangnya Mas harus apa?" Goda Sandy sambil terkekeh geli, mengingat malam itu rasanya ia menginginkan lagi.
Baru saja mencobanya tapi harus libur berhari-hari, Sandy pun ingin menjalani malam pengantin seperti pasangan pada umumnya.
Penuh cinta dan mengurung diri bersama istrinya berhari-hari di dalam kamar.
"Mas, jawab! Mas nggak marah sama Rika!!!"
"Gimana mau marah, malam itu kamu tidur sama Mas, Mas yang merawanin kamu, marah dari mana?" Tanya Sandy santai.
Rika diam beberapa kali sempat mengusap wajah dengan tangan menantikan penjelasan Sandy sejelas-jelasnya.
"Malam itu, Dino membawa kamu pulang waktu kamu lagi teler, tapi karena Mas datang tepat waktu akhirnya Mas bawa kamu, awalnya Mas bingung mau bawa ke rumah takut Mama dan Kak Dimas marah, mau bawa ke rumah Mas, takut nanti Bunda mikir aneh-aneh, akhirnya keputusan tepat Mas bawa kamu ke hotel, paginya Mas beli baju buat kamu, dan pas Mas balik kamu nya nggak ada!"
Rika terperangah mendengar penjelasan Sandy, ternyata malam itu Sandy yang bersamanya, tidak di pungkiri ada rasa lega di hati Rika.
"Tapi, malam itu kamu yang goda Mas," goda Sandy.
Rika terdiam sambil berusaha mengingat, sayangnya tak ada yang bisa diingatnya.
"Kamu goda Mas, kamu yang mulai duluan, Mas normal, jadi," otak Sandy mulai flashback mengingat malam itu penuh senyum bahagia, "Mas ingat ada tahu lalat nya di-" Rika menatap Sandy dengan senyuman.
Wajah Rika berubah memerah, mengerti maksud Sandy.
"Ya ampun, kok tegang," gumam Sandy menggaruk kepalanya.
"Berarti malam itu Rika sama Mas?" Tanya Rika dengan jelas.
Sandy mengangguk.
"Enak banget rasanya buka-bukaan, sayang cepat sembuh ya, Mas pengen lagi nih."
"Mas!!!" Seru Rika kesal, tadinya ia menangis tersedu-sedu, tapi karena Sandy sekarang jadi mendadak malu.
"Serius yang, rasanya enak banget, pakek tangan aja, ya sekarang," Sandy naik ke atas brankar dan menarik Rika berbaring bersama nya.
"Mas, jangan gila ya!!!"
"Ini bukan gila, ini kebutuhan, ganjarannya pahala sayang, istri soleha nya Mas."
"Mas, apa sih!"
"Pegangin dong, Mas pengen beneran."
"Mas," Rika ingin sekali menangis tapi tidak bisa, karena kegilaan Sandy.