Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Berdebar


"Lala!!!"


Rika terus mencoba untuk mengetuk pintu kamar mandi, karena Lala belum juga keluar.


"Bentar ya, aku enggak papa!!!" jawab Lala setengah berteriak dari dalam sana agar Rika mendengar.


"O syukur kalau kamu enggak papa," Rika merasa lega karena Lala menjawab pertanyaan nya, "Lala enggak papa Ma," kata Rika pada Yeni.


"Ya udah, kamu tungguin ya. Mama mau masak dulu," pamit Yeni lalu pergi.


Rika berdiri mondar-mandir di depan pintu kamar mandi, karena sudah beberapa menit berlalu tapi Lala belum juga keluar.


"La, kamu serius enggak papa?" seru Rika.


"Iya," jawab Lala.


"Kenapa?"


Terdengar suara Dimas yang kini ternyata berdiri di depan pintu, dan Rika langsung melihat kearah Dimas.


"Caelah Kak, tumben lu balik, sekali balik juga langsung nongol aja kagak pakek salam juga," omel Rika.


"Brisik!" kesal Dimas.


Kedua adik Kakak itu memang selalu terlibat cekcok, tapi tetap saja mereka saling menyayangi.


"Lala mana?" tanya Dimas.


"Di kamar mandi, udah lama banget," jawab Rika menunjukkan pintu kamar mandi yang tertutup.


Dimas berjalan ke arah pintu kamar mandi, dan tangannya bergerak memegang gagang pintu.


"Kakak ngapain? Bukan muhrim. Jangan masuk!" kata Rika memberikan peringatan.


Clek.


Dimas langsung saja membuka pintu yang ternyata tidak terkunci, "Enggak di kunci," kata Dimas.


"Iya memang," kesal Rika.


Dimas terkejut saat melihat Lala yang duduk di lantai, dengan cepat ia langsung masuk.


"Lala!!!" Rika juga panik saat melihat Lala yang duduk di lantai.


Dengan cepat Dimas langsung berjongkok dan ingin mengangkat tubuh Lala.


"Bapak mau ngapain?" tanya Lala dengan wajah pucat nya.


"Mengangkat mu," jawab Dimas, dan ia mencoba lagi untuk mengangkat tubuh Lala.


"Enggak usah Pak, saya bisa sendiri," kata Lala lagi-lagi menolak.


"Bisa bagaimana? Wajah mu saja pucat sekali," Dimas tidak lagi mendengar penolakan yang di ucapkan oleh Lala, dengan cepat ia langsung mengangkat tubuh mungil Lala dan membaringkan di ranjang.


Lala tidak lagi berbicara, hanya diam saja. Menolak pun percuma saja. Sebab tubuhnya kini sudah melayang karena di angkat oleh Dimas.


Perlahan Dimas membaringkan tubuh Lala di atas ranjang, hingga tubuh Dimas condong pada Lala. Namun tanpa sengaja tatapan keduanya bertemu. Dimas merasa ada getaran aneh di sana, rasanya ia sangat betah dengan posisi nya yang begitu dekat dengan Lala.


Lala yang sadar dengan tatapan Dimas langsung membuang pandangannya, ia kini melihat kearah lain dan tidak ingin menatap manik mata Dimas yang membuatnya semakin terluka. Bahkan membuatnya semakin tersiksa karena cinta yang tidak akan pernah bisa terbalaskan, Lala benar-benar ingin menjaga hati agar tidak merasakan sakit. Lala sadar sekuat apapun ia memaksa Dimas tidak akan pernah bisa menerima dirinya, apa lagi kini Lala merasa sudah tidak pantas bersanding dengan Dimas pria yang sangat ia cintai.


"Kenapa jantungku berdebar begini?" batin Dimas.


"Kak Dimas!" Rika menepuk pundak Dimas, hingga Dimas tersadar dan mulai menjauh.


Dimas mengusap wajah nya, karena ia ingin tersadar dari lamunannya. Tapi ada perasaan tidak ingin jauh dari Lala, wangi tubuh Lala seakan membuat Dimas merasa nyaman.


"Aku kenapa?" tanya Dimas membatin.


"Dasar aneh!" gerutu Rika.


"Kenapa duduk di lantai, apa kau baik-baik saja?!" tanya Dimas sedikit panik.


"Baju mu juga basah, ayo ganti. Tadi aku belikan beberapa pakaian untuk mu," Dimas menunjukan beberapa paperbag yang ia letakkan pada sofa, "Sini biarkan saya bantu," kata Dimas sambil tangannya ingin membuka kancing piama tidur milik Rika yang dipakai Lala saat ini.


Lala cepat-cepat memegang bajunya, sebab tidak mungkin sekali jika Dimas yang menggantikan bajunya. Lala sadar ia tidak lagi suci, tapi bukan berarti Dimas bisa melakukan itu padanya.


"Kenapa?"


Dimas sepertinya bingung dan belum sadar atas apa yang baru saja ia lakukan.


Lala menatap Rika, sebab mungkin Rika bisa menjelaskan sedikit pada Dimas.


"Kakak gimana sih? Lala enggak mau lah Kakak yang gantiin piyamanya."


"Kenapa?" tanya Dimas dengan bodohnya.


"Kalian itu bukan muhrim," jelas Lala, dengan kesal.


Dimas menggaruk kepalanya, dan baru tersadar dengan maksud Lala tadi mengapa memegang piyamanya dengan erat


"Kakak keluar dulu!"


Dengan berat hati Dimas keluar dari kamar, tapi ia tidak pergi dari sana. Ia berdiri di depan pintu dan menunggu sampai Lala selesai berganti pakaian.


"Ayo aku bantu ya," Rika mengambil sebuah piyama berlengan pendek dari dalam paperbag yang tadi di bawa Dimas, ia mulai membantu Lala untuk mengganti pakaiannya. Bibir Rika bergetar, air matanya menetes melihat tubuh Lala di penuhi dengan memar.


"Rika?" Lala yang merasa Rika begitu lama memasang bajunya mulai melirik kebelakang.


Rika dengan cepat mengusap air matanya, kemudian ia tersenyum pada Lala. Sebab ia harus memberi semangat pada Lala, walaupun hatinya sangat sakit melihat penderitaan Lala.


"Selesai," Rika tersenyum setelah ia selesai memakaikan piyama untuk Lala.


Clek


Pintu kembali terbuka, dan Dimas kembali masuk.


"Kak, kalau mau masuk pintunya di ketuk dulu. Untung Lala udah siap ganti baju, coba kalau belum," omel Rika.


Dimas tidak perduli dengan Omelan Rika, ia mengambil bubur yang tadi di buatkan Yeni, "Ayo makan dulu, kau belum minum obat," kata Dimas sambil menyendok buburnya.


Lala diam saja sambil menatap buburnya, dan ia sama sekali tidak membuka mulutnya.


"Ayo makan," kata Dimas lagi. Sebab ia sengaja pulang kerumah dan meninggalkan sejenak pekerjaan nya di kantor, hanya untuk melihat keadaan Lala.


Lala masih diam dan mempertimbangkan nya, hingga akhirnya tangannya bergerak dan mengambil piring bubur dari tangan Dimas. Tidak lupa Ia juga mengambil sendok nya.


"Saya makan sendiri saja Pak," kata Lala.


Lala benar-benar tidak ingin lebih dalam lagi mencintai Dimas, sebab itu ia ingin menciptakan jarak diantara mereka. Sebab Lala masih terlalu terluka dengan cintanya yang tidak juga terbalaskan.


"Yaudah aku aja yang suapin," Rika kini mengambil alih bubur dan sendok yang di pegang Lala, "Aku yang suapin, dan buka mulutnya," pinta Rika


Lala tidak menolak, ia membuka mulutnya dan mulai memakan bubur yang di suapi oleh Rika.


"Udah ya Rika, aku udah kenyang," kata Lala setelah memakan beberapa sendok bubur.


Tok tok tok.


Terdengar suara ketukan pintu, padahal pintu terbuka tapi pria lebih memilih untuk mengetuk pintu.


Dimas, Rika, dan langsung melihat kearah pintu. Di mana ada seorang pria di sana, dia adalah satpam.


"Ada apa?" tanya Dimas.


"Bos ada tuan Dimitri," kata satpam tersebut.


"Iya," jawab Dimas.


"Permisi."