Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 140


Tiga hari sudah berlalu dan hari ini seorang dokter dari luar negeri di datangkan untuk mengobati Rika.


Rika mulai menjalani serangkaian pengobatan sesuai dengan kebutuhan nya, Sandy pun selalu setia menemani istrinya. Menemani sampai benar-benar sembuh kembali.


"Mas, Rika lemes banget," keluh Rika setelah selesai menjalani beberapa pengobatan.


"Sabar ya," Sandy mengusap kepala Rika dengan penuh cinta, berusaha untuk membuat istrinya terus bersemangat.


Rika berbaring di brankar tubuhnya tidak terasa, hingga ia sangat lelah sekali.


"Mas, bisa nggak kita pulang aja, Rika udah nggak betah di sini," pinta Rika lagi.


"Iya, setelah melakukan kemoterapi besok, kalau memungkinkan kita pulang dan kita harus sering-sering ke sini. Ya," pinta Sandy dengan senyuman agar Rika mengerti.


"Assalamualaikum," Mama Yeni masuk sambil membawa banyak makanan sebab, mereka akan makan bersama di rumah sakit.


Sudah lama sekali mereka tidak sehangat ini dan kali ini walaupun bukan di rumah tapi tidak ada salahnya untuk membuat Rika bahagia dan sangat baik untuk kesehatan nya.


"Gimana hari ini?" Tanya Lala ikut masuk setelah Mama Yeni.


"Baik, gimana ponakan Tante," Rika mengusap perut Lala yang sudah membuncit.


"Baik Tante," jawab Lala menirukan suara anak kecil.


"Kamu gemuk banget, 'ya, La," Rika menyadari perubahan tubuh Lala, "muka kamu sampai bengkak juga," Rika menarik pipi Lala.


"Sakit, Rika," keluh Lala lalu, menepis tangan Rika.


"Bumil sensi banget, sih!" Ejek Rika.


"Sakit banget, gimana nggak marah coba."


"Udah, sekarang kita makan ya," Mama Yeni cukup bahagia melihat anak-anaknya akur dan tertawa bahagia.


"Kaki kamu kenapa La?" Tanya Rika saat melihat kaki Lala.


"Kenapa?" Tanya Rika kembali.


"Ahahahhaha," tawa Rika pecah saat Lala berusaha menunduk untuk melihat kakinya tapi, karena besarnya perut tak dapat terlihat.


"Duduk," Dimas menarik Lala duduk di sofa.


"Nggak nampak, kemarin aja anak ayam hampir ke injak, gara-gara nggak bisa liat ke bawah," jelas Lala sambil cekikikan.


"Biasa memang begitu, setiap orang hamil itu beda-beda juga, Mama hamil Rika juga begitu, tapi, hamil Dimas biasa aja," Mama Yeni menimpali.


Rika melihat kearah Sandy yang berdiri di dekatnya, memikirkan bagaimana jika ia hamil karena, malam itu.


Tidak yakin Sandy bisa memaafkan dirinya, ada rasa takut yang tidak bisa di katakan oleh nya.


"Kamu kenapa?" Sandy tahu istrinya sedang berpikir hal lain, hingga mengundang tanya.


"Assalamualaikum," Dino datang masuk, menjenguk keadaan Rika.


"Waalaikumusalam, pas banget kamu datang ayo, kita makan bareng," ujar Mama Yeni dengan ramah.


Dino mengangguk kemudian, ia melihat kearah Sandy lelaki malam itu yang membawa pergi Rika.


"Maaf, Tante dia siapa ya?" Tanya Dino ingin memastikan.


"Sandy namanya, dia suaminya Rika," jelas Mama Yeni.


"Em," Dino mengangguk mengerti dan bernapas lega sebab, malam itu ternyata Rika memang di bawa oleh suaminya.


Artinya pria yang tidur dengan Rika malam itu juga suaminya jadi, ia tak lagi perlu terbebani apalagi merasa bersalah sebab, Sandy memang pemiliknya.


"Rika aku Tiara, kita kenalan udah kan? Tapi aku bukan pacar Sandy, lho," ujar Tiara yang dari tadi hanya diam.


"Brisik!" Sandy menarik hidung Rika hingga membuat yang lainnya tertawa.


"Udah Bu, Tiara sama Dino aja," goda Dino.


Tiara ingin muntah saat bocah ingusan itu menggoda dirinya, bulu saja mungkin belum tumbuh sempurna sudah menggoda gadis dewasa.


"Ahahahhaha," tawa keluarga benar-benar pecah melihat wajah Tiara.


"Hey saya dosen kamu!" Tiara memperingati Dino, "semuanya, aku keluar dulunya, kesal banget liat bocah ini!" Tiara langsung keluar tak kuasa melihat yang lainnya menertawakan dirinya.


"Ayo makan ayo," Mama Yeni mulai menata makan di meja, semua duduk dengan manis di sofa.


Kini mereka memang berada di rumah sakit, tapi tidak tampak seperti ruang rawat.


Ruangan itu memang di khususkan untuk pemilik Rumah sakit, sehingga mau sebanyak apapun keluarga semuanya mampu di tampung melihat ruangan yang sangat luas, di tambah lagi ada beberapa ranjang untuk keluarga yang ingin menginap menjaga pasien.


"Mas, Rika makannya sayur begini mulu, kapan Rika bisa makan enak lagi," keluh Rika menatap piring nya yang di pegang Sandy.


Hanya ada ikan goreng dengan sayuran membuat nafsu makannya hilang, di saat nafsu makan sudah berkurang.


"Sabar, ya, makanya kamu harus semangat, biar bisa makan apa yang kamu mau lagi," Sandy mulai mengangkat sendok, Rika pun membuka mulutnya dengan malas.


"Ya ampun Lala," Mentari baru saja masuk bersama Arka tetapi, langsung melihat Lala makan seperti orang tidak waras.


"Baru datang itu salam kek," ketus Lala.


"Itu, kamu yang makan apa siapa?"


Piring milik Lala berisi nasi, lauk dengan ayam goreng, ikan goreng, telur dadar, sayur, mie, nasi hingga menggunung.


"Hehe, laper," kata Lala merasa malu, saat semua menatap dirinya.


"Sudah, sudah, Tari ayo makan," Mama Yeni ikut mempersilahkan Mentari dan Arka.


"Iya Ma," Mentari langsung duduk bergabung bersama yang lainnya.


"Sini Aa, suapin," Dimas mengambil piring di tangan Lala.


"Malu tau Aa," Lala mengambil piring miliknya kembali, rasanya tak sopan bila menunjukkan kemesraan di hadapan orang yang lebih tua.


"Rika aja biasa aja," Dimas menunjuk Rika yang sedang di suapi Sandy.


"Dia beda cerita, namanya orang sakit!"


"Ya udah," Dimas mengembalikan piring milik Lala.


"Mas nggak makan?" Tanya Rika sebab, Sandy hanya menyuapi dirinya saja.


Sandy mendekati telinga Rika dan berbisik, "Makan, cuman pinginnya makan kamu," Sandy menjauh dan menggoda Rika dengan menggerakkan alisnya.


Setelah beberapa malam terlewatkan Sandy masih mengingat malam panas itu, ingin sekali menginginkannya lagi tetapi, tidak saat ini.


Rika meneguk saliva dengan pahit, rasa bersalah di hatinya datang lagi. Takut Sandy tahu jika dirinya sudah tak lagi perawatan karena, lelaki yang tak di ketahui nya malam gila itu.


Sandy begitu setia pada dirinya, menerima dalam keadaan apapun lantas apa yang bisa di berikan pada Sandy.


"Sayang, kamu kenapa, sih," Sandy sadar setiap kali berbicara menyangkut ranjang wajah istrinya langsung berubah, "kamu masih menyimpan rahasia dari Mas?" Tanya Sandy penuh intimidasi.


Rika terdiam sambil menatap wajah Sandy dengan takut.


"Mas nggak mau ada rahasia lagi, setelah kita berdua saja. kamu harus bicara!" Sandy menekankan tak ingin istrinya merasa terbeban seperti saat ini.


"Nggak ada, Rika baik-baik saja," elak Rika.


"Suami mu ini tidak bodoh!" Ujar Sandy lagi, ia seorang psikiater apa mungkin istrinya berpikir mudah mengelabui dirinya.