
"Aku tidak akan pernah bisa menerima penghinaan ini, dan ini harus di selesaikan di meja hijau!" kata Dimitri pada Sandoro, sebab Dimitri merasa semua perusahaan milik Atmaja Bagaskara sudah menjadi miliknya. Dimitri benar-benar pusing, ia memijat kepalanya yang terasa pusing, dengan duduk di kursi kebesaran nya sambil merasa resah.
"Bos bukankah tujuan anda sudah sampai?" tanya Sandoro, sebab Atmaja pun sudah tiada. Dan sekarang anak Atmaja juga sudah menderita.
Dimitri seketika menatap Sandoro, "Apa maksud mu."
"Atmaja sudah tiada, putrinya sudah tidak waras," jelas Sandoro, sebab itulah yang memang tujuan awal Dimitri. Dan Sandoro bingung, mengapa Dimitri malah masih merasa beban.
Dimitri meremas rambutnya, apa yang di katakan oleh Sandoro memang benar. Tapi entah mengapa ia menyesal sudah menyakiti Lala, "Tapi aku menginginkan nya, aku tidak ingin dia pergi," jawab Dimitri.
Sandoro tampaknya mengerti, kini Dimitri seakan terjebak dalam permainan yang ia buat sendiri, "Tapi ini melenceng dari tujuan Bos, tujuan bos hanya menghancurkan Atmaja dengan sangat hancurnya."
"Diam!" geram Dimitri, ia tidak suka pada Sandoro yang malah menasehati dirinya, "Aku tidak mau kehilangan istri ku, apa lagi yang merebutnya adalah anak bau kencur itu!"
Sandoro mengangguk dan ia tidak ingin mendapatkan amukan dari Dimitri, lagi pula di sini Dimitri yang mengatur dirinya.
"Malam ini kita harus menculik istri ku, aku tidak mau tahu! Cepat siapkan orang-orang mu, malam ini Lala harus kembali ke rumah dan aku tidak ingin kehilangan dia lagi!" titah Dimitri yang tidak ingin di bantah.
Sandoro mengangguk dan ia segera pergi meninggalkan Dimitri yang tengah duduk di ruang kerjanya, ia harus segera mengumpulkan para anak buah nya dan segera menuju kediaman Dimas sepertinya perintah Dimitri.
Pukul 10:30 malam Dimas merasa ada yang tidak beres, sebab ia mendengar seperti ada langkah kaki yang berjalan di luar. Dimas membuka kaca jendela nya, namun ia tidak melihat siapa-siapa. Tapi lagi-lagi ia merasa ada yang aneh, sebab Satpam tidak mengangkat panggilan telepon nya.
"Ada yang tidak beres," gumam Dimas dan ia mulai membuka laptop dan mulai membuka rekaman cctv, di sana terlihat beberapa orang masuk dan beberapa cctv di tutup. Hanya beberapa kamera yang tersembunyi yang menunjukkan rekaman nya.
Dimas dengan cepat menunjuk kamar Lala yang saling bersebelahan dengan kamar nya, ia melihat ada seorang pria yang tengah berusaha untuk menutup mulut Lala dengan kain. Sedangkan tangan nya sudah diikat.
Buk!
Dimas langsung menendang pria yang memakai topeng itu, hingga tersungkur di lantai. Kemudian pertarungan pun terjadi, sebab tidak bisa lagi untuk di hindari.
Buk!
Buk!
Krang!!!
Suara kaca pada meja hias pecah dan banyak beling yang mulai berhamburan di sekitar nya. Karena Dimas menendang lawan nya yang jatuh tepat di atasnya. Setelah itu Dimas langsung melemparkan pria itu dari jendela kamar yang terletak di lantai dua.
Buk!
Pria itu terjatuh dan ada beberapa cairan merah yang keluar dari beberapa bagian tubuhnya.
Kemudian Dimas melihat Lala yang menangis ketakutan, tubuhnya yang terikat perlahan di lepaskan oleh Dimas. Setelah itu Lala mencoba untuk melarikan diri, namun dengan cepat Dimas menahannya.
"Suster bangun," Dimas berteriak karena sang suster sudah dari tadi terkapar di lantai, mungkin pria bertopeng itu sudah memukulnya terlebih dahulu hingga suster tersebut jatuh pingsan.
"Dimas ada apa ini?" Yeni yang mendengar keributan segera menuju kamar Lala, dan ia melihat Lala yang menangis ketakutan. Dan Suster yang tidak sadarkan diri berada di lantai.
"Ya ampun," Rika juga ikut masuk dan ia dengan segera membangunkan suster tersebut, "Suster bangun," Rika menggerak-gerakkan tubuh sang suster.
"Bu," Suster tersebut langsung bangun dan ia sangat ketakutan, "Bu Yeni, tadi ada orang jahat," kata suster tersebut mengadu pada Yeni.
"Orang jahat," Yeni sangat panik dan takut, sebab ini adalah pertama kalinya terjadi.
"Suster tolong buat dia tenang," pinta Dimas, sebab Lala ingin melepaskan diri lalu pergi. Lala sangat takut dengan apa yang barusan terjadi.
"Siapa yang tega melakukan ini Dimas?" tanya Yeni panik.
Kini Lala sudah di pindahkan ke kamar Rika, karena kamar Lala sedang berantakan. Sebenarnya Lala bisa saja di pindahkan ke kamar tamu lainnya. Tapi Rika tidak mau karena ia mau tidur dengan Lala, sekaligus ia ingin menjaga Lala. Hingga akhirnya Rika, Lala dan suster tidur dalam kamar yang sama. Lagi pula sore tadi selang infus nya susah di ambil, dan Lala hanya dalam proses pemulihan karena overdosis obat.
Dimas kini berada di ruang kerjanya, matanya terus menatap layar laptop untuk melihat rekaman cctv. Sedangan tangannya bergerak memegang ponsel, dan sedetik kemudian ia mulai menghubungi seseorang.
"Cepat kemari, dan bawa para bodyguard. Rumah ku sedang di kepung oleh Dimitri," kata Dimas.
Setelah mengatakan itu panggilan terputus, tidak lama berselang terdengar suara tembakan. Dan perkelahian, Dimas tahu tanpaknya Arka dan juga para bodyguard nya sudah tiba dan kini tengah terjadi perkelahian. Dimas tidak mau hanya diam, ia juga turun melalui jendela kamar. Dan ikut bertarung dengan yang lainnya. Di tengah pertarungan.
Prok prok prok.
Dimitri bertepuk tangan dan semua seketika tidak lagi melanjutkan pertarungan mereka yang cukup sengit itu.
"Kenapa anda ikut campur tuan Arkana Anggara Wijaya?!" tanya Dimitri tersenyum miring, "Dan anda tuan Radit Mahesa Wijaya, tempat anda di rumah sakit bukan di sini. Anda itu hanya untuk ibu-ibu hamil saja! Ini itu tempatnya mafia!" ejek Dimitri lagi.
"Yatttttt....."
Buk!!
Radit langsung menendang Dimitri tanpa basa-basi, sebab ia sangat kesal pada Dimitri yang begitu lancang berbicara.
"Kasihan sekali nasib mu Dimitri, sangking tidak bisanya mendapatkan wanita. Lala anak yang bau kencurpun kau paksa menjadi istri mu. Sungguh lelaki tidak punya harga diri, kau tidak sadar usia mu berapa! Kau itu sudah bau tanah, waktunya taubat! Lagi pula seperti nya kau lahir di dukun beranak, maka dari itu kau menghina dokter seperti aku!' kata Radit dengan angkuhnya.
"Kurang ajar! Kau berani menghina aku!" Dimitri mengepalkan tangannya, dan ia tengah menahan amara yang sangat membuncah, "Lala itu istri ku, lalu kenapa kalian menyembunyikan istri ku?!"
"Karena kau suami yang bajingan, kau tega menyiksa wanita yang kau sebut istri. Apakah pantas suami menyiksa istrinya sendiri sampai dia gila, dan ketakutan seperti sekarang?!" tanya Dimas yang perlahan keluar dan mendekati Dimitri.
"Apa maksud kata-kata mu?!" tanya Dimitri yang belum mengerti.
"Wanita yang kau sebut istri, yang sering kau siksa itu sekarang sedang dalam pengaruh obat bius. Dia ketakutan saat mendengar suara peluru yang kau lepaskan, dia bahkan sangat takut saat mendengar nama mu saja! Dia sekarang gila!" jelas Dimas lagi.
"Aku tidak percaya, kembalikan dia pada ku! Dia istri ku."
Buk!
Dimas langsung menendang Dimitri, dan pertarungan pun kembali terjadi. Tidak ada yang ingin kalah mereka semua mulai mengeluarkan alat yang mereka bawa.
Door!!
Sebuah timah panas hampir mengenai Radit, namun dengan cepat Arka menendang Radit hingga tersungkur di tanah.
"Sial!" geram Radit pada Arka.
"Itu lebih baik!" kata Arka tersenyum dan kembali bertarung dengan Dimitri.
"Aduh pinggang ku!" Radit menggosok pinggangnya, namun tiba-tiba seorang bodyguard menyerangnya dengan mendadak. Radit langsung siap dan kembali melawan.
Buuk!
Radit menendang pria itu dengan cukup kuat hingga lawannya benar-benar tersungkur di tanah.
"Aduh," Radit kembali mengelus pinggang nya, sebab selain barusan di tendang Arka demi menyelamatkan Radit dari timah panas, sebelumnya Radit juga baru saja jatuh dari tangga.