Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Sesal


"Ini pasien yang di rawat tadi malam kan sus?" tanya Dokter Anggia, merasa wanita yang tengah berbaring di atas ranjang rumah sakit cukup mirip dengan wanita yang ia tangani kemarin hari.


"Iya Dok, tapi tadi pagi Dia memaksa pulang," jawab suster.


Adam mendengar dengan jelas pembicaraan antara Suster dan Dokter, akan tetapi Ia masih merasa bingung.


"Dok, maksudnya bagaimana?" tanya Dimas dengan perasaan tidak karuan.


Dokter Anggia beralih menatap Dimas, "Kemarin pasien ini di larikan ke rumah sakit ini juga, Dokter Sandy yang membawanya, semalam juga pasien berada di sini. Tapi pagi tadi pasien ini memaksa pulang," jelas Dokter Anggia.


Semalam Lala berada di rumah sakit? Dimas mengingat saat orang suruhan nya ingin memberitahukan tentang Lala. Akan tetapi Dimas menolak mendengar penjelasan orang suruhannya, padahal keadaan Lala tidak baik-baik saja.


"Anda?" Tanya Dokter Anggia menatap Dimas dengan bingung.


"Saya suaminya Dok, dan tidak tahu tentang istri saya yang semalam berada di sini."


Dokter Anggia mengangguk, "Kalau begitu saya bertemu dengan orang yang saya cari."


Dimas langsung menatap Dokter Anggia bingung, kata-kata Dokter Anggia terdengar begitu serius.


"Pasien sedang mengandung 4 Minggu, bahkan kemarin pasien mengatakan sudah berhari-hari masih datang bulan. Padahal sebenarnya itu bukan datang bulan, tapi pendarahan. Sampai kami menemukan zat kimia yang cukup berbahaya bagi janin pasien, kemungkinan hanya ada dua. Jika janinnya masih berkembang, maka kami tidak perlu melakukan operasi. Tapi kalau ternyata janinnya tidak berkembang, maka dengan terpaksa kami harus mengangkatnya agar tidak berbahaya juga untuk Ibu nya," jelas Dokter Anggia dengan panjang lebar,bahkan dengan jelas.


Lutut Dimas terasa lemah, hatinya terasa sakit saat mengetahui keadaan Lala. Selama berhari-hari Lala pendarahan, menelan obat penenang yang sudah lama tidak di gunakan lagi.


Dimas duduk di atas sofa, menatap Lala yang masih belum juga sadarkan diri. Padahal Lala sudah cukup lama berbaring dengan mata yang tertutup, perasaan takut semakin terasa di hati Dimas.


"Kalau sampai Lala dan janinnya kenapa-kenapa kau yang harus bertanggung jawab!" ancam Mama Yeni penuh kemarahan.


"Lala, bangun dong," Rika juga merasa kesal pada dirinya, ini semua terjadi karena Lala menolong dirinya.


Kelopak mata Lala mulai bergerak, sesaat kemudian matanya terbuka dan melihat langit-langit ruangan.


"Lala kamu udah sadar?" Rika langsung memeluk Lala, sedikit merasa lega karena Lala mulai membuka matanya.


"Lala, kenapa kamu tidak bilang ke Mama kalau semalam kamu menginap di rumah sakit ini?" tanya Mama Yeni yang tidak kalah panik.


Lala kembali menutup mata, merasa lebih nyaman.


"Lala," Rika menggerakkan tubuh Lala, rasanya sangat takut sekali saat Lala kembali menutup matanya.


Melihat Rika yang panik, Dimas segera bangun dari duduknya langsung berjalan kearah Lala.


"Sayang," lirih Dimas dengan perasaan takut.


Perlahan mata Lala kembali terbuka, tersenyum pada Dimas yang kembali memanggilnya dengan panggilan yang sangat di sukai Lala.


"Aku takut," Dimas langsung memeluk Lala yang masih terbaring, meluapkan rasa kesal pada dirinya sendiri.


Berusaha menjauhi Lala ternyata bukan hanya menyakiti dirinya sendiri, tetap juga Lala yang ikut tersakiti. Bahkan janin yang tak bersalah ikut tersiksa karena masalah kedua orang tuanya.


"Aku enggak papa," jawab Lala dengan suara lemahnya.


Sandy mendengar jika Lala kembali di larikan ke rumah sakit, dengan cepat ia segera menuju ruangan tepat Lala di rawat. Awalnya Sandy ingin langsung masuk, akan tetapi matanya melihat Dimas dari kata transparan pada pintu. Dengan cepat Sandy kembali mengurungkan niatnya, tetapi Sandy merasa lega sebab ada Dimas yang kini menjaga Lala. Apa lagi mengingat kejadian pagi tadi, Sandy merasa penasaran siapa pria yang berusaha membawa Lala pergi.


"Sandy," Lala melihat Sandy yang menatapnya dari kaca.


"Apa Sandy kemarin membawa ku kesini?"


"Iya, semalam juga aku merasa bersyukur karena ada Sandy yang menunggu ku," jelas Lala.


Degh!


Rasanya begitu banyak kejutan, bahkan hal di luar dugaan Dimas. Dengan sadar atau tidak tapi kata-kata Lala barusan seakan menyudutkan dirinya.


"Dasar suami tidak berguna!" geram Mama Yeni.


Dimas menarik napas panjang, membenarkan apa yang dikatakan oleh Mamanya.


"Tolong maafkan aku," lirih Dimas dengan rasa sesal.


"Enggak papa kok Aa, Lala baik-baik saja. Tapi kalau Aa mau cerai sama Lala enggak papa, Lala enggak mau bikin Aa kesel terus," ujar Lala dengan suara lemahnya, Ia berusaha menerima keadaan. Walaupun nantinya Dimas mungkin meninggalkan dirinya.


"Kalau kalian berpisah, Dimas yang harus keluar dari rumah!" ancam Mama Yeni.


Dimas terperangah saat mendengar kalimat ancaman yang di lontarkan oleh Mama Yeni, bahkan seakan Dimas bukan siapa-siapa.


"Kalau mau berdebat jangan di sini!" timpal Rika, kesal pada Mama Yeni dan juga Dimas.


"Sayang, aku tidak mau berpisah. Aku mencintai mu," Dimas menggenggam erat jemari Lala, meyakinkannya agar tetap yakin akan perasaan cintanya.


Lala mengangguk lega, merasa keadaan mulai membaik.


"Hueekkkk....." Lala kembali muntah, bahkan tanpa sengaja langsung mengenai kemeja Dimas, "Hueekkkk...." Lala berusaha untuk turun dari atas ranjang, lalu masuk kedalam kamar mandi. Tetapi tubuh lemahnya masih sulit untuk bergerak.


"Sayang, jangan turun," tangan Dimas cepat-cepat menahan tubuh Lala, takut jika Lala terjatuh.


"Aa, maaf ya. Lala mual banget," kata Lala dengan rasa bersalah.


Dimas tersenyum lembut, kemudian mengecup kening Lala.


Setelah mengganti pakaian Lala karena muntahan, Dimas juga kini beralih mengganti pakaiannya.


"Rika tolong belikn makanan, di restoran depan rumah sakit."


Rika keluar dari ruang rawat, lalu memasuki lift. Akan tetapi karena hanya fokus pada gawainya tidak menyadari siapa yang kini orang yang berada di dalam lift. Tiba-tiba lift berhenti, tubuh Rika tanpa sengaja tersentak kebelakang. Tetapi ada tangan yang menahan tubuhnya.


Dengan cepat Rika kembali berdiri tegak, melepas dirinya dari pegangan pria tersebut, "Terima kasih," ucap Rika sambil mendongkak menatap Sandy.


Degh!


"Mas Sandy?" Rika terkejut melihat orang yang ada di sampingnya, bahkan mereka hanya berdua saja.


Sandy mengangguk, wajah nya terlihat datar tidak sama seperti biasanya. Saat pintu lift terbuka Sandy keluar tanpa satu patah kata pun. Tidak seperti biasanya, jika bertemu Rika. Semua sudah mulai berubah.


Rika juga keluar dari lift, menatap punggung Sandy yang mulai menghilang di telan kejauhan. Ada pertanyaan yang banyak tanpa bisa di hilangkan.


"Mas Sandy kok jadi dingin begitu ya?"


"Kenapa dia seakan tidak mengenal ku?"