
Hay teman-teman, rajin-rajin like dan Vote ya, karena Minggu depan Author bakalan bagi-bagi pulsa.
***
"Dokter Sandy, bisa kita bicara sebentar," pinta Dokter Miranda.
Sandy mengangguk kemudian memindahkan kepala Rika yang menjadikan tangannya sebagai bantal, pada bantal.
Kemudian Sandy meninggalkan Rika untuk sebentar karena Dokter Miranda ingin berbicara hal penting padanya.
"Kita, bicara di ruangan anda saja," pinta Dokter Miranda.
Sandy lagi-lagi mengangguk dan membawa Dokter Miranda menuju ruangannya.
Keduanya duduk dengan saling berhadapan, wajah Dokter Miranda cukup serius menatap Sandy.
"Ada seseorang yang bersedia mendonorkan sumsum tulang belakang, tapi dengan syarat ini menjadi rahasia," kata Dokter Miranda.
"Seseorang?" Terdengar mengejutkan, "tapi saya penasaran siapa orang tersebut," tanya Sandy.
Dokter Miranda sudah melihat siapa orang itu, akan tetapi dia sudah berjanji untuk merahasiakan ini.
"Menurut saya, sebaiknya segera kita lakukan operasi ini, agar pasien bisa tertolong," usul Dokter Miranda.
"Saya, ingin tau siapa orang itu?" Sandy menatap Dokter Miranda dengan serius.
"Ini rahasia Dok. Dan anda tahu sumpah yang kita sebagai seorang dokter."
Sandy mengangguk mengerti, kemudian ia segera menyetujui.
"Kita lakukan dulu, kemoterapi lanjut laser, sambil menunggu hasil kecocokan pasien dan pendonor, bila semuanya sudah cocok maka kita akan segera melakukan tindakan operasi donor."
"Saya, serahkan pada Dokter."
"Iya, mengingat Dokter Marcell juga belum kembali keluar negeri, menimbang kemampuannya sudah tidak lagi di ragukan."
***
Keesokan harinya Rika mulai menjalani kemoterapi, tubuhnya terasa lebih segar dari pada beberapa hari ini.
"Mas, kita pulang ya, Rika usah sembuh," pinta Rika dengan bahagia.
Sandy tahu itu hanya pengaruh obat, hari ini mungkin merasa tubuh segar tetapi setelah efek samping obat yang di rasakan Rika datang mungkin semua akan berubah seketika.
"Mas," Rika menggerakkan tangan Sandy.
Berharap hari ini akan di bawa pulang. Rasanya sudah jenuh terus berada di lingkungan rumah sakit beberapa hari ini.
"Mas, udah janji, masa mau ingkar."
"Iya, iya, kita pulang ke rumah Mama aja," Sandy merasa pilihan terbaik saat ini mereka tinggal di kediaman keluarga besar Rika, di sana ada Lala, Mama Yeni, dan juga Mentari yang bersedia menginap.
Mereka semua bisa menghibur Rika, melupakan rasa sakit yang tengah di derita.
"Rika, ikut aja, tapi, kalau di rumah Mama juga boleh bentar lagi Lala kan mau lahiran," Rika menutup mata membayangkan wajah lucu bayi Lala yang akan menjadikan dirinya sebagai Tante, rumah akan semakin ramai tentunya.
Satu jam Rika masih segar, dua jam pun masih baik-baik saja. Saat empat jam berikutnya tubuhnya mulai merasa lelah dan muntah-muntah.
Efek obat mulai terasa hingga membuat wajahnya memucat.
"Mas, kok Rika mual banget," tanya Rika dengan tubuh menggigil.
"Itu efek kemoterapi, mungkin beberapa hari kedepannya juga," jelas Sandy.
"Mas, dingin banget."
Sandy memeluk Rika dengan erat, menghangatkan tubuh istrinya yang kini berbaring di atas ranjang dengan menggigil.
Setelah Rika tertidur pulas, Sandy perlahan turun dari ranjang mendengar suara ketukan pintu.
Tok tok tok.
Segera Sandy membukanya.
"Gimana dengan Rika," Mama Yeni membawakan makan siang untuk Sandy.
Tahu Sandy belum makan sebab, sejak kembalinya dari rumah sakit terus mengurus Rika, hingga kini tertidur pulas.
"Asal tidak hamil!" Timpal Dimas tiba-tiba sudah berdiri di belakang tubuh Mama Yeni.
"Dimas, mau hamil juga tidak masalah, adik mu sudah menikah," tegur Mama Yeni.
Dimas mengangkat kedua bahunya, sebenarnya hanya berusaha menjadi Kakak yang dingin pada adik iparnya sekaligus sahabat nya itu.
"Kamu makan dulu, ini Mama bawa makanan."
"Sandy bisa makan di meja makan Ma."
"Lain waktu saja, Mama sudah bawa makanan juga," Mama Yeni masuk meletakan napan ditangannya, kemudian melihat Rika sejenak, "wajahnya pucat sekali."
"Iya, Ma," Sandy membenarkan.
"Ya udah Mama keluar dulu," Mama Yeni segera keluar agar Sandy segera makan.
Dimas masih terdiam berdiri di samping pintu, menatap adiknya yang tertidur lelap dengan selimut tebal.
"Apa jangan-jangan kau barusan melakukan itu?" Tanya Dimas penuh intimidasi.
"Duduk sini, brisik!" Sandy menunjuk sofa sambil tangannya mulai menyuapi nasi pada mulutnya.
Dimas segera duduk dan menatap adik ipar gilanya, aneh sekali rasanya sahabat menjadi adik ipar.
"Aku tidak bodoh, aku akan menunggu sampai di sembuh, atau minimal membaik." Dalam hati sudah tidak tahan semenjak berpacaran ingin memadu kasih bersama Rika, tapi sayang semua masih harus di tahan mengingatkan keadaan Rika masih lemah.
"Bagus kalau kau sadar!" Jawab Dimas sinis.
Sebenarnya Dimas tidak perduli, bagaimana pun keduanya sudah suami istri. Masalah ranjang itu urusan keduanya, hanya saja ia semakin yakin Sandy sangat mencintai adiknya.
"Rika mendapatkan donor sumsum tulang belakang."
Dimas menatap Sandy dengan serius.
"Ada seseorang yang bersedia menjadi pendonor, hanya saja ini menjadi rahasia dan tidak ingin di ungkapkan identitasnya."
Dimas merasa bersyukur adiknya bisa tertolong, walaupun begitu ia juga ingin tahu siapa orang tersebut.
"Bagaimana cara kita berterima kasih, jika dia tidak memberitahu identitas nya?"
"Aku juga berpikir hal sama," Sandy terus menyuap nasi ke mulutnya, sejak pagi tadi belum ada satu biji nasi pun yang masuk ke dalam perut nya.
Mungkin jika saat ini pun mertuanya tidak membawa makanan tidak akan makan satu hari penuh sebab, begitu sibuk mengurus Rika.
"Tapi kemarin aku melihat seorang wanita diam-diam mengintip dari balik pintu kaca di rumah sakit, dia melihat Rika," Sandy ingin sekali mengatakan itu sejak kemarin hari tetapi sulit karena fokusnya masih pada Rika.
"Wanita?"
"Iya, dan mungkin aku bisa mencari tahu."
Sandy mengambil ponselnya meminta pihak rumah sakit mengirim rekaman cctv kemarin hari tepat di ruang rawat kamar Rika.
Menunggu selama 30 menit, ponsel Sandy kembali berdering sebuah rekaman cctv di kirimkan.
"Ini rekamannya," dengan cepat Sandy membukanya.
Dimas pun ikut penasaran hingga berpindah duduk di samping Sandy menyaksikan setiap wajah-wajah yang berlalu lalang, serta bertugas.
"Ini dia," Sandy menunjuk wanita tersebut.
Posisinya berdiri di depan pintu kamar Rika, menatap diam-diam ke dalam lalu ia pergi begitu saja mungkin karena Sandy tanpa sengaja memergokinya tanpa sengaja.
"Kamu mengenal nya?" Dimas memperhatikan dengan fokus, hingga Sandy ingin tahu melihat reaksi wajah Dimas cukup berlebihan.
"Dia," Dimas mengangguk dan tau siapa wanita itu.
"Dia siapa? Apa bagian anggota keluarga mungkin?" Sandy semakin penasaran.
"Ini, tidak mungkin. Kita harus menyelidiki ini."
"Dimas dia siapa?"
"Dia istri muda Papa," terang Dimas dengan suara pelan agar Rika tidak sampai mendengar.
"Apa?" Sandy sampai kaget.