Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Cinta pertama tidak seindah bayangan ku


Sebuah mobil Hammer mulai terparkir di sebuah rumah mewah dan juga cukup megah, seorang wanita dan seorang pria turun dari dalamnya.


"Mas ini rumah siapa?" Rika melihat ke depan dengan rasa bingung, ia juga tidak pernah ke sana.


Sandy memutar lehernya ke kiri, ia melihat Rika dengan penuh kekaguman. Wajah Rika yang cantik dan anggun membuatnya selalu terbayang-bayang hingga ia sudah jatuh begitu dalam pada pesona wanita yang masih berusia 20 tahun itu.


"Mas," Rika menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Sandy, "Mas Rika lagi ngomong!" kata Rika lagi.


Sandy terkekeh menyadari kebodohannya, "Calon istri Mas cantik sekali," bisik Sandy di telinga Rika.


Wajah Rika seketika seperti kepiting rebus, memerah dengan rasa malu yang membuatnya diam membisu.


Sandy mendekat pada Rika, dan merangkul pundaknya, "Ini rumah Mas," jawab Sandy dengan tersenyum lembut.


Rika mengangguk, "Terus kita ngapain ke sini?" tanya Rika yang masih belum mengerti. Matanya terus menatap sekeliling, dan ia melihat ada banyak pohon stobery di sana, "Mas?" Rika menunjuk pohon tersebut dengan penuh tanya.


"Itu tanaman Bunda, Bunda akan melakukan apapun asalkan dia merasa tidak jenuh saat di rumah," jelas Sandy lagi.


Rika mengguk-mangguk ia berpikiran jika Bunda Jihan adalah wanita yang sangat rajin, bahkan sampai membuat kebun stroberi di rumahnya.


"Mas mau kenalin kamu ke Bunda."


Rika mengangguk mengerti. Namun, ia juga masih bingung. Perasaan nya saat ini sangat tidak karuan, Sandy akan mengenalkan nya pada calon mertua dan ini baru pertama kali di rasakan oleh Rika.


"Masuk yuk," Sandy langsung melangkah masuk begitu juga dengan Rika yang berdiri di samping nya, "Assalamualaikum."


Bunda Jihan sedang duduk di sofa, ia sedang menyulam sebuah sapu tangan yang menurutnya adalah hal yang sangat menyenangkan. Namun, ia langsung melihat ke arah pintu saat mendengar suara putra kesayangannya.


"Waalaikumusalam," jawab Bunda Jihan.


Namun, Bunda Jihan melihat kali ini Sandy membawa wanita lagi, tapi wanita yang kali ini lagi-lagi berbeda. Bunda Jihan berharap tidak akan ada masalah lagi, "Wanita dari mana lagi yang anak itu bawa," Bunda Jihan mendesus, dan ia terlihat tidak perduli.


Karena Bunda Jihan tidak ingin pusing untuk yang kesekian kalinya, akhirnya Bunda Jihan memilih untuk melanjutkan kegiatannya. Biasanya setiap teman wanita yang di bawa Sandy tidak perduli pada nya, bahkan tanpa di ajak bicara sekalipun wanita itu akan langsung masuk dan menganggap rumah sendiri tanpa rasa malu.


Rika melepaskan tangan Sandy yang merangkul pundaknya, dan perasaan Rika berubah tidak enak saat melihat raut wajah Ibu Jihan yang menatapnya tidak suka.


"Mas, Rika pulang saja," pamit Rika.


Sandy cepat-cepat memegang lengan Rika, ia tahu saat ini Rika merasa kecewa pada Bunda Jihan yang terlihat tidak perduli akan kedatangan Rika. Sedangkan Sandy juga tidak bisa menyalahkan Bundanya, karena mungkin Bundanya yang sudah lelah melihat dirinya yang terus membawa wanita dengan bergonta-ganti setiap harinya.


"Bunda," Sandy menarik Rika untuk berjalan mendekati Bunda Jihan, kali ini Sandy sudah yakin dengan pilihannya dan tidak lagi main-main seperti sebelumnya. Mungkin ia memang harus meyakinkan sang Bunda tentang dirinya yang sudah tidak ingin bermain wanita setelah mengenal Rika.


Sandy melihat pada Rika, "Kamu duduk dulu ya," pinta Sandy.


"Mas, Rika enggak papa kok, Rika pulang aja ya," pinta Rika lagi.


"Bunda," Sandy duduk di samping Bunda Jihan, ia mengambil sapu tangan dan juga jarum yang di pegang Bunda Jihan dan meletakkannya di atas meja. Karena Sandy benar-benar ingin mengenalkan Rika pada Bundanya.


"Bunda sedang sibuk, apa kau tidak melihatnya?" tanya Bunda Jihan dengan pandangan mata yang tajam. Tangannya kembali bergerak dan mencoba mengambil pekerjaan tangannya yang barusan di letakan Sandy pada meja.


"Bunda," Sandy menjauhkan pekerjaan tangan Bunda Jihan, dengan pandangan yang memohon.


Rika duduk sambil meremas tangannya, perasaan nya kini benar-benar malu di hadapan Bunda Jihan. Ia menunduk dengan mata yang berkaca-kaca, mungkin ia tengah berusaha menahan air mata yang akan jatuh. Rasanya ia tahu jika Bunda Jihan sangat tidak menyukai dirinya, entah takdir apa yang ada pada dirinya. Namun, sampai disini nasib cintanya sangat tidak mulus.


"Bunda, Sandy mau mengenalkan calon istri Sandy," kata Sandy menatap Rika.


Bunda Jihan tersenyum sinis, "Siapa nama mu?" tanya Bunda Jihan.


Rika perlahan menatap Bunda Jihan, "Rika Tante," jawab Rika dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa kau juga sudah hamil?" tanya Bunda Jihan ketus.


Deg.


Air mata Rika langsung jatuh, entah mengapa ia sangat tidak mengerti mengapa Bunda Jihan terlihat tidak menyukai dirinya.


"Kalau memang kau sudah hamil menikah saja, saya tidak perduli!" Bunda Jihan langsung berdiri dan ia ingin pergi.


"Bunda," Sandy berusaha menghentikan langkah kaki Bunda Jihan, "Bunda jangan begini, Rika tidak sama seperti wanita-wanita yang sebelumnya Sandy bawa," kata Sandy dengan perasaan bersalah, "Sandy tahu Bunda sudah muak pada Sandy yang selama ini terus bergonta-ganti wanita, tapi kali ini Sandy serius Bunda," lirih Sandy.


Bunda Jihan masih berdiri. Namun, ia beralih melihat Rika, "Kenapa kau mau dengan Sandy, kalau kau wanita baik-baik sepertinya kau salah memilih anak ku. Karena hidup mu tidak akan bahagia, sebaiknya kau cari laki-laki yang bertanggungjawab. Bukan Sandy," jelas Bunda Jihan.


Rika mengangguk, "Maaf Tante, kalau memang menurut Tante saya tidak pantas dengan Mas Sandy," Rika berdiri dan ia melihat Sandy, kemudian ia kembali melihat Bunda Jihan, "Saya tidak akan berhubungan lagi dengan Mas Sandy, karena restu orang tua adalah doa. Dan Saya tidak mau memaksanya, karena hubungan tanpa restu orang tua tidak akan pernah bahagia, Rika permisi Tante," Rika mengambil tas tangan miliknya, ia mendekati Bunda Jihan dan mencium punggung tangan nya, "Saya pamit Tante, sekali lagi saya minta maaf karena sudah bertamu ke rumah ini sampai Tante tidak nyaman," setelah mengatakan itu Rika langsung keluar.


Langkah kaki Rika terasa begitu berat, seiringan dengan hujan yang mulai turun dengan derasnya. Tangannya mencengkram erat tali tas milik nya, di tengah guyuran hujan Rika menitihkan air mata yang begitu menyayat hati. Kaki Rika terus berjalan di sisi jalanan, menyusuri jalanan yang basah karena hujan yang semakin derasnya, "Ternyata cinta pertama tidak seindah yang aku bayangkan," kata Rika dengan penuh luka, mungkin saja ia akan melupakan Sandy untuk selama-lamanya.


*


Jangan bosan baca novel aku ya teman-teman, selamat membaca.