
Lala kini mendudukkan tubuhnya, ia terbangun di siang hari. Sebab obat bius yang mempengaruhi dirinya, perlahan Lala mulai mencoba untuk duduk. Walaupun masih cukup sulit namun ia tidak ingin putus asa, matanya mulai melihat jam yang terpasang di dinding. Jam menunjukkan pukul 09:00 sudah cukup siang bila untuk bangun pagi, Lala sebenarnya masih bingung dimana kini ia berada. Ia benar-benar tidak sadarkan diri saat di bawa ke rumah besar itu, di tambah lagi ia mengingat semalam ada Mentari dan Rika. Tapi kini mereka sudah tidak ada di sana.
"Anda sudah bangun ternyata," ujar seorang suster yang perlahan melangkah masuk, dan ia melihat Lala.
"Kamu siapa?" tanya Lala.
"Saya suster dari rumah sakit, di tugaskan untuk mengontrol anda di sini. Nanti dokter Vera yang akan memeriksa keadaan anda," jelas suster tersebut.
Lala mengangguk, ia masih menatap sekitar nya. Ruangan itu tidak seperti rumah sakit, tapi sepertinya itu adalah sebuah kamar pribadi.
Clek.
Pintu kembali terbuka, ada seorang wanita dengan rambut panjang dan kulit putih dengan hidung mancung yang kini masuk ke kamar yang di tempati oleh Lala.
"Pagi Ayang aku," sapa Rika.
Rika berjalan cepat dan memeluk Lala dengan erat, Rika begitu bahagia karena bisa tinggal serumah dengan Lala.
"Rika aku di mana sih?" Lala melihat kembali sekitar nya, "Ini kayaknya bukan rumah sakit," ujar Lala bingung.
Rika tersenyum tulus, ia menatap sahabatnya dengan penuh rasa iba, "Kamu sekarang ada di rumah aku, terus kamu bakalan tinggal sama aku di sini," jawab Rika dengan senyuman.
"Rumah kamu?" Lala tampak nya masih begitu terkejut, karena ternyata kini ia tinggal bersama dengan Rika. Di rumah Rika artinya rumah Dinas juga, dan ada rasa tidak enak jika harus menyusahkan Rika dan Dimas.
"Selamat pagi Lala," sapa Yeni.
Rika dan Lala langsung melihat Yeni yang melangkah masuk, bahkan tangannya membawa nampan dengan bubur.
"Lala kamu sudah bangun ya?" sapa Yeni sambil meletakkan tampan pada meja.
Lala mengangguk, ia tidak tahu harus bagaimana. Tapi Rika dan Yeni terlihat begitu baik padanya.
"Maaf ya Tante, Lala nyusahin Tante. Tapi Lala enggak akan lama nyusahin Tante, sekarang juga Lala udah baikan kok Tan, udah bisa jalan juga. Jadi udah bisa pergi," kata Lala.
Lala kini benar-benar tidak ingin Langi menyusahkan banyak orang, kini ia hanya ingin hidup mandiri tanpa membebankan orang lain. Apa lagi mengingat ia dan keluarga Rika sama sekali tidak ada ikatan saudara, tentu saja Lala semakin merasa malu bila menumpang di sana. Hingga ia ingin pergi saat ini juga.
Yeni tersenyum, ia melihat Lala yang tertunduk. Perasaan Yeni benar-benar tidak karuan melihat wajah pucat Lala. Ia bahkan sangat takut bila Rika berada di posisi Lala saat ini, tentu saja itu sangatlah menyedihkan sekali.
"Kamu enggak boleh bicara begitu ya," tangan Yeni bergerak, dan ia menyisir rambut Lala yang berantakan, "Bahkan Tante udah sayang sama kamu, kamu sama Rika, sama Tari udah sahabatan lama banget. Kamu udah kenal Tante lama, jauh sebelum Dimas membawa kamu ke rumah Tante," kata Yeni mengingatkan Lala akan hari-hari di mana Lala sering datang bersama dengan Lala ke rumah itu, "Kamu tinggal di sini sana Tante, sama Rika juga. Tante enggak akan ijinkan kamu pergi," tambah Yeni sambil mengangkat dagu Lala.
Perlahan wajah Lala terangkat, ia menatap wajah Yeni. Begitu juga dengan Yeni yang menatap manik mata Lala yang berkaca-kaca. Dan sedetik kemudian air mata Lala jatuh begitu saja, dengan perlahan jari-jari Yeni mengusap air mata Lala dengan begitu lembut. Lala menutup matanya sejenak, dan merasakan sedikit kasih sayang yang di berikan oleh Yeni padanya. Kasih sayang seorang ibu adalah hal yang sangat di rindukan oleh Lala, sebab kasih sayang yang di berikan oleh Sarika ibu sambungnya semuanya hanya sebuah kepalsuan saja.
Lala terharu dengan apa yang di katakan oleh Yeni, ia tidak menyangka ternyata Yeni begitu berhati emas. Bahkan mau menampungnya yang hanya orang asing.
"Makasih ya Tante.....udah baik banget sama Lala," lagi-lagi Lala mengusap air mata yang jatuh di sudut pipinya, "Tapi Lala pengen mandiri aja, Lala udah besar. Harus bisa jaga diri, lagian Lala juga udah banyak banget lakuin hal yang sulit. Jadi Lala udah bisa hidup mandiri," kata Lala lagi.
"Kamu tidak boleh pergi, begini saja," Yeni menjeda ucapannya karena Lala terus saja menangis, "Kamu boleh pergi kalau nanti Ayah kamu sudah sembuh dan sudah bisa kembali ke Indonesia, dan Tante enggak mau kamu beralasan lagi, jangan buat Tante memohon ke kamu. Tante sayang sama kamu, jadi tolong dengarkan kata-kata Tante," pinta Yeni penuh harap.
Bagaimana bisa Yeni membiarkan Lala pergi dari rumah nya, itu sama saja ia mengembalikan Lala pada Dimitri. Suami yang hanya bisa menyiksa istrinya sendiri, entah pantas Dimitri di sebut sebagai suami. Sebab tidak akan ada suami yang tega menyiksa istrinya sendiri.
"Makasih ya Tante," ucap Lala terbaru.
"Iya," Yeni tersenyum, "Sekarang kamu cuci muka, gosok gigi, terus sarapan. Abis itu minum obat dan istirahat biar cepat sembuh," Yeni membantu Lala untuk turun dari ranjang, sedangkan Rika memegang selang infus.
"Kamu kenapa La?" tanya Rika karena Lala terlihat sulit berdiri.
"Aku enggak papa kok," Lala tahu kakinya cukup letih, dan sedikit sakit. Tapi Lala merasa sudah terbiasa karena biasanya juga belum sembuh luka yang lama sudah datang lagi luka yang baru. Sampai akhirnya Lala masuk kedalam kamar mandi, "Aku sendiri aja ya," Lala mengambil infus yang di pegang oleh Rika.
"Kamu yakin La?" tanya Rika yang ragu.
"Iya, aku enggak papa. Lagian aku mau buang air, aku malu kalau kamu juga ikut masuk," ucap Lala memberikan alasan yang memang cukup wajar.
"Iya juga sih," Rika mengangguk dan membenarkan apa yang di katakan oleh Lala, "Tapi kamu hati-hati, aku tunggu di sini ya," Rika tersenyum.
Lala mengangguk dan ia mulai menutup pintu kamar mandi.
"Enggak usah di kunci, nanti kalau ada apa-apa aku bisa langsung masuk," kata Rika memberikan peringatan.
"Iya," Lala mengangguk dan mulai mencuci wajahnya dan menjalankan rutinitas kamar mandi seperti setiap paginya, saat Lala sudah selesai ia ingin keluar. Namun lututnya terasa lemah, dan ia sangat takut jatuh pingsan. Hingga dengan perlahan ia duduk di lantai, mungkin dengan begitu ia bisa lebih baik. Setelah itu ia baru bangun dan keluar dari kamar mandi.
Tok tok tok.
Rika yang menunggu di depan pintu kamar mandi mulai merasa risih, sebab Lala sudah cukup lama di dalam sana.
"Rika, Lala udah makan?" tanya Yeni.
Beberapa saat lalu Yeni keluar dari kamar Rika, dan kini ia kembali lagi. Namun matanya belum melihat Lala, hingga ia bertanya.
"Belum Ma, Lala masih di kamar mandi," Rika kembali mengetuk pintu.