Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 110


"Hey kau sudah menabrak motor ku!"


"Aku akan bertanggung jawab, ayo ke penghulu!"


"Dasar gila!"


Setiap yang sudah di lalui semua terngiang-ngiang di kepala Rika, tidak ada yang terlewati.


"Mas di sini?" tanya Rika dengan bahagia.


"Suuuttt," Sandy meletakan jari telunjuknya pada bibir, kemudian ia melihat sekitarnya yang terlihat aman. Perlahan Sandy mulai menaiki jendela dan masuk.


"Mas," Rika langsung memeluk Sandy dengan eratnya, "Mas kita kawin lari aja ya," pinta Rika sambil terus memeluk Sandy.


Rika mengusap air sampai beberapa kali, bayangan kenangan tentang keduanya terus saja berputar membuat kepalanya serasa akan pecah.


Sudah dua kali Sandy menyelamatkan dirinya, dan untuk kali ini bahkan Sandy mempertaruhkan nyawanya.


Baru saja beberapa jam yang lalu keduanya berada di sebuah pasar malam, dengan konyol nya Sandy memintanya untuk menampar setan-setan gadungan di dalam rumah hantu.


Tetapi musibah tanpa di duga terjadi, bahkan begitu cepat tanpa di duga.


Duduk diam sambil meneteskan air mata di depan ruang operasi menunggu Sandy yang tengah berjuang di dalam sana, rasa bersalah tidak pernah bisa lepas dari benaknya.


Lala perlahan duduk di samping Rika, kali ini matanya melihat dengan jelas bertapa Rika sangat rapuh.


Perlahan menarik Rika pada pelukan, seiringan juga tangis Rika kembali pecah.


"Kalau dia tidak bernapas lagi itu karena aku La," kata Rika di iringi isak tangis yang tidak lagi bisa di tahan.


Mentari juga duduk di samping Lala, ia juga memeluk sahabatnya berusaha memberikan kekuatan.


"Andai dia tidak menyelamatkan aku, jika pun aku yang berada di dalam sana tidak akan pernah ada rasa sesal," kata Rika lagi.


Mengapa, mengapa, mengapa dan mengapa hanya itu yang ada di benaknya. Pertanyaan mengapa harus Sandy sampai kini belum ada jawaban nya.


"Aku juga merasa bersalah, biang masalah ini adalah aku," lirih Lala.


"Lala, kamu tidak boleh begitu," Mama Yeni mengerti pada keadaan Lala tetapi, tidak ada yang menginginkan suasana ini terjadi.


Bahkan Sandy sekalipun, ini hanya tentang keadaan.


"Kamu tidak boleh bicara seperti itu, semua akan baik-baik saja," jawab Mentari.


"Bunda," Rika langsung berdiri dan memeluk kaki Bunda Jihan, "maaf Bunda, ini karena Rika."


Bunda Jihan terus menangis tanpa henti, Sandy adalah harta yang paling berharga dalam hidupnya. Andai Sandy tidak terselamatkan maka Bunda Jihan sendiri tidak tahu lagi caranya tetap bertahan hidup.


"Semua sudah takdir, bangun lah," Bunda Jihan menarik Rika untuk berdiri dan memeluknya dengan erat.


Dua jam sudah dokter berjuang di ruang operasi, dengan Sandy yang terbaring di atas meja operasi.


Pintu terbuka seorang dokter keluar dari dalamnya, menatap wajah-wajah panik penuh air mata yang kini menatapnya.


Menunggu setiap kalimat yang akan di sampaikan dengan rasa was-was yang terdalam.


"Dokter Sandy baik-baik saja, pelurunya sudah berhasil kami keluarkan," jelas sang Dokter.


Semua menarik napas dengan lega, mendengar penjelasan dokter.


"Boleh saya masuk Dok?" Tanya Bunda Jihan.


"Silahkan, tetapi hanya Ibu saja dan Dokter Sandy mungkin besok pagi baru sadar, besok pagi barulah semua anggota keluarga boleh melihatnya," jelas Dokter Nirwan lagi.


Bunda Jihan perlahan masuk manik matanya menatap anak semata wayangnya terbaring lemah, tidak pernah terbayangkan jika ini akan terjadi.


Jika diharuskan memilih Jihan lebih memilih Sandy yang playboy, bergonta-ganti wanita dan berbuat sesukanya dari pada harus menyaksikan Sandy selemah ini.


***


Pagi harinya Sandy mulai mengerjapkan matanya, samar-samar mulai menangkap cahaya yang masuk ke dalam kamar rawat. Membuat pandangannya yang buram berangsur-angsur terlihat jelas.


Sampai akhirnya Sandy tersadar kini berada di sebuah ruangan, kepingan-kepingan ingatan saat-saat penyebab semua ini terjadi mulai tersusun rapi.


Hingga matanya menatap Bunda Jihan yang terus saja menitihkan air mata sambil menatap diri nya.


"Sandy," Bunda Jihan memanggil nama anaknya.


Anak yang ia lahirkan dari rahimnya, sekaligus alasannya tetap bertahan dalam rumah tangga yang kelam.


"Sandy baik-baik saja Bunda," kata Sandy dengan suara lemahnya.


Bunda Jihan tersenyum merasa lebih lega, Sandy menjawab pertanyaan nya dengan sangat baik.


"Syukurlah, Bunda takut sekali."


"Sandy tidak apa-apa."


Sandy beralih menatap satu persatu wajah-wajah yang menunggu dirinya, menatap dengan mengelilingi ranjang tidurnya.


"Kau gila!" Kata Dimas.


Sandy terkekeh melihat wajah Dimas yang datar, tetapi Sandy tahu di dalam hati sahabatnya itu ada rasa was-was yang tidak akan pernah keluar dari bibir nya.


"Tidak apa demi adik mu!" Ejek Sandy.


"Masih saja gila!" Geram Dimas lagi.


Sandy tidak menunjukkan wajah sedihnya, ia tersenyum agar tidak ada lagi yang terus hanyut dalam kepanikan.


Tetapi satu hal yang membuat Sandy sedikit murung, Rika tidak terlihat di antara yang lainnya.


Tidak ada wajah wanita yang ia puja hingga membuatnya sedikit kecewa.


"Dia di luar dan menolak untuk masuk!" Jelas Dimas yang mengerti.


"Kenapa?"


"Tidak tahu."


Sandy mengangguk mengerti tidak tahu mengapa Rika tidak ikut melihat dirinya, ada rasa sedih di hati Sandy.


"Tapi aku tidak tahu harus mengatakan apa selain kata terima kasih," tiba-tiba saja kata-kata itu keluar dari mulut Dimas.


Sandy tertawa kecil mendengar kata terima kasih dari mulut Dimas.


"Kau sedang sekarat saja masih bisa tersenyum, kau hampir mati bodoh!" Papar Dimas.


"Kan sudah aku katakan, demi adik mu tidak masalah," jawab Sandy lagi dengan tertawa kecil.


Dimas geleng-geleng kepala melihat Sandy, sampai di sini Dimas semakin mengakui bertapa Sandy sangat mencintai adiknya.


"Terserah kau saja!"


"Hehehe...."


"Jangan banyak tertawa, luka jahitan mu belum kering bodoh!"


Sekalipun nada bicara Dimas kasar tetapi di hatinya ada kepanikan yang begitu besar, semua terjadi karena menyelamatkan adiknya.


"Jangan terlalu perhatian pada ku, aku masih normal!" Celetuk Sandy.


"Sial!"


"Hehehe...."


"Sandy, maaf ya."


"Kenapa kau yang minta maaf?" Tanya Sandy bingung.


"Kalau bukan karena aku masalah ini tidak akan terjadi," jawab Lala.


"Ini musibah, jangan merasa bersalah, justru kita impas!" ujar Sandy.


"Impas?" Lala bingung.


"Kau sudah banyak menolongku juga, dengan menjinakkan Dimas."


"Ya ampun Sandy, aku tidak mengerti mengapa ada manusia aneh seperti diri mu. Kau itu hampir mati!" Kata Lala dengan sedikit emosi, di saat semua orang menghawatirkan nya malah yang Sandy terlihat santai.


"Kau pulang saja, kasihan kandungan mu," pinta Sandy.


"Ya, nanti kami kembali lagi," pamit Lala.


"Iya."


Sandy sebenarnya tidak baik-baik saja, sejujurnya selain melihat wajah Bunda Jihan setelah membuka mata Sandy juga ingin melihat wajah Rika, memastikan jika tidak ada yang terjadi pada wanita yang sangat di cintanya.