Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 125


Hay pembaca tercinta Author Munthe, tolong like dan Vote. Ya.


***


Rika terus saja menangis tanpa henti, merasa tidak melakukan apa-apa seperti apa yang kini di tuduhkan padanya.


Bahkan Dimas sudah memutuskan untuk menikahkan dirinya dengan Sandy, bukan Rika tidak mau. Justru Rika sangat mencintai Sandy.


Akan tetapi, bukan pernikahan seperti ini yang di inginkan nya.


Rika ingin di nikahi dengan baik-baik, di pinang, hingga membuat resepsi sederhana tetapi berkesan.


Tapi itu semua tampaknya harus di kubur dalam-dalam, mimpi menjadi putri dalam sehari saja kini terasa mustahil.


"Rika keluar yuk," Lala dan Mentari menjemput Rika kedalam kamar.


Rika hanya duduk di atas ranjang, tanpa ingin mengikuti ke-dua sahabat nya.


"Rika," Mentari mendekati Rika, mencoba menyadarkan Rika dari lamunannya.


"Aku enggak ngelakuin itu Tar, aku enggak mau," lirih Rika dengan penuh air mata.


Lala mengerti dengan perasaan sahabatnya, tapi apa yang bisa ia lakukan.


"Kita, keluar dulu. Sampai di ruang keluarga kita bicarakan semuanya ya," pinta Lala.


Rika mengangguk setuju, bagaimana pun semua harus di luruskan.


Cinta memang ada, itu tidak salah tetapi, Rika tidak ingin menikah karena keadaan.


***


Di ruang keluarga semua sudah menunggu kedatangan Rika, termasuk Bunda Jihan dan juga Sandy.


Rika langsung memeluk kaki Dimas, memohon agar tidak terjadi pernikahan ini.


Menangis sejadi-jadinya memohon ampun pada Dimas karena sudah melakukan kesalaha, akan tetapi ia tidak merasa melakukan hal menjijikan itu.


Sehingga Rika tidak ingin menikah dengan Sandy.


"Kak, Rika enggak ngelakuin apa-apa, tolong Kak, Rika enggak mau nikah sama Mas Sandy," lirih Rika.


Degh!


Jantung Sandy shock mendengar permintaan Rika, apa tidak ada rasa cinta untuk dirinya sehingga kata-kata itu keluar dari mulutnya.


Bukan hanya Sandy yang terperangah tetapi, semuanya menatap bingung dan penuh tanya.


"Apa kau tidak mencintai Sandy?" Tanya Dimas. sambil matanya mengarah pada Sandy.


"Rika cinta sama Mas Sandy tapi, Rika enggak mau nikah dengan cara begini. Rika enggak ngelakuin itu Kak," jelas Rika lagi tersedu-sedu.


Dimas tidak tahu apa yang harus dilakukan nya, sejenak ada rasa bimbang untuk menikahkan Sandy dan Rika malam ini.


Bagaimana pun kebahagiaan Rika adalah segalanya.


"Kalian harus menikah malam ini juga, hari-hari mu bersama Sandy, kalian semakin hari semakin dekat, bahkan kamu merawat Sandy di dalam kamar nya," papar Dimas.


"Rika enggak mau menikah begini! Rika cinta sama Mas Sandy tapi caranya enggak begini!" Jawab Rika lagi.


"Kau yakin tidak ingin menikah dengan Sandy?"


"Iya," jawab Rika dengan pasti, "Rika enggak pernah lakuin itu, kenapa harus menikah!" Tegas Rika.


Sandy hanya diam, mengusap wajahnya sampai beberapa kali. Ada rasa kecewa dengan jawaban Rika.


Sedangkan Dimas tidak mengerti harus bagaimana, di satu sisi Sandy sudah menjadi penyelamat adiknya dan Dimas pun sudah memberikan adiknya untuk Sandy dengan cara menikahkan keduanya.


"Tidak bisa, Mama katakan kau harus menikah dengan Sandy. Mama tidak mau kalian berduan terus tanpa ikatan pernikahan!" Timpal Mama Yeni.


Keputusan sudah bulat, menikahkan Rika dan Sandy tidak bisa lagi ditawar.


"Rika, kau tidak memikirkan diri mu?" Tanya Sandy, kali ini Sandy bersuara tidak ingin Rika menjadi milik orang lain.


"Mas, kita enggak ngelakuin apa-apa kan? Jelasin!" Pinta Rika memohon pada Sandy.


"Tidak!" Jawab Sandy.


Rika mengusap air mata, merasa Sandy kini sudah menjelaskan segalanya.


"Dari sejak di Bali kita sudah berduaan di dalam kamar, bahkan-" Sandy tidak ingin menjelaskan lebih detail, mengingat ada Mama Yeni dan Bunda Jihan.


Melakukan hubungan suami istri, selebihnya Sandy sudah merasakan saat dulu Dimas tidak merestui hubungan mereka dan saat ini Sandy mengatakan jika mereka sudah melakukan hal terlarang.


"Mas," Rika menggeleng sambil menangis.


"Cukup!" Sergah Dimas.


Rika seketika terdiam, menunduk dengan rasa kesal.


"Keputusan sudah tepat, kalian akan menikah! Selebihnya terserah pada kalian!" Tegas Dimas.


Setelah menghadiri beberapa saksi pernikahan segera di lakukan, menikah dengan seadanya.


Walaupun begitu Bunda Jihan memberikan berupa cincin berlian yang paling di sukai nya sebagai mahar Rika.


Merasa seorang wanita harus di hargai membuatnya begitu menyayangi Rika, ia juga tidak sabar Rika menjadi menantunya mengingat setelah kehadiran Rika tidak lagi pernah Bunda Jihan merasa kesepian.


"Saya terima nikahnya dengan mahar tersebut tunai!"


Sah sah sah.


Setelah pernikahan selesai akhir Rika dan Sandy sudah resmi menjadi pasangan suami-istri, sekalipun Rika terus saja menangis tanpa hentinya.


"Rika ayo cium tangan suami mu," pinta Mama Yeni.


Rasanya Rika ingin mati saja sulit sekali menerima pernikahan dengan cara begini.


Dengan terpaksa Rika mencium punggung tangan Sandy, sekalipun ingin sekali mencekik leher Sandy saat ini.


Setelah selesai menyandang status istri Rika segera masuk kedalam kamar, tanpa perduli pada yang lainnya.


Termasuk Sandy.


"Kamu menyesal Sandy?" Mana Yeni tersenyum lembut pada menantu laki-laki nya, "inilah penyebabnya Mama tidak mengijinkan Rika menikah di usia muda, dia masih labil."


Sandy terdiam tanpa penyesalan.


Flashback on.


Beberapa saat sebelum pernikahan berlangsung, sebelum Rika keluar dari kamar nya Sandy sudah terlebih dahulu berbicara dengan keluarga lainnya.


"Aku tidak yakin, kau dan adik ku melakukan nya siang tadi!" Ujar Dimas dengan wajah dinginnya.


Sandy mengangguk, "Aku mohon Dimas, aku sangat mencintai nya, aku takut kehilangan nya. Tolong mengerti dengan perasaan ku," pinta Sandy.


Seketika semua bernafas lega, karena ternyata tidak ada yang terjadi antara Sandy dan Rika.


"Siang tadi aku memang sengaja melakukannya, karena aku tahu kau akan datang dan tidak mungkin kau tidak menemui ku, aku yang meminta Rika beristirahat di kamar ku sedangkan aku tidak akan masuk, aku mohon Dimas. Aku takut kehilangan nya," pinta Sandy.


"Tapi, tidak begini caranya," Dimas mendesus karena galau.


"Sandy, tunggu setelah lebaran saja," kali ini Mama Yeni mengusulkan.


"Ma, aku tidak bisa, aku mohon," Sandy rasa itu sudah kata-kata terakhir mewakili dari setiap keinginan nya.


Hasrat yang tertahan semakin tidak terkendalikan, sedangkan keduanya terus berdua saja.


Jangankan dalam keadaan berdua hanya bercanda, ketika mendengar namanya saja sudah tidak dapat lagi mengendalikan diri.


Sandy hanya berusaha untuk mencari aman, memeluk Rika dalam keadaan halal. Mengecup dahi nya tampa ada rasa was-was.


"Dia masih kecil Sandy, masih sangat muda, apa kau yakin?" Mama Yeni mulai mengutarakan kegundahan nya.


"Dia juga masih labil Sandy," Dimas terus mengingatkan seperti apa adiknya.


"Aku mohon, apa saja akan aku lakukan asal memilikinya."


Mama Yeni menatap Dimas, begitu juga sebaliknya saat Mama Yeni mengangguk Dimas merasa memiliki jawaban.


"Baiklah, tapi bagaimana kalau dia tidak mau?" Tanya Dimas.


"Aku mohon Dimas," pinta Sandy lagi.


Dimas mengangguk mengerti dengan perasaan Sandy, mengingat ia juga pernah berada dalam posisi Sandy. Mencintai dan ingin memiliki secepat mungkin, apa lagi Sandy sangat mencintai Rika.


"Lala panggil Rika, dia akan menikah malam ini."


Flashback off.