Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 113


Lala dan Dimas sudah kembali ke rumah setelah melihat keadaan Sandy hari ini.


Sudah dua hari Sandy berada di rumah sakit tetapi Rika tidak lagi pergi menjenguk membuat Dimas merasa geram mengingat Rika sekarang masih bernapas dengan baik karena Sandy.


"Rika di mana Ma?"


"Di kamarnya, gimana keadaan Sandy sekarang?"


Dimas tidak menjawab kakinya segera menaiki anak tangga dan menuju kamar Rika.


Setelah pintu kamar terbuka Dimas melihat Rika berbaring santai sambil menonton televisi yang menyala, kaki Dimas perlahan masuk dan mematikan televisi.


Rika tersentak setelah menyadari bahwa Dimas yang mematikan televisi, padahal ia tengah asik menonton.


"Kak Dimas!" Pekik Rika.


"Kau jangan jadi manusia yang tidak tahu terima kasih!" Ujar Dimas dengan menahan kemarahannya.


Rika seketika bingung, ia menatap Dimas penuh tanya.


"Kakak mengigau ya?"


Dimas mengambil bantal dan melemparnya tepat mengenai wajah Rika.


"Apasih!" Kesal Rika.


"Selama Sandy belum sembuh kau berkewajiban merawatnya sampai sembuh, kau bertanggung jawab dalam mengurus nya. Ingat kau punya hutang nyawa padanya!" Papar Dimas.


Seketika Rika semakin terkejut mendengar kata-kata Dimas.


"Memangnya di ijinkan?"


Siapa yang tidak mau merawat orang yang di cintai nya begitupun dengan Rika, tentu saja Rika mau merawat Sandy yang telah menolongnya.


Tetapi ada rasa takut di hati Rika, karena sebelumnya Dimas menentang keras hubungannya. Sehingga ia lebih memilih menurut tidak ingin ada ketegangan lagi.


"Cepat ganti pakaian mu, lalu ke rumah sakit. Sebelum Sandy sembuh kau setiap pagi di antar supir untuk merawat Sandy, dan pulang sore hari juga di jemput supir!" Titah Dimas tanpa bisa di bantah.


"Iya!" Pekik Rika.


Rika segera membersihkan diri setelah Dimas keluar dari kamarnya, dan bersiap-siap untuk menjadi perawat dadakan untuk Sandy.


Rika bahagia bisa diberikan ijin oleh Dimas, walaupun begitu Rika tidak akan gila seperti dulu. Rika kini lebih menjaga diri karena itu merupakan kehormatan untuk Dimas.


Menuruni anak tangga dan segera menuju dapur, Rika yakin siang ini Mama Yeni tengah berada di dapur mempersiapkan makanan untuk berbuka puasa.


"Ma, Rika ke rumah sakit ya," kata Rika meminta ijin.


"Kamu bawa makan ini, Mama nitip salam sama Sandy," tangan Mana Yeni memberikan rantang pada Rika.


"Iya Ma, Assalamualaikum."


"Waalaikumusalam."


***


Setelah dua hari tidak menjenguk Sandy Rika merasa bersalah, awalnya sempat berpikir jika Dimas pasti marah jika terlalu sering mengunjungi Sandy.


Tapi tidak, hari ini bahkan Dimas sendiri yang memintanya dan Rika pun merasa bahagia, sambil memasuki kawasan rumah sakit bibirnya terus mengukir senyuman.


"Assalamualaikum."


Tangan Rika bergerak mendorong pintu, matanya menatap Bunda Jihan yang tengah duduk di sofa, sedangkan Sandy berbaring di atas ranjang.


"Baiklah, karena kamu sudah datang Bunda pulang ya. Bunda pusing sepertinya tekanan darah tinggi Bunda sedang naik," jelas Bunda Jihan sambil berdiri lalu menyambar tas tangan yang tergeletak asal di sofa.


"Bunda pulang?"


Rika terkejut mengapa semua orang mendadak aneh pikirnya lalu menatap Sandy yang hanya diam tanpa kata.


"Iya, tadi Bunda di telpon Dimas. Dia bilang kamu yang bertanggung jawab untuk merawat sampai Sandy sembuh dan Bunda pulang dulu," Bunda Jihan tersenyum lembut lalu segera keluar, ia akan pulang ke rumah untuk beristirahat kehadiran Rika sungguh menolong dirinya.


Rika menatap pintu yang sudah tertutup kembali, lalu meletakkan rantang di tangannya pada meja nakas.


"Apa kabar Mas?" Tanya Rika dengan suara pelan.


Sandy hanya diam sambil menatap wanita yang sangat di cintai nya, dua hari tidak melihat senyumnya seakan membuat rasa rindu yang begitu dalam.


"Mas!!" Rika kembali memanggil Sandy yang hanya diam saja menatap dirinya dengan wajah datar.


Apa yang bisa di katakan oleh nya, rindu dan ingin sedikit pelukan hangat dari Rika. Tetapi apakah bisa?


"Apa?" Jawab Sandy.


"Kok diam saja?" Tanya Rika dengan sedikit canggung.


Sandy kembali diam hanya ingin menatap wajah Rika tanpa jeda, wajah itu sangat di rindukan dengan sedalam nya perasaan.


"Mas," Rika duduk di kursi berdekatan dengan ranjang Sandy.


Sandy masih lagi-lagi diam hingga membuat Rika bingung.


"Rika pulang ya, Mas enggak suka juga sama Rika," Rika mengerucutkan bibirnya dan segera berdiri.


Tangan Sandy menggapai tangan Rika.


Rika urung pergi setelah merasa ada yang memegang tangan nya.


Rika melepaskan tangan Sandy lalu, duduk kembali sambil menatap Sandy.


"Mas?" Tanya Rika frustasi melihat Sandy Sanja diam saja.


Sandy menarik napas panjang, "Kemana saja?"


Rika tahu maksud dari pertanyaan Sandy tetapi tentu tidak perlu bertanya karena pasti sudah tahu alasannya apa.


"Rika di rumah, takut Kak Dimas marah kalau terus-terusan nemuin Mas," jelas Rika.


"Pembohong!" Sandy menyentil hidung Rika.


"Mas apa sih?! Sakit banget deh!" Rika menunjukkan wajah masam sambil menggosok bagian hidungnya.


"Memangnya tidak khawatir dengan Mas di sini?"


Rika ingin sekali mencongkel kedua bola mata Sandy, sudah tahu cintanya sebesar apa tetapi masih saja seperti orang bodoh.


"Mas maunya apasih?! Kalau enggak suka Rika di sini mending Rika pulang!" Ancam Rika.


"Jangan dong," Sandy tersenyum melihat wajah jutek Rika, "Mas kangen banget," kata Sandy lagi, "kamu enggak kangen sama Mas?"


"Enggak!"


"Ya udah lah, sana pulang!"


"Iya!"


"Hey mau kemana?" Sandy cepat-cepat bangun dan berusaha menggapai tangan Rika, tetapi sulit karena Rika sudah cukup jauh, "Aaakh!!!" Sandy mendadak meringis merasa sakit pada bagian perutnya.


Rika kembali berbalik dan menatap Sandy dengan khawatir, "Mas."


"Tapi boong!" Sandy tersenyum dan merasa puas mengerjai Rika.


"Mas!!!!"


"Apa sayang?!"


Wajah Rika seketika memerah panggilan itu sudah lama sekali tidak di dengar oleh nya dan kali ini Sandy memanggil nya dengan sayang.


Ingin rasanya terbang ke langit menikmati indahnya awan dengan AC besar yang bisa menyegarkan pikiran.


"Mas ish!!!"


Rasanya itu seperti di remas-remas di tusuk-tusuk dengan cinta, di siram dengan air embun yang dingin lalu dihangatkan dengan cinta.


Pertama kali jatuh cinta tidak ada bandingannya, walaupun hanya sekedar bertutur sapa menyambut dalam doa. Tetapi, tak bisa tidur juga, bukan karena sakit atau hal buruk lainnya.


Alasannya adalah karena jatuh cinta dan bisa membuat orang waras sekalipun menjadi gila.


"Pipinya kok merah begini?"


"Mana ada!"


"Ada!"


"Enggak ada!" Pekik Rika.


"Suuut!" Sandy berdesis mengingatkan mereka sedang di rumah sakit, "Nikah yuk, biar bisa ngaterin Mas ke kamar mandi," seloroh Sandy.


"Mas....." Rika langsung duduk di lantai karena tidak sanggup lagi mendapatkan godaan dari Sandy.


Sandy tertawa geli melihat tingkah Rika, anak ABG yang tengah menahan rasa malu karena godaan pria dewasa.